Author: Elinus Waruwu
•Kamis, Juli 30, 2009

Oleh: NOFEWATI LIA, S.Pd.

"Guru yang baik terus berupaya menimba pengalaman. Dan pengalaman itu adalah guru terbaik."

Barangkali latar belakang pernyataan itulah kiranya, banyak guru di bawah binaan DBE 2 Kota Sibolga, termotivasi membuat alat peraga murah dengan tujuan perbaikan pembelajaran. Singkatnya, ide mencipta alat peraga murah yang dipaparkan lewat tulisan ini, berawal dari binaan DBE 2 Kota Sibolga dalam upaya menciptakan alat peraga murah, aman, nyaman dan menyenangkan.

Maka dari hasil penilaian Dewan Juri Tim DBE 2 Kota Sibolga, alat peraga murah dengan judul ”Ulat Pembelajaran” karya penulis sendiri, Nofewati Laia, S.Pd. telah dinilai dan ditetapkan sebagai peringkat 6 dari 19 orang guru binaan DBE 2 yang mengikuti lomba mencipta alat peraga. Hadiah berupa piala, piagam, dan uang 100 ribu rupiah telah penulis terima langsung dan diserahkan Bapak Kepala Dinas Pendidikan Drs. Rustam Manalu (Sabtu, 1 Agustus 2009).


Bahan, Alat, Cara Pembuatan, dan Penggunaan

Melalui tulisan berikut, penulis ingin membagi pengalaman dalam menciptakan alat peraga murah (APM) itu buat rekan-rekan guru SD, khususnya inovasi baru pada pembelajaran bahasa Indonesia dan matematika di kelas awal (rendah). Sekali lagi, alat peraga murah serba guna ”Ulat Pembelajaran” praktis dipergunakan di kelas awal karena cukup sederhana dan mudah untuk didapat.

Adapun bahan pembuatan alat peraga murah ”Ulat Pembelajaran” ini cukup 4 macam saja, yaitu 1).cangkang telur, 2).kertas karton/ kertas kilat, 3).lem, dan 4).tusuk gigi. Alat yang dipergunakan untuk membuat menjadi alat peraga yaitu pisau kertas dan gunting. Cara pembuatan APM ”Ulat Pembelajaran” cukup sederhana dan mudah, yaitu (1).potong cangkang telur dengan pisau/ gunting, (2).beri hiasan menarik dengan kertas berwarna, (3).bentuk menjadi ulat pembelajaran, (4).beri lubang tempat huruf dan angka, (5).pergunakan sesuai tingkat kemampuan/ kebutuhan level anak.

Cara penggunaan APM ”Ulat Pembelajaran” yang penulis programkan sendiri ini, diterapkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas I semester 1 dengan kompetensi dasar yakni mencontoh huruf, kata, kalimat sederhana dari buku atau papan tulis dengan baik dan benar, dengan materinya yakni penulisan huruf, kata, dan kalimat. Peserta didik diajak mengenal huruf dengan memasang huruf-huruf tersebut pada APM ”Ulat Pembelajaran”. Hal yang sama pada mata pelajaran matematika di kelas I semester 1 dengan kompetensi dasar menguraikan banyak benda pada materi operasi hitung bilang.

Tentu dalam hal PBM ini guru mempersiapkan peserta didik seperti bermain sambil belajar, sistem pakem harus berlangsung selama proses belajar mengajar, sehingga peserta didik merasa senang dan tidak sampai membosankan, peserta didik diupayakan terlibat langsung melaksanakan pembelajaran sesuai petunjuk. Contoh instrumen sederhana perintah dari guru, ”Anak-anak, siapa yang sudah mengenal huruf i ? Nah, ambil huruf i itu dan pasangkan di Ulat Pembelajaran kita!” Demikian seterusnya sampai terbentuk kata, misalnya kata ibu.

Guru dapat meminta peserta didik untuk mencari huruf atau angka yang sudah dikenal secara bergiliran. Kemudian, peserta didik diminta untuk memasang huruf/ angka tersebut pada alat ”Ulat Pembelajaran”. Nah ketika anak mampu dan bisa melakukannya sendiri, maka diberi motivasi berupa pujian, misalnya bertepuk tangan. Secara tidak sadar peserta didik digiring untuk lebih cepat memahami sekaligus mengenal dengan lebih cepat membaca, menulis, dan berhitung.

Alat peraga murah (APM) ”Ulat Pembelajaran” buatan guru sendiri pada pembelajaran bahasa Indonesia dan matematika yang inovatif, seperti dikemukakan dalam prinsip-prinsip metode belajar yang pakem dapat meningkatkan keterampilan anak-anak didik dalam pengembangan bakat dan kemampuannya. Baik mata pelajaran bahasa Indonesia juga matematika.

Penerapan APM ”Ulat Pembelajaran” dalam mengajar yang pakem, secara tidak langsung memberikan rasa percaya diri pada anak-didik dan membantu mereka berprestasi. Hemat penulis, APM “Ulat Pembelajaran” ini merupakan sebuah alat peraga soft skill (keterampilan hidup) yang perlu diterapkan oleh guru-guru dan dipraktekkan oleh setiap peserta didik dalam mempersiapkan diri menyongsong masa depan yang lebih baik dan cerah.

Penulis menyarankan kepada Pemerintah, Yayasan Pengelola Sekolah, secara khusus Gugus Binaan DBE 2 Kota Sibolga agar tetap mengadakan pusat-pusat pembinaan kepribadian guru, termasuk lomba membuat APM seperti telah kami ikuti ini. Dan pembinaan pendidikan sebaiknya terus menerus dilakukan. Guru perlu belajar menciptakan alat peraga baru, PTK, dan menguasai IPTEK. Penulis yakin melalui pembinaan pendidikan, kita telah turut mempersiapkan generasi yang akan datang (future generation) berperan aktif dan bertanggungjawab dalam masyarakat global, masyarakat pembelajar (learning society) abad 21 ini. Salam Pendidikan! *

This entry was posted on Kamis, Juli 30, 2009 and is filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: