Author: Elinus Waruwu
•Kamis, Oktober 27, 2011
Lomba Perpustakaan Tingkat Kota Sibolga SD RK No. 4,
SMP Fatima, dan SMA Katolik Sibolga Meraih Juara I


Pada lomba perpustakaan tingkat Kota Sibolga tahun 2011 ini tiga sekolah terbaik Kota Sibolga meraih Juara Pertama. Berdasarkan rekapitulasi hasil penilaian dari pengisian instrument dan hasil visitasi penilaian langsung oleh Tim Dewan Juri Independen ketiga sekolah terbaik itu ditetapkan sebagai pemenang lomba dalam hal pengelolaan terbaik. Penetapan pemenang lomba perpustakaan terbaik di tingkat SD, SMP, dan SMA se-Kota Sibolga itu tidak terlepas dari pembinaan yang telah diberikan oleh para Petugas Perpustakaan Pemko Sibolga. Dari tahun ke tahun terus melakukan pembenahan hingga bisa meraih yang terbaik demi mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya melalui sekolah-sekolah dalam menata dan mengelola pemanfaatan buku-buku perpustakaan yang nota bene sering mendapat sebutan gudang ilmu.

Pemberian penghargaan dan hadiah bagi sekolah yang meraih kejuaraan lomba perpustakaan itu, berlangsung hari Senin 17 Oktober 2011 di Gedung Perpustakaan Pemko Sibolga. Para Pemenang diundang dan masing-masing mendapat tropy serta untuk Juara I memperoleh uang Rp 1.500.000,00; Juara II Rp 1.250.000,00; Juara III Rp 1.000.000,00. Sedangkan Juara Harapan I menerima uang Rp 750.000,00; Juara Harapan II Rp 600.000,00 dan Juara Harapan III Rp 500.000,00.

Sebelumnya, Dewan Juri independen yang terdiri dari 3 orang yakni Rapidin Manalu, S.Pd, Ganda Asiroha Sitohang,S.Sos dan Mei Linda Sihotang,Amd menetapkan Juara I di tingkat Sekolah Dasar yakni SD RK No.4 Sibolga dengan nilai 2885, menyusul Juara II SD RK No.3 Sibolga yang memperoleh nilai 2795, Juara III SD RK No.1 Sibolga nilainya 2390. Sementara Juara Harapan I diraih oleh SD Negeri 085121 Sibolga dengan nilai 2255, Juara Harapan II jatuh kepada SD RK No.2 Sibolga bernilai 2185, serta Juara Harapan III dari SD Negeri 085120 Sibolga nilainya 2025. Dari informasi yang diperoleh jumlah sekolah yang masuk nominasi dalam mengikuti lomba perpustakaan di Tingkat Sekolah Dasar tahun 2011 ini sebanyak 27 sekolah.
Dewan Juri yang sama juga memberi penilaian objektif pada 10 sekolah tingkat lanjutan pertama (SLTP) yang masuk nominasi. Dan hasil yang diperoleh sebagai perpustakaan terbaik tingkat SMP menetapkan SMP Fatima Sibolga sebagai Juara I dengan nilai 2905. Menyusul Juara II SMP Negeri 2 Sibolga dengan nilai 2495, dan Juara III SMP Negeri 5 Sibolga bernilai 2360. Sedangkan posisi Juara Harapan I diraih oleh SMP Negeri 7 Sibolga dengan nilai 2155, Juara Harapan II SMP Negeri 3 Sibolga bernilai 2125, dan Juara Harapan III SMP Negeri 4 Sibolga nilainya 2005.

Sementara itu, Dewan Juri menetapkan SMA Katolik masih yang terbaik dalam lomba perpustakaan tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). SMA Katolik Sibolga meraih Juara I dengan jumlah nilai perolehan sesuai keputusan Tim Penilai 2665. Menyusul Juara II SMA Tri Ratna Sibolga bernilai 1905, dan Juara III SMA Negeri 1 Sibolga dengan nilai 1885. Pada posisi Juara Harapan I jatuh kepada SMK Muhammadiyah 13 Sibolga dengan nilai 1860, Juara Harapan II SMK Negeri 1 Sibolga nilai 1730, dan Juara Harapan III SMK Negeri 2 Sibolga bernilai 1510.

Tampak wajah-wajah para pengelola perpustakaan yang diundang di Gedung Perpustakaan Pemko Sibolga itu gembira, bahkan mereka merasa puas telah dihargai lewat penilaian independen tersebut. Memang diakui uang yang mereka terima dibanding tahun sebelumnya ada penurunan nilai nominal, tetapi semangat untuk meraih yang terbaik masih jelas terpancar di wajah mereka. Dari pantauan koran ini, banyak yang antusias mengabadikan keberhasilannya itu dengan berfoto usai mendapat hadiah secara pribadi. Memang cuaca juga kurang bersahabat, sehingga pemberian hadiah terpaksa dilaksanakan dalam ruangan yang tidak begitu luas. Namun usai menerima hadiah, sebagian pemenang berlomba untuk difoto kembali. Kita ucapkan selamat bagi sekolah yang telah berhasil, semoga tahun depan lebih berhasil lagi.

Peliput : Elinus Waruwu
READ MORE - Lomba Perpustakaan Tingkat Kota Sibolga
Author: Elinus Waruwu
•Rabu, Oktober 26, 2011
Selama tiga hari Kamis s/d Sabtu 1-3 September 2011 telah berlangsung seminar Lokakarya Budaya Nias tentang jujuran yang disebut böwö. Lokakarya itu dibuka resmi oleh Uskup Keuskupan Sibolga Mgr Dr Ludovicus Simanullang OFMCap dengan ditandai pemukulan gong dan berlangsung di gedung serba guna St Yakobus Laverna Gunungsitoli Nias dan dihadiri tidak kurang 127 orang peserta tenaga pastoral, para Imam, Pendeta, Pengetua Adat dari pengurus lembaga adat lintas komunitas yang lebih dikenal dengan sebutan öri. Hadir juga tokoh adat dan unsur Pemerintah kabupaten/kota lintas agama. Para peserta lokakarya masing-masing memiliki perwakilan yang berasal dari Kota Gunungsitoli, Teluk Dalam - Nias Selatan, Lahewa - Nias Utara, Sirombu Mandrehe - Nias Barat.

Ketua Panitia Pastor Romanus Daeli OFMCap mengatakan dasar pelaksanaan kegiatan itu adalah keputusan Uskup Keuskupan Sibolga nomor 093/KS-SK/2011 tentang Pengangkatan Panitia Lokakarya Budaya Nias. Kegiatan lokakarya itu dilaksanakan dalam rangka mengimplementasikan transformasi Tata Nilai Baru tentang adat khususnya jujuran demi mendukung perkembangan budaya masyarakat Nias sebagai tindak lanjut hasil analis sosial dan Sinode Keuskupan Sibolga 12-16 November 2009 yang lalu.
Adapun tema seminar Lokakarya yakni “Jujuran Perkawinan Mensejahterakan Keluarga” dalam bahasa NiasFamalua Böwö Wangowalu Same’e Fa’ohahau Dödö. Menurutnya, jujuran (böwö) yang umum terlaksana di Nias dinilai masih sungguh membebani, bahkan ansos mengisyaratkan jujuran böwö salah satu penyebab kemiskinan di tengah masyarakat Nias khususnya yang terjadi di desa-desa terpencil. Lanjutnya, tujuan melaksanakan seminar Lokakarya untuk menggagas perubahan sosial di bidang adat dengan mengembangkan kesepakatan baru yang disosialisasikan kepada masyarakat basis lewat katekese dan pertemuan resmi lainnya.
Fidelis Elisati Waruwu M.Sc.Ed  salah seorang narasumber yang datang dari Jakarta Barat mengutarakan bahwa setiap masyarakat memiliki sistem adat-istiadat untuk menyambut peristiwa-peristiwa penting dalam siklus kehidupan. Seperti perkawinan misalnya, terkandung di dalamnya ritual penghayatan nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat. Anggota keluarga akan melakukan syukur dan mengundang sanak keluarga – seluruh keluarga besar (banua) – untuk bersyukur atas hadirnya rahmat Tuhan dalam keluarga baru tersebut. Dalam acara itu dilantunkan doa-doa syukur, doa-doa berkat dan sekaligus sebuah perayaan makan bersama guna meneguhkan persaudaraan. Lanjut Fidelis, nilai-nilai luhur seperti penghormatan (nilai fame’e sumange), nilai ketaatan total, sikap tunduk menyerah yang menunjukkan kebesaran kasih dari setiap orang Nias yang menghayati adat-perkawinan. Pesta perkawinan itu seharusnya sebagai ungkapan kegembiraan. Pihak keluarga mempelai wanita melakukan persiapan-persiapan batin dengan memberikan nasehat-nasehat praktis (fotu) berisi prinsip-prinsip nilai bahwa dia harus memberi hormat kepada pihak keluarga calon suaminya. Hal yang sama juga, mempelai pria menunjukkan penghormatannya kepada semua pihak dari keluarga calon istrinya, terutama pihak paman (uwu), calon ayah dan ibu mertuanya, calon saudara iparnya (saudara laki-laki dari calon istrinya). Sebagai bukti sembah sujud dan ketaatan total, maka apa saja yang dikatakan oleh calon mertuanya (ayah, ibu), semua calon iparnya laki-laki dan pihak paman (uwu) mesti dilaksanakan tanpa syarat. Pihak calon mempelai pria harus meminta restu mereka dengan cara sembah sujud, membawa makanan dan sekaligus memberi tanda kasih (böwö) kepada mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan.“Jadi pada prinsip dasarnya, yang diharuskan adalah memberi penghormatan (fame’e sumange) secara total dan bukan mengharuskan membayar jumlah uang (firö), beras (fakhe), babi (bawi) atau jujuran. Maka pada saat yang sama, pihak orang tua (ayah dan ibu calon mertua), pihak saudara (calon ipar) dan pihak paman (uwu) juga membuktikan kebesarah kasih mereka (fa’ebua mböwö-ra) dengan menerima dan memberikan berkat pada calon menantu yang datang menyembah. Seluruh anggota keluarga menerima, dan disambut dengan adat kebesaran!”jelas Fidelis.

Permasalahan Perkawinan Adat Nias
Dalam lokakarya itu, terungkap bahwa pelaksanaan adat-istiadat di Nias yang mula-mulanya berisi nilai-nilai luhur, dalam perjalanan sejarah mengalami perubahan-perubahan. Beberapa hal yang awalnya hanya ritual untuk mendukung nilai, ternyata dimutlakkan dan menjadi keharusan. Misalnya acara sembah sujud pihak calon mempelai pria yang disampaikan dalam bentuk jamuan makan (famondiwo) dan pemberian kasih yang seharusnya diterima (sinema) oleh pihak uwu, sibaya, ama, ina dan talifusö menjadi dimutlakkan takarannya dan dipaksa untuk diberikan oleh mempelai pria. Pemaksaan pemberian jujuran tersebut telah menjadi kebiasaan adat, yang pada akhirnya nilai-nilai luhur adat sendiri tidak lagi diperhatikan, malah dikorbankan. Akibat dari pemaksaan jumlah pemberian tanda kasih (fa’ebua mböwö) menjadi bukan lagi praktek nilai-nilai luhur tapi berubah menjadi jujuran yang mesti dibayar. Bila tidak membayarnya, maka pihak mempelai pria akan dipermalukan dalam pembicaraan adat (dikatakan sebagai orang yang tidak tahu adat = niha silö mangila huku). Akibatnya, banyak mempelai pria melakukan segala cara, termasuk menggadaikan tanah, kebun atau apapun yang bisa digadaikan agar dapat memenuhi tuntutan pihak keluarga mempelai wanita. Bila keadaan sudah terdesak, makapinjaman uang dengan bunga tinggi (kefe so’ono) pun terpaksa pilihan sebagai solusi. Sering juga untuk memperoleh pinjaman dengan bunga lunak, pihak mempelai pria harus menggadaikan apa saja yang bisa digadaikan. Kejadian itu sering berlangsung spontan seperti kebiasaan. Dan tentu saja dampak dari kebiasan itu tidak pernah dipikirkan oleh kedua belah pihak. Setiap orang menganggapnya memang sudah seharusnya demikian.
Kalau kita menyaksikan pengalamn pada kenyataan umum, keluarga-keluarga muda di Nias memulai  hidup rumah tangganya dengan utang, dan ada yang sudah melilit dan membelenggu, karena uang berbunga = kefe so’ono, utang beras, utang babi dan utang-utang lainnya. Tentu saja, keadaan seperti itu kurang memotivasi keluarga yang baru terbentuk untuk memikirkan sesuatu yang positif tentang masa depan keluarganya. Karena yang menjadi bahan pemikiran setiap hari adalah bagaimana membayar utang-utang yang tidak pernah berakhir. Keadaan itu tentu saja tidak memotivasi untuk bekerja mencari kehidupan. Karena apapun yang dikerjakan pada akhirnya tidak dinikmati, hanya habis untuk melunasi utang akibat besarnya jujuran perkawinan.
Bila keadaan jujuran perkawinan demikian, tidaklah mengherankan pihak pria – memilih untuk melarikan diri untuk melupakan beban kehidupan – dengan minum alkohol (mamadu tuo), asyik dengan main kartu (dan mungkin juga berjudi) dan menghabiskan waktu di warung kopi sambil main catur atau ngobrol seharian. Semangat hidup mengalami kemunduran di mana setiap orang ada di bawah tekanan dan frustrasi berkepanjangan. Tidak heran kalau individu-individu dalam masyarakat Nias menjadi gampang tersinggung, gampang marah, mengamuk dan melakukan kekerasan. Beban adat yang membelenggu itu semakin terasa lagi ketika ipar laki-laki juga menikah atau membutuhkan bantuan biaya sekolah, bantuan ketika mereka mendirikan rumah, bahkan ketika salah satu diantaranya meninggal dunia (ömö fangasi). Pihak anak perempuan masih memiliki utang yang wajib dibayar. Ketika keluarga muda mulai mendirikan bahtera keluarganya dengan lilitan utang, maka apapun hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun, hanya untuk melunasi utang-utang yang terus bertambah – seperti pinjaman uang dengan bunga tinggi (kefe so’ono) sebelumnya. Tentu saja praktek hidup seperti itu bukanlah tujuan dan nilai adat yang dirancang oleh nenek moyang leluhur orang Nias dulu.
Zaman sudah berubah. Tuntutan hidup modern juga berubah. Dewasa ini, pendidikan demikian penting dan mutlak dibutuhkan oleh setiap generasi muda. Pendidikan membutuhkan biaya besar. Akibat pelaksanaan jujuran adat perkawinan Nias seperti dipaparkan oleh beberapa pembicara atau narasumber, mereka berpendapat bahwa membentuk keluarga baru lewat perkawinan adat Nias berdampak berat pada kehidupan generasi muda. Banyak orang tua tidak dapat membiayai sekolah anak-anaknya, karena pendapatan mereka hanya cukup untuk membayar utang-utang yang terus melilit.
Artinya, pelaksanaan adat-istiadat pembuktian pemberian kasih (fa’ebua mböwö) sudah berubah menjadi pemaksaan pemberian jujuran yaitu materialistis. Hal itu menjadi gambaran umum cara  pelaksanaan jujuran (böwö) perkawinan di Nias, nilai kesakralan adat-istiadat itu telah jauh bergeser dari semangat awal pelaksanaannya yang lebih spiritual. Nilai-nilai luhur dalam adat perkawinan yang merupakan pembuktian kebesaran kasih (fa’ebua mböwö) kedua belah pihak (pihak keluarga mempelai wanita dan mempelai pria) sudah direduksi dalam sebuah praktek materialistis, pemaksaan pemberian sinema pihak-pihak keluarga wanita. Tentu saja, orang-orang seperti itu bukan membuktikan diri sebagai orang yang memiliki kasih yang besar (sebua böwö) tapi orang yang miskin kasih dan justru hanya memikirkan kenikmatan sesaat (tolo-tolonia dan fa’ebua zinemania).
Maka muncul pertanyaan, “Apakah jujuran perkawinan (böwö) Masyarakat Nias sudah mensejahterakan atau belum?” Bila prakteknya seperti pemaksaan maka pemutlakkan jujuran itu justru membelenggu keluarga-keluarga Nias dalam lembah kesengsaraan hidup karena utang-utang yang memiskinkan. Praktek pelaksanaan pesta perkawinan ala Nias berpedoman pada rangkaian böwö dan menjadi tradisi hidup masyarakat. Tradisi itu mempengaruhi sikap mental setiap orang yang hidup dalam masyarakat Nias itu. Seluruh aturan-aturan adat menjadi semacam aturan moral yang harus dipatuhi. Bila ada orang yang tidak menaati aturan tersebut dianggap salah atau melanggar aturan adat, didenda (lakhau), dan bisa dikenakan hukuman sosial, dikucilkan, atau dikeluarkan dari komunitas. Jadi, pelaksanaan adat-perkawinan yang memutlakkan jujuran justru mendorong setiap keluarga baru dalam lembah penderitaan yang tidak ada ujung.
Di satu pihak, pelaksanaan adat (fa’ebua mböwö) itu memperlihatkan betapa kebesaran hati orang-orang Nias. Bersedia memberi makan semua orang sekampung; menunjukkan kemurahan hati dengan bersedia mengikuti apa saja yang diminta oleh pihak mertua dari pihak mempelai wanita. Apabila sudah ada relasi kekeluargaanya, maka semua pihak menjadi anggota keluarga besar dan disebut sitenga bö’ö artinya bukan lagi orang lain. Sistem adat itu memperkokoh hubungan persaudaraan di antara seluruh keluarga. Pihak Uwu membuktikan kemurahan hatinya dengan memberi berkat (howu-howu) dan bahkan memberikan ternak  (manu, bawi) dan bibit tanaman (tanömö zinanö) sebagai modal bagi anak mereka yang memulai hidup baru dalam keluarga. Pihak keluarga perempuan memberangkatkan anaknya dengan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan oleh keluarga muda. Tentu saja bila hal itu dilaksanakan seperti semangat awalnya – maka pesta adat perkawinan di Nias justru membawa kesejahteraan bagi keluarga baru.
Ternyata pelaksanaan adat perkawinan di Nias telah mengalami erosi nilai. Dari semangat menunjukkan  kemurahan hati (fa’ebua mböwö) ke arah menentukan besarnya jujuran (fa’ebua zinema). Semangat awalnya adalah bagaimana semua pihak berlomba memberikan yang terbaik kepada orang lain. Setiap orang berusaha membuktikan kemurahan hatinya (fa’ebua mböwö nia). Prakteknya sekarang, nilai-nilai luhur itu direduksi pada nilai material besarnya jujuran adat. Maka solusi terbaik, adalah kembali ke semangat awal “menunjukkan kebesaran kasih (fa’ebua mböwö) dan tidak direduksi pada besaran jujuran yang mesti diterima oleh berbagai pihak (sanema sinema). Kata Fidelis, “Justru ketika anak-anak kita memulai hidup keluarga yang baru, setiap pihak berusaha membuktikan kemurahan hatinya (fa’ebua mböwö nia) dengan membekali keluarga baru semua hal yang baik – demi memampukan anak-anak kita memulai hidup baru mereka dengan layak di tengah dunia yang terus berkembang dan berubah!”
Zaman telah berubah. Setiap orang mesti menyesuaikan diri dengan tuntutan kehidupan modern, khususnya tuntutan dalam bidang pendidikan. Agar generasi baru dapat memainkan perannya dalam masyarakat yang terus berubah ini, anak-anak perlu dibantu dalam pendidikan mereka. “Maka hanya apabila keluarga-keluarga kita di Nias mempunyai kemampuan ekonomi (tidak banyak utang) – dan berdaya, maka pendidikan anak-anak kita di Nias lebih terjamin. Sekarang ini orang yang berpendidikan sangat dibutuhkan untuk dapat ikut serta dalam pembangunan masyarakat kita di Nias. Tanpa pendidikan, generasi Nias hanya berkutat dalam pergulatan dengan berbagai lilitan kemiskinan kehidupan, dan dengan demikian kita meneruskan generasi yang terus berkutat dalam kemiskinan.” Ungkap Fidelis yang banyak menjelaskan solusi untuk membaharui nilai-nilai budaya Nias yang lebih baik.

Pastoral Formatif dan Transormatif
Fr. Postinus Gulö OSC mahasiswa S-2 dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung yang sedang menulis tesis seputar perkawinan adat Nias Barat daerah Öri Moro’ö, turut serta menjadi narasumber pada lokakarya itu. Beliaumengharapkan dalam menyikapi perkawinan adat Nias hendaknya diterapkan kerasulan model pastoral formatif dan transformatif. Menurutnya, pastoral formatif yakni berusaha membentuk, mendidik, mengarahkan dan menyadarkan masyarakat pada nilai-nilai budayanya sendiri sekaligus pada ajaran Gereja. Dikatakannya, perlu tenaga pastoral yang mengerti sungguh budaya daerah Nias. Dan tenaga pastoral itu perlu menghindari tindakan yang hanya mengkritik tanpa berusaha menyelami makna terdalam dari budaya Nias. Melihat kenyataan yang dalam perkembangan zaman perkawinan adat Nias sudah mengalami kepudaran di dalam praktek keseharian masyarakat Nias. Maka perlu terobosan-terobosan baru demi menciptakan perubahan hidup masyarakat Nias menjadi lebih sejahtera, selektif terhadap kecanggihan teknologi dan budaya modern semacam keyboard.
Menurutnya, penerapan böwö yang cenderung material perlu diubah dan dikembalikan ke makna asali yakni böwömerupakan nilai etis, sikap saling menghormati dengan kata dan perbuatan. Misi Gereja di Pulau Nias kurang berhasil jika tenaga pastoral dan misionaris tidak memahami adat setempat. Tenaga pastoral dan para misionaris tidak akan berhasil melakukan perubahan jika tidak mampu memahami budaya Nias. “Oleh karena itu, yang sangat dituntut dari para tenaga pastoral yang berkarya di Nias adalah kesediaan dan pengorbanan yang tulus serta kreatif. Tenaga Pastoral harus mampu menerima keadaan dan juga berusaha menorehkan yang berguna bagi kelangsungan hidup umat. Pastoral yang penuh belas-kasih (karikatif) memang dibutuhkan, tetapi yang lebih penting adalah pastoral formatif dan transformatif !” harap Fr.Postinus Gulo.

Kesepakatan Baru
Pada hari terakhir lokakarya adat Nias itu para peserta berhasil menetapkan kesepakatan baru setelah bersama-sama mendalami makna nilai-nilai luhur böwö dalam adat istiadat suku Nias. Beberapa kesepakatan baru itu dapat dirangkum dalam beberapa butir sebagai hasil seminar lokakarya yang hangat diperdebatkan oleh para peserta pada diskusi pleno antara lain: Pertama, sepakat bahwa böwö adalah ungkapan nilai-nilai luhur dan pemberian penuh ikhlas hati, bukan dipaksa dan tanpa menuntut balasan. Kedua, menyadari nilai böwö selama ini telah membebani dan memberatkan kehidupan lahir batin keluarga baru. Ketiga, tindakan pelaksanaan böwö hendaknya dijiwai semangat sejati memberdayakan dan memanusiakan generasi muda Nias. Keempat, mengupayakan gerakan bersama menerapkan böwö perkawinan yang mensejahterakan keluarga baru. Kelima, merekomendasikan menyusun bahan pengajaran dan pembinaan bagi seluruh elemen masyarakat Nias untuk dijadikan bahan pengajaran muatan lokal di sekolah formal. Dan Keenam, menyederhanakan nilai material böwö dari adat perkawinan Nias yang dijiwai nilai-nilai luhur yang sejati.
Mengakhiri kegiatan lokakarya itu, Vikjend Keuskupan Sibolga Pastor Doni Ola Pr bersama Sekretaris Keuskupan Metodius Sarumaha OFMCap menutup acara lokakarya secara resmi. Dan pada kesempatan itu, beliau mengucapkan terima kasih kepada seluruh Panitia, Narasumber, dan peserta lokakarya. Semoga bermanfaat!
Peliput : Elinus Waruwu
READ MORE - Jujuran Perkawinan Adat Nias Mensejahterakan Keluarga
Author: Anonim
•Jumat, Februari 04, 2011
MISA ALAM TERBUKA DI PONCAN MOALE

Pendamping Rohani P.Kristof Jansen OFMCap yang mendampingi Ordo Fransisikan Sekulir (OFS) tingkat Dewan Regio Sibolga memimpin perayaan Misa di alam terbuka (30/1) di Pulau Poncan sekitar 20 menit naik kapal dari tepi Tapian Nauli Sibolga. Pertemuan OFS itu dihadiri oleh 43 orang anggota, masing-masing dari Padangsidimpuan (9), Pinangsori (8), Pandan (8), Mela (7), dan anak-anak (11). Turut hadir dua orang suster yang selama ini menolong pendampingan OFS yakni Sr. Rufina Simanullang OSF Padangsidimpuan dan Sr.Mayella KSFL Pinangsori.
Perayaan Misa itu diawali Ibadat pagi, dan Misa meriah yang mengesankan. P.Kristof yang menyampaikan renungan mengatakan sebagai anggota OFS hendaklah selalu bahagia seperti Injil katakan. Dan bahagia versi OFS selalu didasari sikap rendah hati, lemah lembut, dan miskin. Itu berarti, sebagai anggota OFS harus siap sedia dan mau menderita demi kebenaran dalam menjalani panggilan. “Sabda berbahagia hanya dapat dilakukan bilamana mampu melakukan merendahkan hati, lemah lembut dan menyadari diri miskin di hadapan Allah.” jelas P.Kristof yang menjelaskan banyak contoh sebagai pengikut Sang Guru Bapa Santu Fransiskus dari Asissi.
Lebih jauh dikatakan, OFS yang beranggotakan awam mempunyai sasaran, yakni menerima dengan rendah hati tugas serta profesi secular beserta seluruh tuntutannya. Anggota OFS mengiblatkan seluruh kehidupannya ke dalam peresekutuan batin yang mendalam dengan Kristus. Pesan Fransiskus kepada para pengikutnya, “Orang-orang yang memiliki barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak memilikinya (bdk. 1Kor.7:29-30).
Tampak pada perayaan Misa di alam terbuka itu, para anggota OFS dilayani dalam Komuni Kudus dengan menerima dua rupa Tubuh dan Darah Kristus. Juga Pendamping Rohani memberikan berkat khusus kepada anak-anak dengan memberkati satu per satu. Inilah wujud kebersamaan yang telah memotivasi umat beriman sebagai harapan gereja masa depan.
Usai perayaan Misa, acara kebersamaan dengan bakar-bakar ikan mewarnai serba-serbi kegiatan Misa di alam terbuka tersebut. Canda tawa dan sikap bersaudara satu sama lain tampak kelihatan prakteknya. Saling bergotongroyong menyiapkan santapan makan siang bersama, hingga istirahat siang diwarnai kekeluargaan. Pendamping Rohani juga menyampaikan ceramah selama 20 menit, dan sesudahnya beberapa tanggapan serta pertanyaan dari anggota OFS sendiri.
Sesi yang selalu menarik adalah pertemuan sejenis evaluasi dan shering persaudaraan. Sr. Rufina saat mewakili Padangsidimpuan, menyampaikan kelemahan-kelamahan OFS dari kelompok yang didampinginya. Menurutnya, para anggota OFS di Padangsidimpuan selalu merindukan pertemuan bersama Pendamping Rohani. Kelompok mereka rindu untuk dimotivasi dan dikunjungi. Berbeda dengan Sr. Mayella dari Pinangsori, dia memuji kelompok OFS yang kebanyakan dilihat sudah lanjut usia, tetapi tetap semangat. Mendengar kata-kata semangat itu, seluruh peserta bertepuk tangan dan bangga. “Aku segan sekali berbicara dan duduk bersama anggota OFS kelompok Pinangsori ini, aku kan masih muda, tentu tidak wajar mengajari yang sudah tua-tua dan berpengalaman. Tetapi, aku senang bersama mereka karena selain semangat juga mengesankan sikap kesederhanaan yang melekat pada panggilan sebagai anggota OFS yang membawa damai dan kasih.” cetusnya bangga.
Ketua persaudaraan OFS Pandan Johannes Sihotang mengakui pertemuan anggota OFS di kelompoknya agak macet karena banyak anggota sibuk juga adanya yang kuliah. Dari 12 orang anggota mereka merasa sangat berarti tetapi merasa kesulitan untuk merekrut anggota OFS baru. Sementara Tika Sitanggang yang mewakili persaudaraan Mela mengusulkan dan merasa untuk memajukan OFS agar anggotanya bertambah perlu dipromosikan. Menanggapi hal itu, secara berkelakar Antonius Susanto mengatakan setuju. “Promosi panggilan sebagai anggota OFS itu perlu, misalnya membuat iklan di radio atau televisi. Saya sangat setuju…”. katanya.
Akhir dari pertemuan OFS itu ditutup dengan kata-kata dan ucapan terima kasih. Tercatat biaya transport dewasa Rp 30.000 dan anak-anak Rp 20.000. Total pengeluaran transport para anggota OFS dalam merayakan Misa di alam terbuka dikeluarkan pada pertemuan itu sebesar Rp 1.180.000 dengan sewa tikar Rp 50.000. Sukses dan berbahagia !
READ MORE - OFS Dewan Regio Santu Polykarpus Sibolga
Author: Anonim
•Selasa, Maret 02, 2010

Hari ini (28/1) Pastor Paroki dan seluruh umat di Katedral St.Teresia Sibolga bergembira karena resmi mendapat Imam baru. Umat pantas bersyukur dan berterima kasih karena tenaga Imam bertambah di Katedral itu, mereka merayakan lewat syukuran perayaan Misa Pertama dan acara ramah tamah.

“Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang diterpilih…” Kata-kata yang biasa terdengar bila adanya Imam baru yang hadir di tengah-tengah umat. Begitulah peristiwa penting ketika hadirnya seorang Imam baru yaitu P. Martin Halawa Pr yang telah ditahbiskan 25 Februrai 2010 di Nias. Kini, Pastor muda itu memulai tugas pertama di Katedral Santa Teresia Sibolga. Diawali pagi, Misa Pertama dua kali di Katedral setelah adanya ketetapan dan ditetapkan Bapak Uskup Mgr.Ludovikus Simanullang OMCap sebagai Pastor Pembantu di Katedral Santa Teresia Sibolga. Acara kegembiraan diakhiri pada pesta penyambutan imam baru malam harinya.

Pesta syukur dan sederhana atas Imam yang baru disambut dengan baik oleh Pastor Paroki P.Alfons Ampu Pr bersama ratusan orang mewakil umat pada acara ramah tamah. Turut menyampaikan kata-kata sambutan mewakili umat, stasi-stasi, paroki, dan keuskupan. Tampak hadir pada acara ramah tamah di ruang pertemuan paroki itu, antara lain P.Metodius Sarumaha OFMCap sekretaris Keuskupan, P.Barnabas Winkler OFMCap mantan Administrator, P.Kristof Jansen OFMCap dan P.Blasius Fau OFMCap mewakili para imam senior, P.Posma Manalu Pr (Pastor Paroki Santu Yosef), dan beberapa komunitas seperti SCMM, OSF, Asrama Putri, dan Tokoh-tokoh umat lainnya.


Dukungan Doa dan Hiburan

Ibu Evelyn yang mewakili sambutan atas nama umat Paroki menyatakan dukungan doa untuk Pastor yang baru. Bahkan ibu itu mengungkapkan perasaan sangat senang dengan bertambahnya Imam di katedral Sibolga, lanjutnya, pada misa pertama pagi itu dia sangat terpesona dengan kisah cerita P.Martin yang satu minggu sebelum ditahbis, keluarga yang dari semula Protestan akhirnya menjadi Katolik. “Itu sangat luar biasa Pastor, perjuangan berpuluh tahun di mana keluarga Pastor belum katolik, dan itulah karya Allah yang sangat besar lewat pribadi Pastor, luar biasa, Pastor…” tutur Ibu Evelyn yang selalu tekun, dan rajin berdoa melalui kelompok persekutun doa karismatik di Paroki itu, sambil mengajak seluruh umat Paroki mendukung tugas-tugas panggilan Pastor baru.

Dukungan doa itu juga mengalir dari P.Metodius Sarumaha OFMCap ketika menyampaikan sambutan, harapan dan penegasan tentang tugas P.Martin sebagai pastor pembantu. Pastor Metodius menyatakan senang atas dukungan umat terhadap Pastor baru, sebagaimana telah dirangkai pada acara sederhana dan harapan-harapan umat yang telah disampaikan. Ada kesan bahwa P.Martin sangat dicintai oleh umat di Paroki itu dengan memberikan dukungan berupa materi dan kado-kado. Memang benar, dari perwakilan umat itu banyak menyampaikan ampau, amplop, kado sebagai tanda dukungan. Bahkan P.Martin juga diulosi sebagai tanda cinta dari umat. Maka, Keuskupan berharap dengan tanda itu semua, meneguhkan P.Martin seperti gema pada Injil hari ini: “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia…”. Kutip P.Metodius sambil berharap kepada Pastor Paroki yang sudah senior berpengalaman dalam menangani dan melayani paroki agar nantinya bisa bekerja sama.

Terlihat pada acara syukuran itu, ada cara makan bersama. Beberapa selingan berupa hiburan menyelingi kata-kata sambutan seperti dari kelompok Susteran SCMM, Asrama Putri Santa Anna, Susteran OSF yang kesemuanya lagu rohani dari bahasa daerah Batak maupun Bahasa Indonesia. Secara bergurau ketika mengucapkan terima kasih, dan menyanyikan tiga buah lagu yang diringi gitar oleh Sr. Clara Manao OSF saat menyapa umat menyampaikan mohon maafnya. “Saya berterima kasih kepada seluruh Panitia dan seluruh umat yang telah bersusah payah menyiapkan semua kegembiraan ini, yah… seandainya bukan pada masa Prapaskah mungkin pesta kita ini jauh lebih besar lagi dibuat oleh Paroki.” sindir P.Martin sambil terus bernyanyi dan sesekali menanyakan apakah masih ada kado pemberian umat lagi. Selamat ya, Pastor Martin, semoga imamat kekal samai akhir ! ***

READ MORE - Imam Baru Katedral Sibolga
Author: Anonim
•Kamis, Februari 25, 2010
P.Raymod Laia OFMCap:
“Umat hanyalah abu, pengembara bagai gelandangan, dan orang asing yang menumpang sementara di dunia….”
Pernyataan itu diutarakan oleh P.Raymond Laia OFMCap (44) ketika berkunjung dan memimpin Misa Perayaan Minggu Prapaskah pertama (21/2) di stasi St Petrus Mela. Menurutnya, bila umat tidak menyadari diri sebagai orang rendahan maka sulit mengosongkan diri untuk sadar. Teks-teks bacaan pilihan gereja masa prapaskah I adalah teks indah yang perlu dicermati oleh umat. Dia menjelaskan beberapa kata kunci yang menjadi inti bacaan. Bacaan pertama adalah pengakuan iman umat Israel yang mengakui asal-usul nenek moyang dari abu, bacaan kedua merupakan pengakuan iman sebagai umat Kristen, dan ketiga bacaan Injil yang bercerita bagaimana pencobaan iblis yang dialami Yesus ketika berpuasa.


Penerimaan Abu

Pada awal perayaan Misa itu, setelah pembukaan atau sebelum acara tobat “Tuhan Kasihanilah Kami…” tampak didahului dengan pemberian abu kepada sekitar 200-san umat. Khususnya umat yang belum sempat menerima abu pada hari Rabu Abu malam (17/2) lalu. Pastor Raymond ketika menyampaikan kata pengantar kepada umat mengatakan bahwa abu menjadi tanda pengakuan iman. Umat berasal dari abu maka kembali menjadi abu. “Menerima abu berarti mengakui diri berasal dari abu, dan kembali jadi abu. Lihatlah perjalanan hidup, kita hanyalah pengembara seperti orang gelandangan, dan sadarilah diri sebagai orang asing yang hanya menumpang sementara di dunia ini. Pada akhirnya kita mati, dikubur, lalu menjadi abu kembali bila telah lama dikubur atapun dikremasi…” jelas P.Raymond mengingatkan peristiwa Rabu Abu yang sangat penting itu.
Memang, lanjut P.Raymond, dari sejarah masa perjanjian lama bangsa Israel sampai pada sebutan umat Kristen hingga zaman kita sekarang sudah nyata kita berasal dari abu. Bahkan kita hanyalah penumpang bagai anak jalanan, gelandangan dan orang asing. Pengakuan spritualitas sebagai umat yang memposisikan diri orang asing itu, menunjukkan tidak ada tempat yang tetap, maka harus berpindah karena keseluruhan hidup kita hanya peziarah di dunia dan bumi bukan rumah abadi. “Pondokmu (tubuh yang fana) akan dibongkar..” kata Pemazmur.
Menyinggung soal budaya Batak di daerah Tapanuli itu, di mana adanya acara “Mangokkal Holi” arti pemindahan atau pengangkatan tulang belulang, itulah satu tanda bukti begitu dihormatinya abu dalam budaya. Tulang nenek moyang itu apalah artinya? Tetapi begitulah, sangat dihargai dan dihormati sebagai tanda hormat, padahal lanjutnya, sesungguhnya tulang itu juga akhirnya jadi abu. Hal yang sama bagi warga Tionghoa yang beragama Budha juga menghormati abu orangtua mereka dengan cara dibakar dan dikremasi. “Semua menunjukkan kesadaran berasal dari abu dan pada akhirnya kembali jua jadi abu!” urai P.Raymond yang menyentuh hati umat secara nyata.


Nilai Kejujuran, Pencobaan, dan Kuasa
Lebih jauh P.Raymod menekankan lewat peristiwa abu ada nilai kehidupan yang bermakna sangat mendalam yakni pengakuan kejujuran diri. Pada zaman sekarang, banyak orang yang berpura-pura baik. Ada banyak yang menutupi diri (bertopeng) dan melupakan kesalahannya tanpa dimaknai pertobatan. Hidup orang seperti itu tidak peduli penghayatan iman, dan sering suka berbohong pada diri sendiri dan orang-orang sekitarnya. Kalau sudah begini maka nilai kejujuran mematikan kebenaran dalam hal bertobat. “Makna pertobatan yakni kembali menyadari diri dari sikap berpura-pura, merenungkan, lalu berubah dengan pengakuan pada kejujuran diri sendiri sesuai yang sebenarnya.” tandas P.Raymond penuh semangat.
Semboyan lain yang senada dengan keterangan P.Rayomod itu bisa juga kita baca seperti tertulis di sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) seperti di Medan misalnya berbunyi “Orang yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya”. Pendapat ini amat dalam artinya bila dihayati dan diamalkan. Mengenal diri berasal dari abu yang diangkat sebagai makhluk mulia oleh Tuhan, maka diminta nilai kejujuran tetap tumbuh dalam hidup dan perlu dibudayakan. Masalahnya banyak orang yang tidak mengenal dirinya siapa, menyebabkan mata bagaikan silau akibat kenikmatan duniawi yang tidak menyadari diri peziarah atau hanya sementara selama berada di bumi ini (tidak abadi).
Menyinggung perihal pencobaan seperti dialami Yesus ketika iblis menggoda, nilai kejujuran jelas terpancar tidak bisa dikalahkan oleh iblis. Iblis datang lalu mengetes Yesus di saat puasa, bayangkan ketika sudah tidak makan dan minum 40 hari, ini mempengaruhi kondisi fisik dan moral, dan kesempatan itulah yang digunakan iblis mencobai Yesus. Iblis tahu bahwa Yesus mempunyai kuasa yakni mampu mengubah batu menjadi roti, kuasa itu jelas ada pada Yesus, maka iblis memanfaatkan kesempatan masa puasa itu agar dapat membatalkan puasa niat baik dan kejujuran yang dilakukan oleh Yesus. Ternyata, kuasa itu tidak mau dipergunakan Yesus untuk membohongi dirinya (inilah nilai kejujuran), tidak mau kepura-puraan menguasai diri-Nya seperti banyak dilakukan orang pada zaman sekarang. “Bagaimana dengan umat kita?”
Diberi Kesempatan
Usai Misa Prapaskah itu, Bapak CK. Manalu (64) mantan Voorhanger di Stasi Mela mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih telah diberi kesempatan menerima abu pada perayaan Misa Prapaskah I. Dia menuturkan tidak sempat ikut acara Rabu Abu, karena alasan dilaksanakan pada malam hari. “Menurut saya sudah bagus ada kebijakan itu dibuat mengingat malam Rabu Abu banyak umat tidak sempat menerimanya. Yah… maklumlah di samping pertimbangan bagi yang sudah tua dan anak-anak kan jelas sulit semua dapat mengikuti malam hari. Sementara siang hari pada sibuk juga melakukan aktifitas. Maka, menurut saya bagus sekali diberi kesempatan hari ini sekalipun sebenarnya sudah lewat acara itu…” tuturnya menyetujui dan mewakili tokoh umat di Stasi itu.
Banyak umat yang sependapat dengan diberi kesempatan menerima abu pada hari Minggu itu, mereka juga merasa ada sesuatu yang kurang bila belum menerima dan ditandai dengan abu. Sesuai dengan petunjuk Pastor Paroki kepada Pengurus sebelumnya, P.Alfons telah meminta agar bila ada Pastor umat yang belum menerima abu diberi kesempatan, dan boleh diwakili Voorhanger untuk memberikan kepada umat. Kebanyakan berpendapat, selaku umat percaya harus merasa rindu menerima abu sebagai bagian dari iman dan penyadaran diri sebagai umat beriman dan ciptaan Tuhan. *** (Selamat Prapaskah!)
Elinus Waruwu.
READ MORE - Umat Hanyalah Abu
Author: Anonim
•Kamis, Februari 25, 2010
Perkataan koyakkanlah hatimu sangatlah cocok direnungkan pada perayaan hari Raya Rabu Abu (17/2). Orang biasanya kalau sudah naik darah atau panas terhadap lawan seterunya tanpa sadar emosinya meluap dan langsung mengoyakkan bajunya. Sesudahnya, siap bertempur melawan musuh, siap berkelahi, dan saking emosinya orang itu siap mati seketika. Itulah ilustrasi P.Aloysius Ampu Pr ketika memimpin Misa Rabu Abu di Stasi Santu Petrus Mela baru-baru ini. Singkatnya, keadaan siap tempur dengan koyak baju. Sekarang Tuhan tidak meminta koyak baju, tetapi lebih keras Dia berseru, “Koyakkanlah hatimu… karena dalam hatimu itu berasal segala sumber dosa…”
P.Alfons Ampu Pr menekankan bahwa hati sumber dosa. Bila akar dalam hati tidak dirawat dan dipelihara maka memunculkan berbagai kejahatan dan dipastikan pertobatan tidak akan pernah terjadi. Maka Tuhan menyapa umat-Nya pada masa pertobatan ini dengan ditandai abu. Perayaan Rabu Abu bukan mengotori tetapi tanda sadar sebagai orang berdosa. Maka hati sebagai sumber dosa perlu dimurnikan kembali. Masa pertobatan selama 40 hari kita laksanakan sebagai ret-ret agung dengan berbicara kepada Tuhan secara terus-menerus. “Jadi, sangatlah salah bila kita berbicara tentang diri orang lain, gosip, menjelek-jelekkan sesama, memuji –muji diri, sombong, dan lain sebagainya…” tegas P. Alfons mengawali permenungan.
Ada tiga hal yang perlu dipehatikan pada masa Prapaskah, pertama puasa. Puasa tidak diartikan tak boleh makan tetapi dibatasi hanya kenyang sekali. Jatah yang seharusnya dari pembatasan dari kenyang-kenyang itu disisihkan untuk aksi puasa. Kedua, amal kasih. Artinya selama Prapaskah karya amal dan berbuat baik perlu dilakukan. Dan perlu diingat perbuatan baik yang dilakukan tidak untuk diketahui orang agar memperoleh pujian atau simpatik, namun perbuatan baik itu kita lakukan menjadi berkat bagi orang lain sebagai ganjaran. Ketiga doa, selama Prapaskah kita diminta memberi waktu khusus untuk berdoa tanpa dibatasi tempat dan waktu. Kalau selama ini sibuk sekali, cari waktu khusus dan buat komitmen bersama.
Lebih jauh P.Alfons menjelaskan bahwa dalam masa Prapaskah yang kita masuki itu, kita sebagai umat yang mempunyai kebiasaan dan keinginan kuat harus mengeremnya. Misalnya kebiasaan minum tuak, merokok, makan yang enak-enak dan sebagainya perlu dikurangi. “Bila memungkinkan distopkan sama sekali..” jelas P.Alfons dengan mata agak besar dan sesudahnya senyum seperti memarahi umatnya tapi tetap sayang.
Apa yang dikatakan P.Alfons memang benar. Di daratan daerah Tapanuli selalu tersedia kedai tuak tempat kumpulnya kaum bapak-bapak yang sering nongkrong minum tuak dari siang sampai malam hari. Kebiasaan minum tuak itu sering tidak bisa dihindari. Kadangkala tuak dan rokok serta bumbu makanan tambahan dari minuman berupa daging tidak bisa dihindari karena sudah keenakan. Belum lagi, rokok sampai berbungkus-bungkus menjadi asap tak karuan memenuhi kedai sebagai sahabat minum tuak. Maka sedikit hati-hati kalau menyinggung soal tuak karena bisa saja diartikan menyindir dan kasar, karena diartikan melarang budaya minum tuak yang sudah tradisi di daerah itu.
Tradisi minum anggur di Barat, begitulah tuak di daerah Tapanuli. Maka tidak mengherankan isteri-isteri tak kuasa marah bila suaminya berada di kedai tuak. Herannya kita tidak habis pikir, dari mana hidupnya orang-orang yang selalu nongkrong di kedai tuak itu. Yah…sebagian Nelayan, malam hari cari ikan tetapi ketika bersama kembali ke darat sudah tampak nongkrong di kedai. Lalu, soal ke gereja perlu dikaji kenapa banyak yang tidak mau berdoa ke gereja? Ini salah satu penyakit masyarakat yang sulit diberantas. Dan hal itu sangat terasa ketika ada partangiangan (bhs Batak: Doa Lingkungan), dua sampai tiga orang kaum bapak yang bisa ikut, selainnya didominasi kaum ibu.
Bahkan ketika seorang Sintua yang tidak ingin disebut namanya dipertanyakan keadaan di lingkungan, Sintua yang memimpin partangiangan di daerah itu mengeluh, karena satupun kaum bapak tidak ada kecuali Sintua. Maka saat membuat renungan, Sintua itu hanya tersenyum dan memulai berkhotbah, “Sadari-saudari dan Ibu-ibu terkasih…” Umat di lingkungan itu tersenyum-senyum… Lalu dilanjutkan. “Saya tidak tahu mau menyapa dengan Bapak dan Ibu yah…karena tak satupun Bapak-bapak kita yang hadir di sini. Bagaimana cara menyapa kalian semua?” Maka terhentilah renungan sebentar dan tawa ria membahana menghiasi ruangan partangiangan… Mulailah saling menyalahkan. Beberapa ibu, menyindir suami temannya.. dan keributanpun tak bisa dihindari…
Menurut penuturan Sintua yang menjadi Pengurus di lingkungan itu, peristiwa masa lalu yang telah menjadi suatu kelucuan di daerah Tapanuli. Maka untuk mengatasi hal itu, agar tidak terjadi kelucuan, Sintua Lingkungan mengambil inisiatif dengan cepat-cepat memanggil beberapa kawan agar kaum bapak ikut partangiangan. Bila tidak berhasil, maka berjalanlah sendiri dan siap-siaplah hanya memimpin kaum ibu-ibu saja.
Maka kesimpulan dari permenungan Hati Sumber Dosa adalah benar. Sudah susah sekali memasuki hati umat karena hati sumber dosa tidak dirawat dan dipelihara, apalagi kaum bapak yang tambo-nya sudah bercampur di kedai tuak. Duduk di kedai tuak sudah semacam kebiasaan, bila tidak nongol di kedai tuak ada sindiran bukan golongan kaum bapak. Maka kita harapkan sapaan penyadaran, lewat masa Prapaskah sekarang memampukan kita sebagai umat bertobat dan dapat merefleksikan apa sasaran dan tujuan yang diharapkan dalam perjalanan sebagai umat beriman, yaitu bangkit bersama Kristus yang hidup jaya dan mulia. ***
READ MORE - Hati Sumber Dosa
Author: Anonim
•Kamis, Februari 25, 2010
P.Blasius Fau OFMCap mengatakan orang katolik tidak boleh mengandalkan uang. Orang yang mengandalkan uang ataupun materi secara umum sudah pasti celaka.
Hal mengandalkan uang sebagai kekuatan karena status sosial menurut P.Blasius Fau sudah mulai meraja di Tanah Air kita dan mungkin saja ada di antara umat (maaf tidak menuduh). Golongan status sosial yang melekat pada diri seseorang itu megandalkan uang sebagai nomor satu. “Segala-galanya diselesaikan dengan uang…” katanya.
Dengan uang maka semuanya urusan beres bahkan dipermudah. Pokoknya ada uang maka orang bisa pintar membohongi hati nurani, pandai menipu orang lain dan licik bersahabat dengan penguasa. Bisa memutarbalikan fakta, dan jarang kelihatan di Gereja karena takut dikhotbahi . Maka, lanjut P.Blasius Fau yang tinggal di Biara Santu Felix Mela 3 kilometer dari Kota Sibolga, terkutuklah mereka yang mengandalkan kekuatan, kekayaan, kepintaran dan kekuasaan yang melupakan Tuhan sebagai sumber kekuatan hidup.
Memang benar, ada tiga tipe manusia. Tipe pertama pintar dan baik hati, tipe kedua pintar dan rendah hati, dan tipe ketiga pintar dan tak peduli orang lain. Nah tipe ketiga inilah yang dikencam oleh Yesus… “Terkutuklah kamu…” kata P.Blasius dengan sangat antusias memberikan renungan di hadapan 300-an umat di Stasi Santu Petrus Mela pada Minggu Biasa ke-6 (14/2).
Lebih jauh, P.Blasius menekankan bahwa faktor celaka itu terjadi tanpa disadari akibat dikuasai oleh duniawi. Bayangkan uang dan harta menjadi segala-galanya, yang akibatnya mematikan iman seseorang akan Tuhan. Dan ini sungguh-sungguh tidak terberkati. Materi-materi duniawi merajai orang untuk berkuasa sehingga melupakan Tuhan dan tidak pernah lagi berdoa, tidak pernah ingat dan ajak keluarga di rumah untuk berdoa kepada Tuhan.
Umat Hanya Pengelola
Sebaliknya, kita sebagai umat dianjurkan agar kaya raya, pintar, baik dan rendah hati. Dengan mampu menguasai kekayaan dan menyadari diri bahwa uang sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan. Pemilik satu-satunya adalah Tuhan. Bagaimana uang dan harta kekayaan dapat dipergunakan? Dengan cara sabar, murah hati, mau menolong dengan cara mendengar orang lain yang berkesusahan dan berusaha menolong. “Beri waktu untuk berdoa agar iman tumbuh dalam keluarga. Dengarkan isteri, dengarkan suami, dengarkan anak-anak…dan beri waktu untuk Tuhan dengan rajin berkomunikasi termasuk tidak lalai melakukan kewajiban datang ke gereja setiap hari Minggu…” katanya dengan lemah lembut sambil mengajak umat menjadi pelaku Sabda Tuhan dan bukan penonton.
Menarik apa yang disampaikan dalam permenungan itu, karena orang sering ketergantungan dengan materi kekayaan. Ujung-ujungnya orang memandang diri sebagai pemilik kekayaan yang seharusnya hanyalah pengelola. Kita diajak melihat diri masing-masing apakah selama ini tujuan hidup kita hanya mencari kekayaan dan kelimpahan harta? Tentu hal ini tidak tujuan. Dalam hal ini, kita selaku umat perlu sekali menyadari bahwa kita hanya pengelola selama masih hiidup di dunia ini. Kita hidup untuk diri dan keluarga tetapi sekaligus hidup untuk sesama demi perkembangan bersama. Lewat permenungan itu, kita disadarkan bahwa harta tidak jaminan untuk mendapatkan keselamatan. Iman akan Tuhanlah yang menjamin kita bisa meraih keselamatan. Dan itu hanya bisa terwujud bila kita menjadi pelaku-pelaku Sabda Tuhan yang selalu mengajak kita untuk bertobat dan bertobat. ***
READ MORE - Tidak Boleh Mengandalkan Uang
Author: Anonim
•Senin, Agustus 24, 2009
PENGUKUHAN SISWA-I
KELAS SEKOLAH STANDAR NASIONAL (SSN) SMP FATIMA DAN RINTISAN SEKOLAH BERSTANDAR INTERNASIONAL (RSBI) SMA KATOLIK BERKESAN



Peresmian sekaligus pengkuhan siswa-i Kelas SNN SMP Fatima dan RSBI SMA Katolik Sibolga berlangsung sukses dan berkesan, pada hari Senin 24 Agustus 2009. Acara itu didahului dengan upacara bendera dengan pembina upacara Kadis Pendidikan Drs. Rustam Manalu dan dihadiri oleh Dewan Pembina Sr. Florentina Siregar SCMM, Ketua Yayasan Santa Maria Sr. Rosa Sihotang SCMM, Penasehat Yayasan Kamaruddin Gultom, Kepala SMP Fatima Sr. Cornelia Manao SCMM, dan Kepala SMA Katolik Sr. Francis Dakhi SCMM. Hadir seluruh Kepala Sekolah dan guru-guru se-Yayasan Santa Maria Berbelaskasih Sibolga, serta Bapak dan Ibu orangtua siswa-i yang anaknya dikukuhkan.


Pada upacara bendera itu bertindak sebagai pemimpin upacara yakni guru olahraga SMP Fatima Wenglin Rajagukguk, petugas penggerek bendera Evelyn, Marlin, dan Vivin.

Pada arahannya Pak Kadis memuji Yayasan Santa Maria sebagai masyarakat pembelajar. Menurutnya, salah satu bukti keberhasilan itu adalah berhasilnya Yayasan Santa Maria Berbelaskasih Sibolga merintis pendirian SSN dan RSBI. ”Ide, gagasan, dan usaha yang telah dilakukan Yayasan ini merupakan upaya untuk memajukan pendidikan yang bermutu dan berkualitas...” Ujar Pak Kadis atas nama Pemerintah Kota Sibolga merasa bangga.
Usai upacara bendera, seluruh peserta diajak oleh Panitia untuk mengikuti acara pengukuhan di aula SD RK jalan Katamso Sibolga. Turut menyampaikan kata-kata sambutan, Ketua Yayasan Sr. Rosa Sihotang dan Dewan Pembina Yayasan Sr. Florentina Siregar. Menurut pengakuan Sr. Rosa bahwa RSBI di SMA Katolik maupun SSN SMP Fatima tidak terlepas dari bimbingan Pak Kadis. Kata beliau, ”Kami bisa merintis pendirian Kelas SSN dan RSBI atas dukungan Pak Kadis, untuk itu, wajarlah kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak atas segala bimbingan dan arahan terlebih kesediaan Pak Kadis hari ini meluangkan waktu untuk meresmikan dan mengukuhkan program SSN dan RSBI di bawah Yayasan Santa Maria Berbelaskasih.....”
Sementara itu, Sr. Florentina yang selalu mengajak hadirin bertepuk tangan ketika menyampaikan sambutan mengutarakan hal yang sama kepada Pak Kadis dan seluruh jajarannya. Sr. Florentina menambahkan, bahwa tiga tahun yang silam telah merintis rencana mencanangkan Kelas SNN dan RSBI itu, namun sekarang hal itu baru terwujud pada saat Sr. Rosa Sihotang memimpin Yayasan Santa Maria Berbelaskasih Sibolga. Selaku Pembina beliau berpesan banyak, secara khusus kepada 36 siswa-i Kelas SNN dan 33 orang siswa-i Kelas RSBI. Kata Sr. Sr.Florentina, ”Anak-anak kami sekalian, gunakanlah kesempatan belajar di sekolah sebaik-baiknya untuk perkembangan pribadimu, sehingga citra Kota Sibolga semakin baik untuk masa yang akan datang...”
Ketika Peliput berita ini bertanya kepada Fransiska Putri Duha soal biaya dan bahasa yang digunakan selama proses belajar mengajar di Kelas RSBI itu, siswi yang mempunyai sekolah asal dari daerah jauh yaitu SMP Bintang Laut Teluk Dalam Nias Selatan mengatakan, ”Biaya uang sekolah 300 ribu, uang OSIS 2 ribu setiap bulan, Pak. Dan Guru-guru yang mengajar selama proses belajar mengajar 25 % berbahasa Inggris...” Sementara itu, Vanesa Nababan yang duduk pada kelas SNN menjawab, ”Kalau kami, Pak. Uang Sekolah setiap siswa hanya 200 ribu rupiah setiap siswa...”
Acara pengukuhan Kelas SNN dan RSBI itu ditandai dengan pemakaian baret atau topi yang dikenakan langsung kepada 2 siswa sebagai perwakilan. Bapak Kadis mengenakan baret kepada kelas RSBI, sedangkan Sr. Rosa Sihotang mengenakan kepada perwakilan Kelas SNN. Selanjutnya, diteruskan pemakaian baret itu kepada seluruh siswa-i lainnya oleh Kepala Sekolah SMA Katolik dan SMP Fatima. Setelah peresmian dan pengukuhan, turut menyampaikan sambutan mewakili orangtua siswa, menyanyikan lagu Padamu Negeri, foto bersama, foto guru-guru, dan ditutup dengan doa penutup oleh Kepala SD RK No.1 Sibolga Nelson Sitohang, S.Pd.

Edit Sibolga, 2 Oktober 2009
Elinus Waruwu, Guru SD RK No.4 Sibolga.
READ MORE - Pengukuhan SSN dan RSBI
Author: Anonim
•Senin, Agustus 24, 2009
“Saya terus terang tidak pernah bermimpi menjadi Wakil Walikota, tetapi ketika saya melihat fotoku itu... Wah...saya terkejut. Kami anggota Pramuka yang selama ini mendapat seleksi ketat sebagai Calon Anggota Paskibra Barisan-45, oleh Kakak Pembina membawa kami selama kurang lebih, waktu setengah hari mengunjungi langsung gedung DPRD Kota Sibolga. Kami mensimulasikan bagaimana cara mempraktekkan kepemimpinan daerah.“

Pernyataan itu diungkapkan Evelyn Elinawati Waruwu yang berkedudukan sebagai Wakil Walikota pada hari Sabtu, 18 Juli 2009. Sekitar satu jam mereka simulasi di kantor DPRD Kota Sibolga. Evelyn yang masih duduk di bangku sekolah kelas XI SMU Katolik Sibolga merasa gembira diberi kesempatan bagi seluruh rekan-rekannya Anggota Pramuka Kota Sibolga. Menurutnya, tidak semua anggota Pramuka bisa duduk di kursi terhormat seperti simulasi yang telah mereka lakukan. Mereka banyak belajar dan diajari bagaimana cara bertata bahasa, cara memutuskan hasil musyawarah, cara penyampaian pandangan umum, dan berbagai cara-cara lainnya. Perasaan pernah duduk di kursi terhormat itu bagi mereka adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak pernah disangka-sangka, dan tidak pernah akan terulang lagi.

Bisa dibayangkan, gedung DPRD itu tidaklah sembarang orang bisa masuk atau duduk di sana. Artinya, tiket memasuki gedung itu tidak bisa dibeli. Namun, mereka anggota Pramuka Kota Sibolga yang selama ini dibina dan diseleksi ketat berbulan-bulan, mendapat kesempatan terindah dalam pembinaan pramuka. Mereka juga belajar mempraktekkan bagaimana menjadi Pimpinan Daerah sebagai Walikota, Wakil Walikota, Ketua DPRD, dan Pimpinan SKPD lainnya. Ada acara penyampaian pandangan umum, pandangan Ketua-ketua Fraksi, dan lain sebagainya.
Anggota Paskibra Barisan -45 Kota Sibolga telah banyak belajar dari pengalaman yang diberikan oleh Kakak Pembina. Banyak hal telah mendewasakan para pelajar, bukan hanya latihan baris-berbaris tetapi sungguh-sungguh dibekali berbagai pengetahuan berguna selaku generasi muda Kota Sibolga.

Evelyn sendiri termasuk yang beruntung bisa terpilih sebagai Anggota Paskibra Barisan – 45. Dan dia pernah mensimulasikan cara penzampaian pandangan umum selaku Wakil Walikota, dia menutup pembicaraan dengan berkomentar, “Saya kira semangat juang para saudara-i anggota Paskibra Kota Sibolga telah banyak tumbuh dan berkembang. Saya sendiri sangat merasakan hal itu lewat kegiatan pembinaan-pembinaan oleh Kakak Pembina. Kami dituntut mandiri, dididik, diajari sehingga mampu melakukan hal-hal yang seyogianya belum bisa. Saya bisa melakukan tugas sebagai Wakil Walikota bukan karena saya hebat, namun saya telah dididik dan diajari sehingga tugas selama kurang lebih satu jam itu, pada akhirnya saya mampu dan bisa menzampaikan pandangan umum zang sangat mengesankan. Bagi saya, inilah pertama kali pernah pijakan kaki di kantor DPRD Kota Sibolga, dan posisi saya langsung sebagai Wakil Walikota pula. Dan sekalipun hanya satu jam kami simulasi di kantor terpandang itu, saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Mudah-mudahan bila kelak saya telah berhasil, bisa duduk lagi di kursi itu karena menurut saya enak duduk di kursi itu, tidak seperti kursi atau sofa yang ada di rumah... nyaman lho...“

Kita mengucapkan selamat kepada Evelyn, dan semua Anggota Paskibra Barisan-45 Kota Sibolga Tahun 2009. Selamat dan sukses!

Laporan:Elinus Waruwu.
Guru SD Swasta RK 4 Sibolga*
READ MORE - Wakil Walikota Satu Jam
Author: Anonim
•Jumat, Agustus 21, 2009
Pada hari Kamis cerah, 30 Juli 2009 Wakil Walikota menyerahkan penghargaan berupa tropy, piagam, dan uang kepada Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru-guru berprestasi Tingkat Kota Sibolga tahun 2009. Seperti tahun-tahun sebelumnya penetapan peringkat yang memperoleh penghargaan hanya diambil dari peringkat pertama sampai ketiga.

Pada kesempatan itu, guru SD Negeri 081236 Sibolga atas nama Nofewati Laia, S.Pd. berhasil meraih Juara II Berprestasi untuk kelompok guru SD/MI. Penghargaan diserahkan langsung oleh H.Afifi Lubis, SH selaku Wakil Walikota Sibolga. Acara penyerahan hadiah berlangsung di halaman kantor Dinas Pendidikan jalan Tuanku Dorong Hutagalung No.4 Sibolga disaksikan oleh Drs. Rustam Manalu selaku Kepala Dinas, dan seluruh Staf Dinas Pendidikan lainnya.

Keberhasilan Sekolah

Usai penyerahan hadiah di kantor Dinas Pendidikan tersebut, terpancar kegembiraan di wajah Nofewati Laia,S.Pd. yang sehari-hari mengajar sebagai Guru Kelas I tempatnya bertugas. Hadiah penghargaan yang baru diterimanya itu, langsung dibawa ke sekolah tempatnya mengabdi. Menurutnya, prestasi yang diraih itu adalah keberhasilan sekolah, dan oleh karena itu dengan gembira dan bangga menyerahkannya kepada Ibu H. Annur Rosidah Nasution, S.Pd. selaku Kepala Sekolah. ”Ini tanda kegembiraan dan kebanggaan sekolah kami. Bila tahun lalu sekolah kami gagal meraih prestasi pada lomba yang sama, sekarang saya merasa lega telah berhasil memberikan peringkat terbaik kedua, dan prestasi itu saya sadari bisa meraihnya karena dukungan pembinaan Kepala Sekolah dan doa restu rekan-rekan Guru di SDN 081236 sekolah kami..” Ibu Laia mengenang keberhasilan dan menjelaskannya.

Sementara itu, ketika ditanyakan kepada Ibu Annur selaku penanggungjawab di SD Negeri 081236 Sibolga atas keberhasilan guru binaannya itu, beliau mengakui setelah sekian tahun memimpin sekolah itu, baru kali inilah mendapat keberhasilan dalam membimbing guru-gurunya. Beliau merasa senang dan gembira, bahkan berharap Guru-guru binaannya akan terus meraih yang terbaik. Mudah-mudahan dengan prestasi yang telah diraih SDN 081236 Sibolga saat ini, akan terus memotivasi semua warga sekolahnya dan menuai keberhasilan sekolah yang pantas dibanggakan.

”Saya selaku Kepala Sekolah merasa bangga dan senang atas keberhasilan ini. Manajemen soft skill yang selama ini telah saya terapkan, kini membawa keberhasilan sekolah. Oleh karena itu, saya mengajak semua guru-guru di SD Negeri 081236 ini untuk terus berkompetisi secara sehat dan mensosialisasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh itu untuk kemajuan sekolah, yaitu keberhasilan peserta didik untuk masa-masa yang akan datang.” Demikian Ibu Annur, menutup pembicaraan dengan harapannya.

۩ Elinus Waruwu,
Guru SD RK No.4 Sibolga melaporkan.

READ MORE - Guru SDN 081236 Meraih Juara II Guru Berprestasi Tingkat Kota Sibolga Tahun 2009
Author: Anonim
•Rabu, Agustus 19, 2009
Dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-64 di SMK PGRI 4 Sibolga telah diadakan berbagai lomba. Ada lomba tarik tambang, memasukan paku ke botol, dan berbagai lomba lainnya. Salah satu yang menarik adalah lomba kreativitas mengarang yang dikoordinir oleh Delima Parhusip guru SMK PGRI 4 Sibolga dan Elinus Waruwu mahasiswa STKIP Tapanuli Selatan yang bertugas menjalankan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

Menurut Delima Parhusip, lomba kreativitas mengarang yang diadakan oleh pihak sekolahnya merupakan salah satu upaya meningkatkan dan menanamkan kompetensi di bidang pendidikan, perjuangan, dan peranan generasi muda dalam hal pembangunan. Perlombaan kreativitas mengarang seperti telah terlaksana di SMK PGRI 4 Sibolga menekankan 4 poin penilaian, yaitu (1).kesesuaian judul dan alur cerita, (2).ejaan (EYD), (3).kerapian dari segi indahnya karangan, dan (4).ide gagasan baru yang dimunculkan oleh peserta lomba pada tulisan hasil karangannya.

Ibu Delima Parhusip menambahkan, bahwa lomba yang diadakan itu sesungguhnya dapat dijadikan bahan masukan umpan balik, sudah sejauh mana tingkat kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa-siswi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Dan ternyata, dari 28 orang siswa kelas X, XI, dan XII yang turut mendaftarkan diri dan mengikuti kegiatan, para siswa mengakui dan merasakan lomba kreativitas itu sangat mengesankan. Ibu Delima berkata,”Saya melihat banyak sekali yang berminat mengikuti lomba kreativitas mengarang ini. Sayang dibatasi hanya 2 orang mewakili setiap kelas. Beberapa peserta masih mengalami kesulitan khususnza siswa yang kurang rajin belajar. Dari beberapa hasil lomba mengarang ada temuan yaitu munculnza beberapa karangan siswa tidak nyambung dengan tema, dan ada yang tidak sesuai alur cerita, bahkan ada yang sama sekali ide gagasan baru yang kita harapkan itu belum muncul...”

Akhirnya, lomba kreativitas mengarang tingkat sekolah di SMK PGRI 4 Sibolga tahun 2009, Dewan Juri menetapkan: Juara I atas nama Sri Wahyuni kelas XII TKJ dengan nilai rata-rata 85,50. Dan berturut-turut Juara II Leonardo kelas XII TKJ nilai 80,50 dan Juara III Metty Kusriani Harefa kelas XI AP 2 nilai 78,50 serta Juara Harapan I atas nama Yenni Kartika XI AP 1 nilai 78,00. Mereka yang memenangkan lomba kreativitas masing-masing mendapat penghargaan berupa sertifikat dan hadiah hiburan lainnya. Selamat ya!

Penulis berita: Elinus Waruwu
Mahasiswa STKIP Tapsel Padangsidimpuan NPM 05010037.

READ MORE - Lomba Kreativitas Mengarang Tingkat Sekolah SMK PGRI Kota Sibolga
Author: Anonim
•Senin, Agustus 17, 2009

Pada hari Senin, 17 Agustus 2009 pukul 16.47 WIB Ester Elinawati (Siswi kelas V Tahun Pelajaran 2009/2010) bersama Ibu Marta Marbun, S.Pd. selaku Guru Pembimbing mewakili sekolahnya untuk penerimaan hadiah. Sekolah mereka meraih Juara I Lomba Paduan Suara, Juara III Vokal Group, dan Juara Harapan I lomba gerak jalan Tingkat Kota kelompok SD/MI se-Kota Sibolga. Menurut kedua perwakilan SD Swasta RK No.4 Sibolga, mereka bangga merayakan 64 tahun kemerdekaan RI tahun 2009. “Bila Para pahlawan berjuang mengangkat senjata melawan musuh, kami berjuang tidak demikian lagi. Kami berjuang membawa nama baik sekolah...” tutur Ester.

Ketika dilontarkan komentar, “Oh kalau demikian, apakah kalian pahlawan pejuang pendidikan?”Kedua perwakilan SD Swasta RK No.4 Sibolga itu tidak berani menjawab, keduanya hanya tersenyum bangga. Mereka bangga, menerima hadiah sore itu yang langsung diserahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Drs. Rustam Manalu.
Selamat ya!


Laporan :
Elinus Waruwu melaporkan.
READ MORE - Bangga Menerima Hadiah
Author: Anonim
•Sabtu, Agustus 15, 2009
Topot Limbong sedang memimpin pemilihan.

Pemilihan Sintua Lingkungan Perlu Dibudayakan Pemilihan Sintua merupakan kaderisasi membangun budaya menjadi pengurus gereja di Stasi Santu Petrus Mela. Budaya kelangsungan regenerasi untuk masa 3 tahun ke depan di lingkungan itu sendiri. Maka Dewan Pastoral Stasi Inti (DPSI) harus menata pemilihan Calon Sintua sesuai 1). aturan, 2).petunjuk Pastor Paroki, 3).rapat pengurus, 4).kebijakan Dewan Pleno Stasi itu sendiri.

Memberdayakan umat lingkungan dengan cara pemilihan suatu keunggulan gereja setempat. Keputusan calon Pengurus baru dimulai dari akar lapisan bawah (lingkungan). Bila ada selama ini hanya aklamasi atau main tunjuk saja, di gereja katolik stasi St. Petrus Mela sungguh berbeda. Calon Sintua dijaring dari lingkungan sehingga mempunyai dasar dukungan umat berbasis lingkungan setempat. Dan itulah yang terjadi di Gereja Katolik Mela, 3 bulan sebelum habis masa periode sudah dimulai pemilihan, dua minggu berturut-turut diumumkan di gereja, dan diberi undangan resmi untuk setiap keluarga agar turut serta mengikuti dan berpatisipasi melalui acara pemilihan pengurus baru.
Budaya pemilihan pengurus baru (Sintua) di Mela itu sungguh berdasar, dirasakan umat setempat, sukses, dan berkesan (Kamis,6/8). Hal-hal yang terlaksana di lingkungan dilengkapi dengan Tata Acara Ibadat, dan Acara Pemilihan. Sintua dari lingkungan lain (bukan di lingkungan tersebut) bertugas memimpin acara. Acaranya sederhana, setelah lagu pembukaan disusul doa lalu bacaaan kitab suci dari Yunus 2:1-10 dan renungan singkat. Saat pemilihan Calon, diiringi lagu Madah Bakti Turunnya Roh Kudus.

Di lingkungan Simpang Tiga 1, bertugas 2 orang Sintua yaitu Topot Limbong, S.Ag dan P.Hutabarat. Pak Limbong pada renungan yang disampaikan kepada umat lingkungan itu, cerita singkat tentang Yunus dalam menjalani panggilan. “Yunus selalu bersyukur kepada Tuhan, sekalipun dia berada di perut ikan dalam situasi yang sulit, penuh masalah atau problem. Melalui kisah Yunus itu kita bisa belajar lewat pemilihan calon sintua. Ini dasar pemilihan yang kita laksanakan. Di mana kita masih melihat kesulitan untuk mencari orang yang mau menjadi pengurus/ Sintua. Maka, mari dalam pemilihan ini selalu ingat kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam menggerakkan hati kita untuk memilih calon sintua lingkungan kita ini. Saya harapkan kepada umat yang terpilih nanti dengan suara terbanyak nanti, tidak menolak dan mau mengikuti panggilan Tuhan yang terpilih sehingga terwakili suara murni oleh suara umat pada pemilihan di lingkungan kita ini…“

Di Lingkungan Simpang Tiga 1 yang dihadiri 32 orang umat, terpilih Calon Sintua: Linus Elinus Waruwu (30 suara), Johannes C. Nadapdap (27 suara), dan Uskiman Habeahan (22 suara). Di lingkungan Simpang Tiga 2 yang dipimpin oleh Sintua yakni Bepo Tambunan dan S. Gulo dihadiri 41 orang umat terpilih Polmen Sitohang (35 suara), Harjon Manalu (35 suara), dan Ibu Fleriana Fau (21 suara). Sementara itu di Lingkungan Pintu Angin/ Panomboman yang dipimpin oleh Sintua Markus Sitanggang dan Junris Silaban berhasil memimpin acara pemilihan yang dihadiri 21 orang. Di lingkungan itu terpilih Ibu Jujur A. Marbun (15 suara), Contantinus K. Manalu (12 suara), Janner Tamba (10 suara), dan Ibu Hutasoit (10 suara).

Selanjutnya, budaya pemilihan Calon Sintua Lingkungan itu diteruskan hari Kamis (13/8). Dan berlangsung pemilihan Calon Sintua pada tiga lingkungan lainnya. yaitu di lingkungan Aek Lobu yang dihadiri 33 orang umat, terpilih Calon Sintua: Aloysius Junris Silaban (30 suara), Markus Sitanggang (28 suara), dan Robert Simarmata (14 suara). Lingkungan Jampalan Bidang yang dihadiri 24 orang umat, terpilih Persi Hutabarat (22 suara), Topot Limbong (22 suara),dan Ruslan Pasaribu (8 suara). Di Lingkungan Pancur Sikip yang dihadiri 25 orang umat, terpilih Beppo Tambunan (24 suara), Simoni Gulo (23 suara), dan Nicolaus Nosimano Waruwu (16 suara). Sukses!

Elinus Waruwu.

READ MORE - Pemilihan Sintua Perlu Dibudayakan
Author: Anonim
•Sabtu, Agustus 08, 2009
Bila tahun 2008 SD Swasta RK 4 Sibolga meraih juara I lomba paduan suara tingkat SD/MI se-Kota Sibolga, maka untuk tahun 2009 masih tetap meraih yang terbaik. Keberhasilan itu sesungguhnya karena kedisiplinan dan kekompakan ketika mereka latihan di sekolah. Secara teratur kelompok paduan suara dari sekolah itu latihan rutin setiap hari dari 17 Juli s/d 7 Agustus 2009 dari jam 10.00 – 11.00 Wib. Dan hasil dari kedisiplinan latihan itu menjadikan/ menetapkan sekolah itu sebagai kelompok paduan suara tak terkalahkan dari 60 peserta lomba.

Menurut Ibu Marta Marbun,S.Pd selaku guru pembimbing, tidak ada KKN pada penilaian Dewan Juri. Namun, murni hasil perjuangan mereka di mana setiap hari kelompok paduan suara itu disiplin latihan, dan sebelum latihan siswa-siswinya selalu diberi bimbingan, arahan, dan mengingatkan untuk mencapai target meraih juara I kepada siswa-siswinya seperti tahun lalu.
Di sekolah itu, ada seleksi kelayakan intonasi bidang pengembangan diri yang tepat untuk setiap siswa (suara dites, dan dikelompokkan cenderung ke suara 1 ataukah 2). Setelah diseleksi dan jelas mana suara 1 dan 2, lalu dibagi sesuai dengan warna suara (intonasi). Secara berkelompok latihanpun dilaksanakan, dan selanjutnya diberi bimbingan dengan melatih sesuai kelompok suara 1 dan baru suara 2. Setelah mantap dan bertahan di suara masing-masing, barulah digabungkan secara bersama-sama.

Ketika Ibu Marbun ditanya tentang keunggulan mereka hingga sekolahnya dapat meraih juara I (8/8). Beliau dengan puas dan bangga mengatakan, ”Puji Tuhan...keunggulan kami... itulah tadi, suara 1 dan 2 itu berimbang dan tetap bisa bertahan sesuai not yang diperankan masing-masing. Kemudian... penghatan, penjiwaan dan mimik ketika menyanyikan lagu itu terpancar baik dan seragam...”

Ester E.Waruwu (siswi kelas V) yang menjadi dirigen pada lomba paduan suara mewakili sekolahnya itu, menyatakan hal senada dengan guru pembimbingnya. Ester berkata, ”Kami bukan sombong ya, tapi kami bisa menyanyikan nada G tinggi pada lagu Indonesia Raya itu. Kawan-kawan saya juga tidak fals ketika menyanyikannya. Dan sama halnya ketika kami menyanyikan lagu Mars Sibolga Nauli suara 2 kami berimbang, jelas kedengaran dan mimik selaras.”

Begitulah prestasi SD Swasta RK No.4 Siboga dalam rangka porseni. Sekolah itu berturut-turut mampu mempertahankan Juara I pada lomba paduan suara tingkat SD/MI se-Kota Sibolga. Dan tentu saja, patut dibanggakan. Selamat ya!*

Laporan:
Elinus Waruwu

READ MORE - SD Swasta RK 4 Sibolga Juara I Paduan Suara Tahun 2008 dan 2009
Author: Anonim
•Selasa, Agustus 04, 2009
PELANTIKAN PENGURUS PSBG CEMERLANG DAN PENYERAHAN HADIAH LOMBA KREATIVITAS PEMBUATAN ALAT PERAGA MURAH (APM) BINAAN DBE 2 KOTA SIBOLGA

Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Sibolga Drs. Rustam Manalu selaku pembina DBE 2 Kota Sibolga, didampingi Staf Dinas Pendidikan Dikjar Drs. Porman Bakara dan Jhonson Sihombing, S.Pd. mendapat undangan khusus dari DBE 2 PSBG Cemerlang yakni di SD Negeri 081240 Jalan Merpati Sibolga Selatan. Pada kesempatan itu (1/8), Pak Kadis melantik pengurus PSBG Cemerlang Sibolga Selatan yang baru.

Pengurus baru yang dilantik oleh Pak Kadis Pendidikan Kota Sibolga yaitu Ketua Sahala Gultom,S.Pd., Wakil Ketua Parluhutan,S.Pd., Sekretaris Sova Yuliana Sari,S.Pd.I., Wakil Sekretaris Drs.Herianto, Bendahara Roslina Tanjung,S.Pd., Koordinator Pengembangan Profesional Nursamida Sibarani,S.Pd., Koordinator Informasi Mico Mahulae, Koordinator Pertemuan Elfrida Sianturi,S.Pd., dan Koordinator Produksi Rosmawati Zega, S.Pd.

Selain itu, Pak Kadis juga menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba kreativitas guru-guru binaan DBE 2 Sibolga Selatan, khususnya perlombaan kreativitas dalam hal pembuatan alat peraga murah (APM) yang telah terlaksana 31 Juli 2009. Darwin Siregar,S.Pd. selaku DLC Sibolga Selatan dan Tapanuli Selatan sekaligus penanggungjawab PSBG Sibolga Selatan, menjelaskan sebanyak 19 APM yang ditampilkan dari hasil karya ciptaan masing-masing guru tersebut, turut ambil bagian mengikuti kegiatan lomba. Dan Enam APM ditetapkan masuk nominasi terbaik menjadi pemenang, yaitu Juara I atas nama Sri Yuliana Sari SDN 085118, Juara II Hasnah Irawati Lubis SDN 086441, Juara III Nur Azizah, S.Pd. SDN 087695. Dan peringkat 4 jatuh di tangan Meilina Sari, S.Pd.I dari MIS Nurul Falah, peringkat 5 Rosinta Sihotang SDN 081240, dan terakhir peringkat ke-6 atas nama Nofewati Laia, S.Pd. dari SDN 081236 Sibolga Selatan. Guru-guru yang berhasil itu memperoleh penghargaan berupa tropy, piagam, dan uang pembinaan.

Pak Kadis Pendidikan merasa senang atas upaya DBE 2 Sibolga Selatan yang telah berusaha membina dan menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk terus memotivasi guru dalam peningkatan profesionalismenya. Menurut Pak Kadis, guru-guru kita diminta terus untuk meningkatkan kinerjanya dalam mendidik dan mengajar anak bangsa. Peningkatan kinerja dalam memberhasilkan pembelajaran di sekolah dapat dijadikan dasar untuk membangun generasi muda (peserta didik) yang ujung-ujungnya beberapa puluh tahun ke depan peserta didik itu akan memimpin dan menggantikan posisi generasi tua kelak.

Pak Manalu juga memberi pujian kepada guru-guru binaan DBE 2 itu, menurut beliau guru-guru binaan DBE 2 Kota Sibolga telah banyak memajukan pendidikan lewat karya dan berbagai usaha dalam kegiatannya. Maka, beliau berharap guru-guru binaan DBE 2 Kota Sibolga hendaknya terus-menerus menciptakan pembelajaran yang inovatif seperti membuat alat peraga murah (APM) untuk mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Ditambahkannya, bahwa keberhasilan pendidikan adalah upaya menciptakan generasi yang cerdas dan kompetitif secara sehat. Oleh karenanya perlu terus dilakukan perbaikan, dan guru harus mampu memotivasi peserta didik agar bisa meraih prestasi-prestasi yang terbaik.

۩ Elinus Waruwu,
Guru SD RK 4 Sibolga melaporkan.

READ MORE - Pelantikan Pengurus PSBG Cemerlang Sibolga Selatan
Author: Anonim
•Kamis, Juli 30, 2009

Oleh: NOFEWATI LIA, S.Pd.

"Guru yang baik terus berupaya menimba pengalaman. Dan pengalaman itu adalah guru terbaik."

Barangkali latar belakang pernyataan itulah kiranya, banyak guru di bawah binaan DBE 2 Kota Sibolga, termotivasi membuat alat peraga murah dengan tujuan perbaikan pembelajaran. Singkatnya, ide mencipta alat peraga murah yang dipaparkan lewat tulisan ini, berawal dari binaan DBE 2 Kota Sibolga dalam upaya menciptakan alat peraga murah, aman, nyaman dan menyenangkan.

Maka dari hasil penilaian Dewan Juri Tim DBE 2 Kota Sibolga, alat peraga murah dengan judul ”Ulat Pembelajaran” karya penulis sendiri, Nofewati Laia, S.Pd. telah dinilai dan ditetapkan sebagai peringkat 6 dari 19 orang guru binaan DBE 2 yang mengikuti lomba mencipta alat peraga. Hadiah berupa piala, piagam, dan uang 100 ribu rupiah telah penulis terima langsung dan diserahkan Bapak Kepala Dinas Pendidikan Drs. Rustam Manalu (Sabtu, 1 Agustus 2009).


Bahan, Alat, Cara Pembuatan, dan Penggunaan

Melalui tulisan berikut, penulis ingin membagi pengalaman dalam menciptakan alat peraga murah (APM) itu buat rekan-rekan guru SD, khususnya inovasi baru pada pembelajaran bahasa Indonesia dan matematika di kelas awal (rendah). Sekali lagi, alat peraga murah serba guna ”Ulat Pembelajaran” praktis dipergunakan di kelas awal karena cukup sederhana dan mudah untuk didapat.

Adapun bahan pembuatan alat peraga murah ”Ulat Pembelajaran” ini cukup 4 macam saja, yaitu 1).cangkang telur, 2).kertas karton/ kertas kilat, 3).lem, dan 4).tusuk gigi. Alat yang dipergunakan untuk membuat menjadi alat peraga yaitu pisau kertas dan gunting. Cara pembuatan APM ”Ulat Pembelajaran” cukup sederhana dan mudah, yaitu (1).potong cangkang telur dengan pisau/ gunting, (2).beri hiasan menarik dengan kertas berwarna, (3).bentuk menjadi ulat pembelajaran, (4).beri lubang tempat huruf dan angka, (5).pergunakan sesuai tingkat kemampuan/ kebutuhan level anak.

Cara penggunaan APM ”Ulat Pembelajaran” yang penulis programkan sendiri ini, diterapkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas I semester 1 dengan kompetensi dasar yakni mencontoh huruf, kata, kalimat sederhana dari buku atau papan tulis dengan baik dan benar, dengan materinya yakni penulisan huruf, kata, dan kalimat. Peserta didik diajak mengenal huruf dengan memasang huruf-huruf tersebut pada APM ”Ulat Pembelajaran”. Hal yang sama pada mata pelajaran matematika di kelas I semester 1 dengan kompetensi dasar menguraikan banyak benda pada materi operasi hitung bilang.

Tentu dalam hal PBM ini guru mempersiapkan peserta didik seperti bermain sambil belajar, sistem pakem harus berlangsung selama proses belajar mengajar, sehingga peserta didik merasa senang dan tidak sampai membosankan, peserta didik diupayakan terlibat langsung melaksanakan pembelajaran sesuai petunjuk. Contoh instrumen sederhana perintah dari guru, ”Anak-anak, siapa yang sudah mengenal huruf i ? Nah, ambil huruf i itu dan pasangkan di Ulat Pembelajaran kita!” Demikian seterusnya sampai terbentuk kata, misalnya kata ibu.

Guru dapat meminta peserta didik untuk mencari huruf atau angka yang sudah dikenal secara bergiliran. Kemudian, peserta didik diminta untuk memasang huruf/ angka tersebut pada alat ”Ulat Pembelajaran”. Nah ketika anak mampu dan bisa melakukannya sendiri, maka diberi motivasi berupa pujian, misalnya bertepuk tangan. Secara tidak sadar peserta didik digiring untuk lebih cepat memahami sekaligus mengenal dengan lebih cepat membaca, menulis, dan berhitung.

Alat peraga murah (APM) ”Ulat Pembelajaran” buatan guru sendiri pada pembelajaran bahasa Indonesia dan matematika yang inovatif, seperti dikemukakan dalam prinsip-prinsip metode belajar yang pakem dapat meningkatkan keterampilan anak-anak didik dalam pengembangan bakat dan kemampuannya. Baik mata pelajaran bahasa Indonesia juga matematika.

Penerapan APM ”Ulat Pembelajaran” dalam mengajar yang pakem, secara tidak langsung memberikan rasa percaya diri pada anak-didik dan membantu mereka berprestasi. Hemat penulis, APM “Ulat Pembelajaran” ini merupakan sebuah alat peraga soft skill (keterampilan hidup) yang perlu diterapkan oleh guru-guru dan dipraktekkan oleh setiap peserta didik dalam mempersiapkan diri menyongsong masa depan yang lebih baik dan cerah.

Penulis menyarankan kepada Pemerintah, Yayasan Pengelola Sekolah, secara khusus Gugus Binaan DBE 2 Kota Sibolga agar tetap mengadakan pusat-pusat pembinaan kepribadian guru, termasuk lomba membuat APM seperti telah kami ikuti ini. Dan pembinaan pendidikan sebaiknya terus menerus dilakukan. Guru perlu belajar menciptakan alat peraga baru, PTK, dan menguasai IPTEK. Penulis yakin melalui pembinaan pendidikan, kita telah turut mempersiapkan generasi yang akan datang (future generation) berperan aktif dan bertanggungjawab dalam masyarakat global, masyarakat pembelajar (learning society) abad 21 ini. Salam Pendidikan! *

READ MORE - APM Ulat Pembelajaran Karya Nofewati Laia, S.Pd.