Hari ini (28/1) Pastor Paroki dan seluruh umat di Katedral St.Teresia Sibolga bergembira karena resmi mendapat Imam baru. Umat pantas bersyukur dan berterima kasih karena tenaga Imam bertambah di Katedral itu, mereka merayakan lewat syukuran perayaan Misa Pertama dan acara ramah tamah.
“Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang diterpilih…” Kata-kata yang biasa terdengar bila adanya Imam baru yang hadir di tengah-tengah umat. Begitulah peristiwa penting ketika hadirnya seorang Imam baru yaitu P. Martin Halawa Pr yang telah ditahbiskan 25 Februrai 2010 di Nias. Kini, Pastor muda itu memulai tugas pertama di Katedral Santa Teresia Sibolga. Diawali pagi, Misa Pertama dua kali di Katedral setelah adanya ketetapan dan ditetapkan Bapak Uskup Mgr.Ludovikus Simanullang OMCap sebagai Pastor Pembantu di Katedral Santa Teresia Sibolga. Acara kegembiraan diakhiri pada pesta penyambutan imam baru malam harinya.
Pesta syukur dan sederhana atas Imam yang baru disambut dengan baik oleh Pastor Paroki P.Alfons Ampu Pr bersama ratusan orang mewakil umat pada acara ramah tamah. Turut menyampaikan kata-kata sambutan mewakili umat, stasi-stasi, paroki, dan keuskupan. Tampak hadir pada acara ramah tamah di ruang pertemuan paroki itu, antara lain P.Metodius Sarumaha OFMCap sekretaris Keuskupan, P.Barnabas Winkler OFMCap mantan Administrator, P.Kristof Jansen OFMCap dan P.Blasius Fau OFMCap mewakili para imam senior, P.Posma Manalu Pr (Pastor Paroki Santu Yosef), dan beberapa komunitas seperti SCMM, OSF, Asrama Putri, dan Tokoh-tokoh umat lainnya.
Dukungan Doa dan Hiburan
Ibu Evelyn yang mewakili sambutan atas nama umat Paroki menyatakan dukungan doa untuk Pastor yang baru. Bahkan ibu itu mengungkapkan perasaan sangat senang dengan bertambahnya Imam di katedral Sibolga, lanjutnya, pada misa pertama pagi itu dia sangat terpesona dengan kisah cerita P.Martin yang satu minggu sebelum ditahbis, keluarga yang dari semula Protestan akhirnya menjadi Katolik. “Itu sangat luar biasa Pastor, perjuangan berpuluh tahun di mana keluarga Pastor belum katolik, dan itulah karya Allah yang sangat besar lewat pribadi Pastor, luar biasa, Pastor…” tutur Ibu Evelyn yang selalu tekun, dan rajin berdoa melalui kelompok persekutun doa karismatik di Paroki itu, sambil mengajak seluruh umat Paroki mendukung tugas-tugas panggilan Pastor baru.
Dukungan doa itu juga mengalir dari P.Metodius Sarumaha OFMCap ketika menyampaikan sambutan, harapan dan penegasan tentang tugas P.Martin sebagai pastor pembantu. Pastor Metodius menyatakan senang atas dukungan umat terhadap Pastor baru, sebagaimana telah dirangkai pada acara sederhana dan harapan-harapan umat yang telah disampaikan. Ada kesan bahwa P.Martin sangat dicintai oleh umat di Paroki itu dengan memberikan dukungan berupa materi dan kado-kado. Memang benar, dari perwakilan umat itu banyak menyampaikan ampau, amplop, kado sebagai tanda dukungan. Bahkan P.Martin juga diulosi sebagai tanda cinta dari umat. Maka, Keuskupan berharap dengan tanda itu semua, meneguhkan P.Martin seperti gema pada Injil hari ini: “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia…”. Kutip P.Metodius sambil berharap kepada Pastor Paroki yang sudah senior berpengalaman dalam menangani dan melayani paroki agar nantinya bisa bekerja sama.
Terlihat pada acara syukuran itu, ada cara makan bersama. Beberapa selingan berupa hiburan menyelingi kata-kata sambutan seperti dari kelompok Susteran SCMM, Asrama Putri Santa Anna, Susteran OSF yang kesemuanya lagu rohani dari bahasa daerah Batak maupun Bahasa Indonesia. Secara bergurau ketika mengucapkan terima kasih, dan menyanyikan tiga buah lagu yang diringi gitar oleh Sr. Clara Manao OSF saat menyapa umat menyampaikan mohon maafnya. “Saya berterima kasih kepada seluruh Panitia dan seluruh umat yang telah bersusah payah menyiapkan semua kegembiraan ini, yah… seandainya bukan pada masa Prapaskah mungkin pesta kita ini jauh lebih besar lagi dibuat oleh Paroki.” sindir P.Martin sambil terus bernyanyi dan sesekali menanyakan apakah masih ada kado pemberian umat lagi. Selamat ya, Pastor Martin, semoga imamat kekal samai akhir ! ***
“Umat hanyalah abu, pengembara bagai gelandangan, dan orang asing yang menumpang sementara di dunia….”
Pernyataan itu diutarakan oleh P.Raymond Laia OFMCap (44) ketika berkunjung dan memimpin Misa Perayaan Minggu Prapaskah pertama (21/2) di stasi St Petrus Mela. Menurutnya, bila umat tidak menyadari diri sebagai orang rendahan maka sulit mengosongkan diri untuk sadar. Teks-teks bacaan pilihan gereja masa prapaskah I adalah teks indah yang perlu dicermati oleh umat. Dia menjelaskan beberapa kata kunci yang menjadi inti bacaan. Bacaan pertama adalah pengakuan iman umat Israel yang mengakui asal-usul nenek moyang dari abu, bacaan kedua merupakan pengakuan iman sebagai umat Kristen, dan ketiga bacaan Injil yang bercerita bagaimana pencobaan iblis yang dialami Yesus ketika berpuasa.
Penerimaan Abu
Memang, lanjut P.Raymond, dari sejarah masa perjanjian lama bangsa Israel sampai pada sebutan umat Kristen hingga zaman kita sekarang sudah nyata kita berasal dari abu. Bahkan kita hanyalah penumpang bagai anak jalanan, gelandangan dan orang asing. Pengakuan spritualitas sebagai umat yang memposisikan diri orang asing itu, menunjukkan tidak ada tempat yang tetap, maka harus berpindah karena keseluruhan hidup kita hanya peziarah di dunia dan bumi bukan rumah abadi. “Pondokmu (tubuh yang fana) akan dibongkar..” kata Pemazmur.
Menyinggung soal budaya Batak di daerah Tapanuli itu, di mana adanya acara “Mangokkal Holi” arti pemindahan atau pengangkatan tulang belulang, itulah satu tanda bukti begitu dihormatinya abu dalam budaya. Tulang nenek moyang itu apalah artinya? Tetapi begitulah, sangat dihargai dan dihormati sebagai tanda hormat, padahal lanjutnya, sesungguhnya tulang itu juga akhirnya jadi abu. Hal yang sama bagi warga Tionghoa yang beragama Budha juga menghormati abu orangtua mereka dengan cara dibakar dan dikremasi. “Semua menunjukkan kesadaran berasal dari abu dan pada akhirnya kembali jua jadi abu!” urai P.Raymond yang menyentuh hati umat secara nyata.
Nilai Kejujuran, Pencobaan, dan Kuasa
Lebih jauh P.Raymod menekankan lewat peristiwa abu ada nilai kehidupan yang bermakna sangat mendalam yakni pengakuan kejujuran diri. Pada zaman sekarang, banyak orang yang berpura-pura baik. Ada banyak yang menutupi diri (bertopeng) dan melupakan kesalahannya tanpa dimaknai pertobatan. Hidup orang seperti itu tidak peduli penghayatan iman, dan sering suka berbohong pada diri sendiri dan orang-orang sekitarnya. Kalau sudah begini maka nilai kejujuran mematikan kebenaran dalam hal bertobat. “Makna pertobatan yakni kembali menyadari diri dari sikap berpura-pura, merenungkan, lalu berubah dengan pengakuan pada kejujuran diri sendiri sesuai yang sebenarnya.” tandas P.Raymond penuh semangat.
Semboyan lain yang senada dengan keterangan P.Rayomod itu bisa juga kita baca seperti tertulis di sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) seperti di Medan misalnya berbunyi “Orang yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya”. Pendapat ini amat dalam artinya bila dihayati dan diamalkan. Mengenal diri berasal dari abu yang diangkat sebagai makhluk mulia oleh Tuhan, maka diminta nilai kejujuran tetap tumbuh dalam hidup dan perlu dibudayakan. Masalahnya banyak orang yang tidak mengenal dirinya siapa, menyebabkan mata bagaikan silau akibat kenikmatan duniawi yang tidak menyadari diri peziarah atau hanya sementara selama berada di bumi ini (tidak abadi).
Menyinggung perihal pencobaan seperti dialami Yesus ketika iblis menggoda, nilai kejujuran jelas terpancar tidak bisa dikalahkan oleh iblis. Iblis datang lalu mengetes Yesus di saat puasa, bayangkan ketika sudah tidak makan dan minum 40 hari, ini mempengaruhi kondisi fisik dan moral, dan kesempatan itulah yang digunakan iblis mencobai Yesus. Iblis tahu bahwa Yesus mempunyai kuasa yakni mampu mengubah batu menjadi roti, kuasa itu jelas ada pada Yesus, maka iblis memanfaatkan kesempatan masa puasa itu agar dapat membatalkan puasa niat baik dan kejujuran yang dilakukan oleh Yesus. Ternyata, kuasa itu tidak mau dipergunakan Yesus untuk membohongi dirinya (inilah nilai kejujuran), tidak mau kepura-puraan menguasai diri-Nya seperti banyak dilakukan orang pada zaman sekarang. “Bagaimana dengan umat kita?”
Diberi Kesempatan
Usai Misa Prapaskah itu, Bapak CK. Manalu (64) mantan Voorhanger di Stasi Mela mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih telah diberi kesempatan menerima abu pada perayaan Misa Prapaskah I. Dia menuturkan tidak sempat ikut acara Rabu Abu, karena alasan dilaksanakan pada malam hari. “Menurut saya sudah bagus ada kebijakan itu dibuat mengingat malam Rabu Abu banyak umat tidak sempat menerimanya. Yah… maklumlah di samping pertimbangan bagi yang sudah tua dan anak-anak kan jelas sulit semua dapat mengikuti malam hari. Sementara siang hari pada sibuk juga melakukan aktifitas. Maka, menurut saya bagus sekali diberi kesempatan hari ini sekalipun sebenarnya sudah lewat acara itu…” tuturnya menyetujui dan mewakili tokoh umat di Stasi itu.
Banyak umat yang sependapat dengan diberi kesempatan menerima abu pada hari Minggu itu, mereka juga merasa ada sesuatu yang kurang bila belum menerima dan ditandai dengan abu. Sesuai dengan petunjuk Pastor Paroki kepada Pengurus sebelumnya, P.Alfons telah meminta agar bila ada Pastor umat yang belum menerima abu diberi kesempatan, dan boleh diwakili Voorhanger untuk memberikan kepada umat. Kebanyakan berpendapat, selaku umat percaya harus merasa rindu menerima abu sebagai bagian dari iman dan penyadaran diri sebagai umat beriman dan ciptaan Tuhan. *** (Selamat Prapaskah!)
Elinus Waruwu.
P.Alfons Ampu Pr menekankan bahwa hati sumber dosa. Bila akar dalam hati tidak dirawat dan dipelihara maka memunculkan berbagai kejahatan dan dipastikan pertobatan tidak akan pernah terjadi. Maka Tuhan menyapa umat-Nya pada masa pertobatan ini dengan ditandai abu. Perayaan Rabu Abu bukan mengotori tetapi tanda sadar sebagai orang berdosa. Maka hati sebagai sumber dosa perlu dimurnikan kembali. Masa pertobatan selama 40 hari kita laksanakan sebagai ret-ret agung dengan berbicara kepada Tuhan secara terus-menerus. “Jadi, sangatlah salah bila kita berbicara tentang diri orang lain, gosip, menjelek-jelekkan sesama, memuji –muji diri, sombong, dan lain sebagainya…” tegas P. Alfons mengawali permenungan.
Ada tiga hal yang perlu dipehatikan pada masa Prapaskah, pertama puasa. Puasa tidak diartikan tak boleh makan tetapi dibatasi hanya kenyang sekali. Jatah yang seharusnya dari pembatasan dari kenyang-kenyang itu disisihkan untuk aksi puasa. Kedua, amal kasih. Artinya selama Prapaskah karya amal dan berbuat baik perlu dilakukan. Dan perlu diingat perbuatan baik yang dilakukan tidak untuk diketahui orang agar memperoleh pujian atau simpatik, namun perbuatan baik itu kita lakukan menjadi berkat bagi orang lain sebagai ganjaran. Ketiga doa, selama Prapaskah kita diminta memberi waktu khusus untuk berdoa tanpa dibatasi tempat dan waktu. Kalau selama ini sibuk sekali, cari waktu khusus dan buat komitmen bersama.
Lebih jauh P.Alfons menjelaskan bahwa dalam masa Prapaskah yang kita masuki itu, kita sebagai umat yang mempunyai kebiasaan dan keinginan kuat harus mengeremnya. Misalnya kebiasaan minum tuak, merokok, makan yang enak-enak dan sebagainya perlu dikurangi. “Bila memungkinkan distopkan sama sekali..” jelas P.Alfons dengan mata agak besar dan sesudahnya senyum seperti memarahi umatnya tapi tetap sayang.
Apa yang dikatakan P.Alfons memang benar. Di daratan daerah Tapanuli selalu tersedia kedai tuak tempat kumpulnya kaum bapak-bapak yang sering nongkrong minum tuak dari siang sampai malam hari. Kebiasaan minum tuak itu sering tidak bisa dihindari. Kadangkala tuak dan rokok serta bumbu makanan tambahan dari minuman berupa daging tidak bisa dihindari karena sudah keenakan. Belum lagi, rokok sampai berbungkus-bungkus menjadi asap tak karuan memenuhi kedai sebagai sahabat minum tuak. Maka sedikit hati-hati kalau menyinggung soal tuak karena bisa saja diartikan menyindir dan kasar, karena diartikan melarang budaya minum tuak yang sudah tradisi di daerah itu.
Tradisi minum anggur di Barat, begitulah tuak di daerah Tapanuli. Maka tidak mengherankan isteri-isteri tak kuasa marah bila suaminya berada di kedai tuak. Herannya kita tidak habis pikir, dari mana hidupnya orang-orang yang selalu nongkrong di kedai tuak itu. Yah…sebagian Nelayan, malam hari cari ikan tetapi ketika bersama kembali ke darat sudah tampak nongkrong di kedai. Lalu, soal ke gereja perlu dikaji kenapa banyak yang tidak mau berdoa ke gereja? Ini salah satu penyakit masyarakat yang sulit diberantas. Dan hal itu sangat terasa ketika ada partangiangan (bhs Batak: Doa Lingkungan), dua sampai tiga orang kaum bapak yang bisa ikut, selainnya didominasi kaum ibu.
Bahkan ketika seorang Sintua yang tidak ingin disebut namanya dipertanyakan keadaan di lingkungan, Sintua yang memimpin partangiangan di daerah itu mengeluh, karena satupun kaum bapak tidak ada kecuali Sintua. Maka saat membuat renungan, Sintua itu hanya tersenyum dan memulai berkhotbah, “Sadari-saudari dan Ibu-ibu terkasih…” Umat di lingkungan itu tersenyum-senyum… Lalu dilanjutkan. “Saya tidak tahu mau menyapa dengan Bapak dan Ibu yah…karena tak satupun Bapak-bapak kita yang hadir di sini. Bagaimana cara menyapa kalian semua?” Maka terhentilah renungan sebentar dan tawa ria membahana menghiasi ruangan partangiangan… Mulailah saling menyalahkan. Beberapa ibu, menyindir suami temannya.. dan keributanpun tak bisa dihindari…
Menurut penuturan Sintua yang menjadi Pengurus di lingkungan itu, peristiwa masa lalu yang telah menjadi suatu kelucuan di daerah Tapanuli. Maka untuk mengatasi hal itu, agar tidak terjadi kelucuan, Sintua Lingkungan mengambil inisiatif dengan cepat-cepat memanggil beberapa kawan agar kaum bapak ikut partangiangan. Bila tidak berhasil, maka berjalanlah sendiri dan siap-siaplah hanya memimpin kaum ibu-ibu saja.
Maka kesimpulan dari permenungan Hati Sumber Dosa adalah benar. Sudah susah sekali memasuki hati umat karena hati sumber dosa tidak dirawat dan dipelihara, apalagi kaum bapak yang tambo-nya sudah bercampur di kedai tuak. Duduk di kedai tuak sudah semacam kebiasaan, bila tidak nongol di kedai tuak ada sindiran bukan golongan kaum bapak. Maka kita harapkan sapaan penyadaran, lewat masa Prapaskah sekarang memampukan kita sebagai umat bertobat dan dapat merefleksikan apa sasaran dan tujuan yang diharapkan dalam perjalanan sebagai umat beriman, yaitu bangkit bersama Kristus yang hidup jaya dan mulia. ***
Hal mengandalkan uang sebagai kekuatan karena status sosial menurut P.Blasius Fau sudah mulai meraja di Tanah Air kita dan mungkin saja ada di antara umat (maaf tidak menuduh). Golongan status sosial yang melekat pada diri seseorang itu megandalkan uang sebagai nomor satu. “Segala-galanya diselesaikan dengan uang…” katanya.
Dengan uang maka semuanya urusan beres bahkan dipermudah. Pokoknya ada uang maka orang bisa pintar membohongi hati nurani, pandai menipu orang lain dan licik bersahabat dengan penguasa. Bisa memutarbalikan fakta, dan jarang kelihatan di Gereja karena takut dikhotbahi . Maka, lanjut P.Blasius Fau yang tinggal di Biara Santu Felix Mela 3 kilometer dari Kota Sibolga, terkutuklah mereka yang mengandalkan kekuatan, kekayaan, kepintaran dan kekuasaan yang melupakan Tuhan sebagai sumber kekuatan hidup.
Memang benar, ada tiga tipe manusia. Tipe pertama pintar dan baik hati, tipe kedua pintar dan rendah hati, dan tipe ketiga pintar dan tak peduli orang lain. Nah tipe ketiga inilah yang dikencam oleh Yesus… “Terkutuklah kamu…” kata P.Blasius dengan sangat antusias memberikan renungan di hadapan 300-an umat di Stasi Santu Petrus Mela pada Minggu Biasa ke-6 (14/2).
Lebih jauh, P.Blasius menekankan bahwa faktor celaka itu terjadi tanpa disadari akibat dikuasai oleh duniawi. Bayangkan uang dan harta menjadi segala-galanya, yang akibatnya mematikan iman seseorang akan Tuhan. Dan ini sungguh-sungguh tidak terberkati. Materi-materi duniawi merajai orang untuk berkuasa sehingga melupakan Tuhan dan tidak pernah lagi berdoa, tidak pernah ingat dan ajak keluarga di rumah untuk berdoa kepada Tuhan.
Umat Hanya Pengelola
Sebaliknya, kita sebagai umat dianjurkan agar kaya raya, pintar, baik dan rendah hati. Dengan mampu menguasai kekayaan dan menyadari diri bahwa uang sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan. Pemilik satu-satunya adalah Tuhan. Bagaimana uang dan harta kekayaan dapat dipergunakan? Dengan cara sabar, murah hati, mau menolong dengan cara mendengar orang lain yang berkesusahan dan berusaha menolong. “Beri waktu untuk berdoa agar iman tumbuh dalam keluarga. Dengarkan isteri, dengarkan suami, dengarkan anak-anak…dan beri waktu untuk Tuhan dengan rajin berkomunikasi termasuk tidak lalai melakukan kewajiban datang ke gereja setiap hari Minggu…” katanya dengan lemah lembut sambil mengajak umat menjadi pelaku Sabda Tuhan dan bukan penonton.
Menarik apa yang disampaikan dalam permenungan itu, karena orang sering ketergantungan dengan materi kekayaan. Ujung-ujungnya orang memandang diri sebagai pemilik kekayaan yang seharusnya hanyalah pengelola. Kita diajak melihat diri masing-masing apakah selama ini tujuan hidup kita hanya mencari kekayaan dan kelimpahan harta? Tentu hal ini tidak tujuan. Dalam hal ini, kita selaku umat perlu sekali menyadari bahwa kita hanya pengelola selama masih hiidup di dunia ini. Kita hidup untuk diri dan keluarga tetapi sekaligus hidup untuk sesama demi perkembangan bersama. Lewat permenungan itu, kita disadarkan bahwa harta tidak jaminan untuk mendapatkan keselamatan. Iman akan Tuhanlah yang menjamin kita bisa meraih keselamatan. Dan itu hanya bisa terwujud bila kita menjadi pelaku-pelaku Sabda Tuhan yang selalu mengajak kita untuk bertobat dan bertobat. ***
Kesetiaan umat terhadap iman kekatolikan masih rendah dan kurang dewasa. Seharusnya umat katolik menyadari bahwa hanya dengan menyambut Yesus lewat Perayaan Ekaristi adalah satu-satunya jalan untuk menuju keselamatan dan kesetiaan umat katolik beriman. “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman...” kutip Pastor Alfons menutup khotbahnya.
Pemilihan Voorhanger
Kehadiran P.Alfons Ampu Pr selaku Pastor Paroki ke stasi St. Petrus Mela hanya memimpin pemilihan puncak-kepemimpinan di stasi itu, yaitu sebutan Voorhanger atau Ketua DPSI. Bila dulu pemilihan lengkap dilakukan dan umatlah yang menentukan personal Dewan Pastoral Stasi Inti (DPSI), kali ini berbeda sebagai budaya baru. Atas nama DPPI langsung Pastor memimpin pe
Dari 19 orang Calon Pengurus DPSI St. Petrus Mela hadir 12 orang menjadi Calon Voorhanger dan tidak hadir 7 orang. Para Calon yang hadir itu duduk di depan umat dan tidak berhak untuk memilih. Hasil pemilihan Calon: Linus Elinus Waruwu (4 suara), Johannes C. Nadapdap (25 suara), Polmen Sitohang (45 suara), Aloysius Junris Silaban (3 suara), Robert Simarmata (1 suara), Persi Hutabarat (5 suara), Topot Limbong (6 suara), dan Bepo Tambunan (6 suara). Dengan hasil perolehan suara terbanyak jatuh kepada Polmen Sitohang sebagai Pemimpin tertinggi di Stasi itu.
Usai pemilihan Voorhanger disambut tepuk tangan meriah dari umat. Kelihatan sekali pemilihan berlangsung damai dan sukses, tetapi disayangkan sikap umat di gereja katolik Mela itu tidaklah banyak yang mengikuti acara pemilihan. Umat lebih banyak langsung pulang setelah Misa dibanding dengan yang tinggal mengikuti acara pemilihan.
Elinus Waruwu melaporkan.
Di gereja katolik Santu Petrus Mela hari Minggu, 9 Agustus 2009 Pastor Aloysius Barut, Pr yang sehari-hari bertugas sebagai Rektor seminari menengah Aek Tolang hadir memimpin perayaan misa pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Suasana kelihatan lebih meriah, umat yang hadir memenuhi gereja bahkan kelihatan beberapa ibu-ibu dan muda-mudi duduk di teras. Pada khotbahnya P. Aloysius menekankan 3 sikap yang ada pada Maria. Sikap itu adalah 1).ketabahan, 2)iman, dan 3).kerendahan hati. Beliau menjelaskan banyak hal mulai dari latar belakang kenapa Maria dihormati dan diangkat sebagai Bunda Gereja di gereja kita katolik.
Menurut P. Aloysius, sering umat katolik dituduh oleh jemaat atau umat yang tidak seagama lainnya, mereka berpandangan salah karena Maria disembah oleh orang katolik. Munculnya sikap negatif itu sebagai akibat dari sikap keistimewaan Maria dalam gereja katolik, patung Maria ditempatkan dalam gereja atau rumah dan di tempat terhormat pula saat berdoa. Dalam hal ini, dapat dijelaskan, contoh sikap orang katolik yang salah, ketika patung Maria itu dijatuhkan oleh anak, maka Ibu dan Bapak dalam keluarga marah-marah, bahkan ada yang sampai memukul anaknya. Padahal itu hanya sebatas patung sebagai ekpresi wajah. Maka ketika orang lain melihat sikap kita itu, akhirnya mereka menyimpulkan bahwa orang katolik menyembah patung. Singkatnya, akibat ketidaktahuan tentang patung Maria maka muncul berbagai perbedaan presepsi dan pertentangan.
Seharusnya, patung Maria hanya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kita lebih intim terhadap Bunda Maria agar bisa bersama, membantu kita untuk menghantarkan doa-doa kita kepada Yesus Putranya bukan kepada Allah Bapa. Kita tidak mendewakan patung Maria, dan apalagi menyembah dia seperti Tuhan Yesus dan Allah. Namun sering kita melakukan sikap yang salah, maka orang yang tidak seagama dengan cepat menuduh kita menyembah patung.
Maria sebagai Bunda Kita dan Gereja, memang mempunyai keistimewaan khusus. Bila kita menonton acara Indosiar tentang puluhan pemuda yang mencari jodoh wanita atau sebaliknya puluhan wanita mencari pria idaman yang bisa dijadikan pasangan hidup. Bunda Maria adalah sosok wanita pilihan gereja katolik yang tiada bandingnya dan belum ada satu wanitapun yang bisa duduk menggantikan posisi Maria itu. Maria sebagai Bunda Kita dan Bunda Gereja.
Lebih jauh, P. Aloysius mengatakan, ada 3 sikap yang dimiliki Maria dalam perjalanan hidupnya yang mesti kita kagumi dan meneladaninya. Pertama-tama 1).ketabahan Maria menghadapi segala tantangan, tuduhan mengandung tanpa suami, ditolak di tempat penginapan ketika melahirnkan Putranya, anaknya Yesus dihukum dan disiksa sampai wafat dan lain sebagainya. Bila wanita sekarang mengalami hamil di luar nikah, sudah pasti ini dipertanyakan… atau anaknya diperlakukan kasar/ dipukul, pastilah orangtua mengejar dan tidak ada kamus istilah ketabahan itu. Nah, sikap ketabahan itu terpancar sangat jelas oleh Bunda Maria dan itu berlangsung selama dia hidup di dunia. Beranikah kita bersikap seperti Maria itu? Mau merelakan diri menjadi hamba Tuhan dan melayani Tuhan penuh 2).iman. Kata-kata Maria, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu…!” Satu jawaban iman yang menyerahkan kehidupannya total pada penyelenggaraan ilahi. Sekarang di antara kita sikap ber-iman Bunda Maria seperti itu sulit didapat, bila ada anak-anak kita mau menjadi Imam atau Suster, masih banyak di antara orangtua yang tidak rela. Malah ada pula orangtua yang menuduh anaknya kompensasi (pelarian).
Sikap Bunda Maria 3).kerendahan hati. Melalui sikap Bunda Maria dalam doa-doanya sungguh terjalin komunikasi intern kepada Allah dan juga hubungannya dengan sesama. Maria sudah tahu bahwa Allah memilih dia dari antara wanita dengan kata lain terpuji dan terpilih dari antara wanita. Dan ketika Maria terpilih, maka keluarlah doanya yang kita kenal dengan judul’ “Kidung Maria.” Sebaliknya kalau kita melihat ada orang yang sudah duduk pada jabatan terpilih, maka mulai dari gaya – mode – berbicara – dll turut berubah mempengaruhi kursi posisi tempat duduknya. Dan pelan-pelan muncul… antara lain kesombongan lawan dari rendah hati. “Wanita katolik mana yang bisa meraih sikap kerendahan hati ini sepanjang hidupnya seperti Maria?” tanya P. Aloysius saat keheningan umat menyimak khotbah.
Ibu dan Bapak sebenarnya bisa belajar dari kekurangan dirinya. Model Maria ditampilkan gereja kita katolik sebagai sosok yang seharusnya kita tiru dan teladani. Tidak perlu semua, namun dalam sikap sederhana bisa dilakukan. Contoh Ibu-ibu bisa tabah menghadapi kaum Bapak ketika dia marah. Bapak-bapak mampu tabah ketika usahanya gagal dalam pekerjaan, misalnza berdagang (menghasilkan uang). Ibu dan Bapak memberikan contoh rajin berdoa di rumah, gereja, partangiangan sebagai wujud umat beriman. Ketika berhadapan dengan semua orang, kita bisa menghadapinya dengan rendah hati tanpa harus marah-marah atau mengeluarkan kata-kata kotor.
Akhirnya P. Aloysius menutup khotbahnya dengan pesan berupa ajakan dan nasihat, “Mari kita mempraktekkan dalam hidup kita masing-masing sikap Maria, ada tiga sikap yang ditawarkan kepada kita dalam menjalani hidup sebagai orang katolik. Sikap ketabahan, iman, dan kerendahan hati, Amin.” ***
Elinus Waruwu
Pemilihan Sintua Lingkungan Perlu Dibudayakan Pemilihan Sintua merupakan kaderisasi membangun budaya menjadi pengurus gereja di Stasi Santu Petrus Mela. Budaya kelangsungan regenerasi untuk masa 3 tahun ke depan di lingkungan itu sendiri. Maka Dewan Pastoral Stasi Inti (DPSI) harus menata pemilihan Calon Sintua sesuai 1). aturan, 2).petunjuk Pastor Paroki, 3).rapat pengurus, 4).kebijakan Dewan Pleno Stasi itu sendiri.
Memberdayakan umat lingkungan dengan cara pemilihan suatu keunggulan gereja setempat. Keputusan calon Pengurus baru dimulai dari akar lapisan bawah (lingkungan). Bila ada selama ini hanya aklamasi atau main tunjuk saja, di gereja katolik stasi St. Petrus Mela sungguh berbeda. Calon Sintua dijaring dari lingkungan sehingga mempunyai dasar dukungan umat berbasis lingkungan setempat. Dan itulah yang terjadi di Gereja Katolik Mela, 3 bulan sebelum habis masa periode sudah dimulai pemilihan, dua minggu berturut-turut diumumkan di gereja, dan diberi undangan resmi untuk setiap keluarga agar turut serta mengikuti dan berpatisipasi melalui acara pemilihan pengurus baru.
Budaya pemilihan pengurus baru (Sintua) di Mela itu sungguh berdasar, dirasakan umat setempat, sukses, dan berkesan (Kamis,6/8). Hal-hal yang terlaksana di lingkungan dilengkapi dengan Tata Acara Ibadat, dan Acara Pemilihan. Sintua dari lingkungan lain (bukan di lingkungan tersebut) bertugas memimpin acara. Acaranya sederhana, setelah lagu pembukaan disusul doa lalu bacaaan kitab suci dari Yunus 2:1-10 dan renungan singkat. Saat pemilihan Calon, diiringi lagu Madah Bakti Turunnya Roh Kudus.
Di lingkungan Simpang Tiga 1, bertugas 2 orang Sintua yaitu Topot Limbong, S.Ag dan P.Hutabarat. Pak Limbong pada renungan yang disampaikan kepada umat lingkungan itu, cerita singkat tentang Yunus dalam menjalani panggilan. “Yunus selalu bersyukur kepada Tuhan, sekalipun dia berada di perut ikan dalam situasi yang sulit, penuh masalah atau problem. Melalui kisah Yunus itu kita bisa belajar lewat pemilihan calon sintua. Ini dasar pemilihan yang kita laksanakan. Di mana kita masih melihat kesulitan untuk mencari orang yang mau menjadi pengurus/ Sintua. Maka, mari dalam pemilihan ini selalu ingat kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan dalam menggerakkan hati kita untuk memilih calon sintua lingkungan kita ini. Saya harapkan kepada umat yang terpilih nanti dengan suara terbanyak nanti, tidak menolak dan mau mengikuti panggilan Tuhan yang terpilih sehingga terwakili suara murni oleh suara umat pada pemilihan di lingkungan kita ini…“
Di Lingkungan Simpang Tiga 1 yang dihadiri 32 orang umat, terpilih Calon Sintua: Linus Elinus Waruwu (30 suara), Johannes C. Nadapdap (27 suara), dan Uskiman Habeahan (22 suara). Di lingkungan Simpang Tiga 2 yang dipimpin oleh Sintua yakni Bepo Tambunan dan S. Gulo dihadiri 41 orang umat terpilih Polmen Sitohang (35 suara), Harjon Manalu (35 suara), dan Ibu Fleriana Fau (21 suara). Sementara itu di Lingkungan Pintu Angin/ Panomboman yang dipimpin oleh Sintua Markus Sitanggang dan Junris Silaban berhasil memimpin acara pemilihan yang dihadiri 21 orang. Di lingkungan itu terpilih Ibu Jujur A. Marbun (15 suara), Contantinus K. Manalu (12 suara), Janner Tamba (10 suara), dan Ibu Hutasoit (10 suara).
Selanjutnya, budaya pemilihan Calon Sintua Lingkungan itu diteruskan hari Kamis (13/8). Dan berlangsung pemilihan Calon Sintua pada tiga lingkungan lainnya. yaitu di lingkungan Aek Lobu yang dihadiri 33 orang umat, terpilih Calon Sintua: Aloysius Junris Silaban (30 suara), Markus Sitanggang (28 suara), dan Robert Simarmata (14 suara). Lingkungan Jampalan Bidang yang dihadiri 24 orang umat, terpilih Persi Hutabarat (22 suara), Topot Limbong (22 suara),dan Ruslan Pasaribu (8 suara). Di Lingkungan Pancur Sikip yang dihadiri 25 orang umat, terpilih Beppo Tambunan (24 suara), Simoni Gulo (23 suara), dan Nicolaus Nosimano Waruwu (16 suara). Sukses!
Elinus Waruwu.
Ketika baru-baru ini Sintua Pengurus Gereja dari salah satu stasi di daerah Tapanuli didatangi tamu yaitu tiga orang Naposo (baca: Muda-mudi) bernama Naburju, Natigor, dan Sinauli. Kepada mereka dilontarkan satu pertanyaan, “Apakah masih ada keluarga kudus pada zaman modern sekarang ini?” Sejenak ketiga orang Naposo tersebut terkejut dan mulai berpikir. Barangkali melayang pandangan mereka tentang keluarganya masing-masing. Dan pertanyaan itu diulang beberapa kali oleh Sintua atau Penanya. Ternyata mereka sulit menjawab. Ketiga orang Naposo seperti bingung dan tidak menemukan jawaban.
Barangkali ini juga menjadi permenungan bagi kita umat Katolik. Dari nama-nama Naposo tadi, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk memberikan jawaban tentang kriteria Keluarga Kudus tersebut. Naburju (bhs Batak, berarti yang baik – bhs Nias Si sokhi), Natigor (bhs Batak, berarti yang lurus = bhs Nias Satulo), dan Sinauli (bhs Batak, berarti yang indah/ harmonis – bhs Nias Sibaga). Jadi, kalau dipikirkan sebuah keluarga dikatakan kudus bila ketiga sikap tadi yaitu baik – lurus – harmonis, terdapat dalam keluarga tersebut. Ketiga nilai kehidupan tersebut harus tampak dan dihidupkan dalam keluarga kudus.
Sebenarnya Gereja Katolik sudah lebih maju dibanding pandangan tetangga lainnya tentang keluarga kudus. Sejak dulu Perayaan Pesta Keluarga Kudus tetap tak terlewatkan di setiap tahun liturgi gereja kita. Sayangnya, tokoh-tokoh idola Keluarga Kudus tersebut seperti sudah kadaluwarsa bagi anak-anak kita. Kenapa ? Jawabnya karena model Keluarga Kudus yaitu Yosef-Maria-Yesus tidak lagi dihidupkan dalam keluarga katolik. Seharusnya untuk mencapai model Keluarga Kudus, orang katolik sudah seharusnya meniru atau meneladani keluarga dari Nasaret itu. Setiap keluarga diharapkan menghidupkan nilai-nilai si Burju, si Tigor, dan si Nauli tersebut sehingga model keluarga kudus itu terdapat dalam keluarga kita sebagai umat katolik.
Maka belum terlambat, bila kita kembali melihat Keluarga Kudus dari Nasaret itu. Yosef adalah pria sederhana yang rendah hati, dialah yang pantas mendapat julukan si Burju. Dalam tantangan yang dihadapi, dia tampil sebagai pelindung bagi Maria dan Yesus. Apakah sebagai seorang ayah dalam keluarga kita masing-masing telah mempunyai sikap seperti Yosef, di mana mampu sabar terhadap problem keluarga kita? Bila respon kita ya, berarti keluarga anda sudah tergolong masuk kategori keluarga kudus katolik zaman modern/ sekarang.
Kita lihat sikap Maria (Natigor) ketika menjawab malaikat Tuhan, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu…” Dari tutur kata Maria yang menghidupkan sikap pasrah itu, kepada kaum Ibu-ibu Katolik kita bertanya, “Adakah sikap kepasrahan diri secara total itu dihidupkan dalam menghadapi rintangan seperti sikap-sikap suami yang menjengkelkan? Atau kaum Ibu katolik melarikan diri dan menghindar dari penyelenggaraan ilahi?” Bila seorang Ibu berani menjawab yah…saya telah pasrah kepada Tuhan dan tidak lari dari kenyataan yang dihadapi, berarti keluarga demikian tergolong masuk kriteria keluarga kudus.
Yosef dan Maria seharusnya menjadi idola keluarga kudus zaman sekarang. Tentu saja perkembangan zaman tidak sama dengan dahulu kala. Tetapi nilai-nilai kehidupan seperti dikatakan yaitu sikap baik, lurus hati, dan keharmonisan keluarga harus bisa ditampakkan dan bisa dirasakan oleh sesama atau keluarga katolik lainnya.
Yosef – Maria – Yesus adalah tokoh idola zaman dulu dan sekarang. Ketiga tokoh itu menghidupkan nilai-nilai saling mendukung dan menunjang kehidupan dengan selalu menghadirkan Tuhan dalam perjalanan keluarga mereka. Sikap saling menghormati, menghargai, bertanggungjawab tetap tinggal dalam keluarga kudus tersebut yang memberikan kebahagiaan sejati kendati dalam tantangan dan rintangan.
Masalahnya sekarang, adakah keluarga kudus yang diorbitkan oleh gereja katolik, sekalipun setiap tahun menampilkan model keluarga kudus Yosef-Maria-Yesus? Lewat oase ini, umat digugah dan diajak kembali melihat diri dalam keluarga kita masing-masing. Seperti ungkapan umum yang mengatakan bahwa keluarga katolik semua dipanggil, tetapi hendaknya kita berpikir adakah yang terpilih? Kita berharap akan ada dan kelak tumbuh dalam iman hidup kekatolikan kita.
* Dianjurkan setelah wawasan Keluarga Kudus ini dibaca, satu keluarga diajak bersama membaca dan mendengarkan teks Kitab Suci dari bacaan Matius Bab 2: ayat 13 sampai 15, ditambah ayat 19 sampai 23. Mudah-mudahan andalah keluarga kudus yang diharapkan itu! (ELINUS WARUWU).


