BERITA ACARA
PENERIMAAN
ANGGOTA OFS TAHAP
SEUMUR HIDUP
3 Nopember 2024
Penerima
Minister Regio : Sdra Klemenius Panjaitan OFS
Pemimpin
Misa : Pastor Wilfridus
Vincentius Sarah, Pr
Pendamping
Rohani : Pastor Kasimirus Sitompul
OFM Cap bersama
Pastor Yoseph Sinaga OM Cap
Pada
hari : Minggu
Tanggal : 3 Nopember 2024
Tempat : Katedral Sibolga
Diterima
Masa : Seumur Hidup
Saksi-saksi
: Sdri Adriana
Nofewati Laia OFS
Sdri Tika Sitanggang OFS
Mereka
Yang diterima Berjanji Seumur Hidup yaitu:
Sdra MARLON
PASARIBU, OFS
Sdra BENEDIKTUS PEBRIMA
GANDA SIANIPAR, OFS
Sdri HERNA DARMAWATI
MANULLANG, OFS
Sdri JOANA MAWATI
SIRINGORINGO, OFS
Sdri EMILIA EMISANI
LAWOLO, OFS
Sdri DERISMAULI MARBUN,
OFS
Sdri SUSANNA YUSTIA
GIAWA, OFS
Sdri LUSIANA NDRURU,
OFS
Sdri IRMA SURYANI SIHOMBING,
OFS
Sdri SONDANG OPPIDA
LUMBANGAOL, OFS
Sdra YUSTUS SAHAT
M SIMANULLANG, OFS
Sdri KORNELIA CORY
NURMALA MANULLANG, OFS
Sdra BEPPO TAMBUNAN,
OFS
Telah mengucapkan Janji Profesi Seumur
Hidup di dalam Persaudaraan Lokal Santu Padre Pio Sibolga pada tanggal 3 Nopember
2024 di Katedral Sibolga.
________________________________
BERITA ACARA PENERIMAAN
ANGGOTA OFS TAHAP
FORMASI
3 Nopember 2024
Penerima
Minister Regio : Sdra Klemenius Panjaitan
OFS
Pemimpin
Misa : Pastor Wilfridus
Vincentius Sarah, Pr
Pendamping Rohani : Pastor Kasimirus Sitompul OFM Cap dan
Pastor Yoseph Sinaga OM Cap
Pada
hari : Minggu
Tanggal : 3 Nopember 2024
Tempat : Katedral Sibolga
Diterima
Masa : Seumur Hidup
Saksi-saksi
: Sdri Adriana
Nofewati Laia OFS
Sdri Tika Sitanggang OFS
Mereka
yang diterima dan Berjanji pada Tahap Formasi yaitu:
Sdri LENNY
MEGAWATI TAMPUBOLON, OFS
Sdri YULINA
HALAWA, OFS
Sdra HERIBERTUS MARETI
DAELI, OFS
Sdra DEPANAN SILALAHI,
OFS
Sdra DANIEL TUGUMULIA
HUTAGALUNG, OFS
Telah mengucapkan Janji Tahap Formasi di
dalam Persaudaraan Lokal Santu Padre Pio Sibolga pada tanggal 3 Nopember 2024
di Katedral.
Catatan Penerimaan Anggota OFS Santu Padre Pio Kota Sibolga, dicatat dengan baik seperti dijelaskan pada Berita Acara di atas. Suatu Kebanggaan bagi OFS dan menjadi Rahmat Berlimpah dalam Persaudaraan.
Oleh Sekretaris Dewan Regio 2024,
Sdra LINUS ELINUS WARUWU OFS
Materi PPKn
Sibolga, 10 Agustus 2021
PERSATUAN DAN KESATUAN
Nilai Persatuan dan Kesatuan bangsa menjadi sangat penting bagi anak-anak generasi muda. Mengapa? Karena dengan memahami persatuan dan kestuan bangsa akan memperkuat jati diri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan dengan demikian memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi segala ancaman dan gangguan dari musuh.Karena itu, perlu kita bangun terwujudnya kehidupan yang seimbang, selaras, dan serasi antar masyarakat.
Manfaat menjaga persatuan
dan kesatuan di sekolah bisa dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar akan
berjalan tertib. Siswa dan guru harus hidup rukun meski berbeda suku bangsa dan
bahasa. Kita perlu menciptakan lingkungan sekolah aman dan tentram,
membangun sikap toleransi, dan menghindari perkelahian.
Wujud persatuan dan kesatuan yaitu bisa dilakukan dengan mengerjakan
tugas-tugas dari guru bersama teman-teman tanpa membedakan suku, budaya maupun
agama, saling menghargai dan menghormati, menghargai pendapat teman, gotong
royong membersihkan tempat belajar bersama, dan membangun semangat mengikuti
kegiatan pembelajaran baik waktu daring maupun waktu tatap muka.
Sikap yang perlu dikembangkan bisa bentuk toleransi, tenggang
rasa, mendahulukan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi, bekerja
sama dalam kebaikan dengan siapapun, bergotong royong, saling tolong
menolong. Bagaimana sikap yang
harus kita kembangkan terhadap orang lain yang berbeda sara dengan kita?
Nah, kita harus bersikap tidak
membeda-bedakan antar kelompok, ras, agama, dan suku. Selain itu perlu saling
menyapa untuk menjaga tali silaturahmi, saling menghormati,
lapang dada jika waktu musyawarah pendapat kita tidak
dipilih sebagai keputusan. Kita harus bersikap saling membantu, dan mengembangkan sikap toleransi
satu sama lain.
Catatan:
Bisa
dipergunakan untuk bahan Budaya Membaca
---Ewr---
Sangat bermanfaat untuk perkembangan pengetahuan guru-guru dan dunia pendidikan kita. Terima kasih dan salam sukses !
SMP Fatima, dan SMA Katolik Sibolga Meraih Juara I
Pada lomba perpustakaan tingkat Kota Sibolga tahun 2011 ini tiga
Pemberian penghargaan dan hadiah bagi sekolah yang meraih kejuaraan lomba perpustakaan itu, berlangsung hari Senin 17 Oktober 2011 di Gedung Perpustakaan Pemko Sibolga. Para Pemenang diundang dan masing-masing mendapat tropy serta untuk Juara I memperoleh uang Rp 1.500.000,00; Juara II Rp 1.250.000,00; Juara III Rp 1.000.000,00. Sedangkan Juara Harapan I menerima uang Rp 750.000,00; Juara Harapan II Rp 600.000,00 dan Juara Harapan III Rp 500.000,00.
Sebelumnya, Dewan Juri independen yang terdiri dari 3 orang yakni Rapidin Manalu, S.Pd, Ganda Asiroha Sitohang,S.Sos dan Mei Linda Sihotang,Amd menetapkan Juara I di tingkat Sekolah Dasar yakni SD RK No.4 Sibolga dengan nilai 2885, menyusul Juara II SD RK No.3 Sibolga yang memperoleh nilai 2795, Juara III SD RK No.1 Sibolga nilainya 2390. Sementara Juara Harapan I diraih oleh SD Negeri 085121 Sibolga dengan nilai 2255, Juara Harapan II jatuh kepada SD RK No.2 Sibolga bernilai 2185, serta Juara Harapan III dari SD Negeri 085120 Sibolga nilainya 2025. Dari informasi yang diperoleh jumlah sekolah yang masuk nominasi dalam mengikuti lomba perpustakaan di Tingkat Sekolah Dasar tahun 2011 ini sebanyak 27 sekolah.
Dewan Juri yang sama juga memberi penilaian objektif pada 10 sekolah tingkat lanjutan pertama (SLTP) yang masuk nominasi. Dan hasil yang diperoleh sebagai perpustakaan terbaik tingkat SMP menetapkan SMP Fatima Sibolga sebagai Juara I dengan nilai 2905. Menyusul Juara II SMP Negeri 2 Sibolga dengan nilai 2495, dan Juara III SMP Negeri 5 Sibolga bernilai 2360. Sedangkan posisi Juara Harapan I diraih oleh SMP Negeri 7 Sibolga dengan nilai 2155, Juara Harapan II SMP Negeri 3 Sibolga bernilai 2125, dan Juara Harapan III SMP Negeri 4 Sibolga nilainya 2005.
Sementara itu, Dewan Juri menetapkan SMA Katolik masih yang terbaik dalam lomba perpustakaan tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). SMA Katolik Sibolga meraih Juara I dengan jumlah nilai perolehan sesuai keputusan Tim Penilai 2665. Menyusul Juara II SMA Tri Ratna Sibolga bernilai 1905, dan Juara III SMA Negeri 1 Sibolga dengan nilai 1885. Pada posisi Juara Harapan I jatuh kepada SMK Muhammadiyah 13 Sibolga dengan nilai 1860, Juara Harapan II SMK Negeri 1 Sibolga nilai 1730, dan Juara Harapan III SMK Negeri 2 Sibolga bernilai 1510.
Tampak wajah-wajah para pengelola perpustakaan yang diundang di Gedung Perpustakaan Pemko Sibolga itu gembira, bahkan mereka merasa puas telah dihargai lewat penilaian independen tersebut. Memang diakui uang yang mereka terima dibanding tahun sebelumnya ada penurunan nilai nominal, tetapi semangat untuk meraih yang terbaik masih jelas terpancar di wajah mereka. Dari pantauan koran ini, banyak yang antusias mengabadikan keberhasilannya itu dengan berfoto usai mendapat hadiah secara pribadi. Memang cuaca juga kurang bersahabat, sehingga pemberian hadiah terpaksa dilaksanakan dalam ruangan yang tidak begitu luas. Namun usai menerima hadiah, sebagian pemenang berlomba untuk difoto kembali. Kita ucapkan selamat bagi sekolah yang telah berhasil, semoga tahun depan lebih berhasil lagi.
Peliput : Elinus Waruwu
Pendamping Rohani P.Kristof Jansen OFMCap yang mendampingi Ordo Fransisikan Sekulir (OFS) tingkat Dewan Regio Sibolga memimpin perayaan Misa di alam terbuka (30/1) di Pulau Poncan sekitar 20 menit naik kapal dari tepi Tapian Nauli Sibolga. Pertemuan OFS itu dihadiri oleh 43 orang anggota, masing-masing dari Padangsidimpuan (9), Pinangsori (8), Pandan (8), Mela (7), dan anak-anak (11). Turut hadir dua orang suster yang selama ini menolong pendampingan OFS yakni Sr. Rufina Simanullang OSF Padangsidimpuan dan Sr.Mayella KSFL Pinangsori.Perayaan Misa itu diawali Ibadat pagi, dan Misa meriah yang mengesankan. P.Kristof yang menyampaikan renungan mengatakan sebagai anggota OFS hendaklah selalu bahagia seperti Injil katakan. Dan bahagia versi OFS selalu didasari sikap rendah hati, lemah lembut, dan miskin. Itu berarti, sebagai anggota OFS harus siap sedia dan mau menderita demi kebenaran dalam menjalani panggilan. “Sabda berbahagia hanya dapat dilakukan bilamana mampu melakukan merendahkan hati, lemah lembut dan menyadari diri miskin di hadapan Allah.” jelas P.Kristof yang menjelaskan banyak contoh sebagai pengikut Sang Guru Bapa Santu Fransiskus dari Asissi.
Lebih jauh dikatakan, OFS yang beranggotakan awam mempunyai sasaran, yakni menerima dengan rendah hati tugas serta profesi secular beserta seluruh tuntutannya. Anggota OFS mengiblatkan seluruh kehidupannya ke dalam peresekutuan batin yang mendalam dengan Kristus. Pesan Fransiskus kepada para pengikutnya, “Orang-orang yang memiliki barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak memilikinya (bdk. 1Kor.7:29-30).
Tampak pada perayaan Misa di alam terbuka itu, para anggota OFS dilayani dalam Komuni Kudus dengan menerima dua rupa Tubuh dan Darah Kristus. Juga Pendamping Rohani memberikan berkat khusus kepada anak-anak dengan memberkati satu per satu. Inilah wujud kebersamaan yang telah memotivasi umat beriman sebagai harapan gereja masa depan.
Usai perayaan Misa, acara kebersamaan dengan bakar-bakar ikan mewarnai serba-serbi kegiatan Misa di alam terbuka tersebut. Canda tawa dan sikap bersaudara satu sama lain tampak kelihatan prakteknya. Saling bergotongroyong menyiapkan santapan makan siang bersama, hingga istirahat siang diwarnai kekeluargaan. Pendamping Rohani juga menyampaikan ceramah selama 20 menit, dan sesudahnya beberapa tanggapan serta pertanyaan dari anggota OFS sendiri.
Sesi yang selalu menarik adalah pertemuan sejenis evaluasi dan shering persaudaraan. Sr. Rufina saat mewakili Padangsidimpuan, menyampaikan kelemahan-kelamahan OFS dari kelompok yang didampinginya. Menurutnya, para anggota OFS di Padangsidimpuan selalu merindukan pertemuan bersama Pendamping Rohani. Kelompok mereka rindu untuk dimotivasi dan dikunjungi. Berbeda dengan Sr. Mayella dari Pinangsori, dia memuji kelompok OFS yang kebanyakan dilihat sudah lanjut usia, tetapi tetap semangat. Mendengar kata-kata semangat itu, seluruh peserta bertepuk tangan dan bangga. “Aku segan sekali berbicara dan duduk bersama anggota OFS kelompok Pinangsori ini, aku kan masih muda, tentu tidak wajar mengajari yang sudah tua-tua dan berpengalaman. Tetapi, aku senang bersama mereka karena selain semangat juga mengesankan sikap kesederhanaan yang melekat pada panggilan sebagai anggota OFS yang membawa damai dan kasih.” cetusnya bangga.
Ketua persaudaraan OFS Pandan Johannes Sihotang mengakui pertemuan anggota OFS di kelompoknya agak macet karena banyak anggota sibuk juga adanya yang kuliah. Dari 12 orang anggota mereka merasa sangat berarti tetapi merasa kesulitan untuk merekrut anggota OFS baru. Sementara Tika Sitanggang yang mewakili persaudaraan Mela mengusulkan dan merasa untuk memajukan OFS agar anggotanya bertambah perlu dipromosikan. Menanggapi hal itu, secara berkelakar Antonius Susanto mengatakan setuju. “Promosi panggilan sebagai anggota OFS itu perlu, misalnya membuat iklan di radio atau televisi. Saya sangat setuju…”. katanya.
Akhir dari pertemuan OFS itu ditutup dengan kata-kata dan ucapan terima kasih. Tercatat biaya transport dewasa Rp 30.000 dan anak-anak Rp 20.000. Total pengeluaran transport para anggota OFS dalam merayakan Misa di alam terbuka dikeluarkan pada pertemuan itu sebesar Rp 1.180.000 dengan sewa tikar Rp 50.000. Sukses dan berbahagia !
Hari ini (28/1) Pastor Paroki dan seluruh umat di Katedral St.Teresia Sibolga bergembira karena resmi mendapat Imam baru. Umat pantas bersyukur dan berterima kasih karena tenaga Imam bertambah di Katedral itu, mereka merayakan lewat syukuran perayaan Misa Pertama dan acara ramah tamah.
“Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang diterpilih…” Kata-kata yang biasa terdengar bila adanya Imam baru yang hadir di tengah-tengah umat. Begitulah peristiwa penting ketika hadirnya seorang Imam baru yaitu P. Martin Halawa Pr yang telah ditahbiskan 25 Februrai 2010 di Nias. Kini, Pastor muda itu memulai tugas pertama di Katedral Santa Teresia Sibolga. Diawali pagi, Misa Pertama dua kali di Katedral setelah adanya ketetapan dan ditetapkan Bapak Uskup Mgr.Ludovikus Simanullang OMCap sebagai Pastor Pembantu di Katedral Santa Teresia Sibolga. Acara kegembiraan diakhiri pada pesta penyambutan imam baru malam harinya.
Pesta syukur dan sederhana atas Imam yang baru disambut dengan baik oleh Pastor Paroki P.Alfons Ampu Pr bersama ratusan orang mewakil umat pada acara ramah tamah. Turut menyampaikan kata-kata sambutan mewakili umat, stasi-stasi, paroki, dan keuskupan. Tampak hadir pada acara ramah tamah di ruang pertemuan paroki itu, antara lain P.Metodius Sarumaha OFMCap sekretaris Keuskupan, P.Barnabas Winkler OFMCap mantan Administrator, P.Kristof Jansen OFMCap dan P.Blasius Fau OFMCap mewakili para imam senior, P.Posma Manalu Pr (Pastor Paroki Santu Yosef), dan beberapa komunitas seperti SCMM, OSF, Asrama Putri, dan Tokoh-tokoh umat lainnya.
Dukungan Doa dan Hiburan
Ibu Evelyn yang mewakili sambutan atas nama umat Paroki menyatakan dukungan doa untuk Pastor yang baru. Bahkan ibu itu mengungkapkan perasaan sangat senang dengan bertambahnya Imam di katedral Sibolga, lanjutnya, pada misa pertama pagi itu dia sangat terpesona dengan kisah cerita P.Martin yang satu minggu sebelum ditahbis, keluarga yang dari semula Protestan akhirnya menjadi Katolik. “Itu sangat luar biasa Pastor, perjuangan berpuluh tahun di mana keluarga Pastor belum katolik, dan itulah karya Allah yang sangat besar lewat pribadi Pastor, luar biasa, Pastor…” tutur Ibu Evelyn yang selalu tekun, dan rajin berdoa melalui kelompok persekutun doa karismatik di Paroki itu, sambil mengajak seluruh umat Paroki mendukung tugas-tugas panggilan Pastor baru.
Dukungan doa itu juga mengalir dari P.Metodius Sarumaha OFMCap ketika menyampaikan sambutan, harapan dan penegasan tentang tugas P.Martin sebagai pastor pembantu. Pastor Metodius menyatakan senang atas dukungan umat terhadap Pastor baru, sebagaimana telah dirangkai pada acara sederhana dan harapan-harapan umat yang telah disampaikan. Ada kesan bahwa P.Martin sangat dicintai oleh umat di Paroki itu dengan memberikan dukungan berupa materi dan kado-kado. Memang benar, dari perwakilan umat itu banyak menyampaikan ampau, amplop, kado sebagai tanda dukungan. Bahkan P.Martin juga diulosi sebagai tanda cinta dari umat. Maka, Keuskupan berharap dengan tanda itu semua, meneguhkan P.Martin seperti gema pada Injil hari ini: “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia…”. Kutip P.Metodius sambil berharap kepada Pastor Paroki yang sudah senior berpengalaman dalam menangani dan melayani paroki agar nantinya bisa bekerja sama.
Terlihat pada acara syukuran itu, ada cara makan bersama. Beberapa selingan berupa hiburan menyelingi kata-kata sambutan seperti dari kelompok Susteran SCMM, Asrama Putri Santa Anna, Susteran OSF yang kesemuanya lagu rohani dari bahasa daerah Batak maupun Bahasa Indonesia. Secara bergurau ketika mengucapkan terima kasih, dan menyanyikan tiga buah lagu yang diringi gitar oleh Sr. Clara Manao OSF saat menyapa umat menyampaikan mohon maafnya. “Saya berterima kasih kepada seluruh Panitia dan seluruh umat yang telah bersusah payah menyiapkan semua kegembiraan ini, yah… seandainya bukan pada masa Prapaskah mungkin pesta kita ini jauh lebih besar lagi dibuat oleh Paroki.” sindir P.Martin sambil terus bernyanyi dan sesekali menanyakan apakah masih ada kado pemberian umat lagi. Selamat ya, Pastor Martin, semoga imamat kekal samai akhir ! ***
“Umat hanyalah abu, pengembara bagai gelandangan, dan orang asing yang menumpang sementara di dunia….”
Pernyataan itu diutarakan oleh P.Raymond Laia OFMCap (44) ketika berkunjung dan memimpin Misa Perayaan Minggu Prapaskah pertama (21/2) di stasi St Petrus Mela. Menurutnya, bila umat tidak menyadari diri sebagai orang rendahan maka sulit mengosongkan diri untuk sadar. Teks-teks bacaan pilihan gereja masa prapaskah I adalah teks indah yang perlu dicermati oleh umat. Dia menjelaskan beberapa kata kunci yang menjadi inti bacaan. Bacaan pertama adalah pengakuan iman umat Israel yang mengakui asal-usul nenek moyang dari abu, bacaan kedua merupakan pengakuan iman sebagai umat Kristen, dan ketiga bacaan Injil yang bercerita bagaimana pencobaan iblis yang dialami Yesus ketika berpuasa.
Penerimaan Abu
Memang, lanjut P.Raymond, dari sejarah masa perjanjian lama bangsa Israel sampai pada sebutan umat Kristen hingga zaman kita sekarang sudah nyata kita berasal dari abu. Bahkan kita hanyalah penumpang bagai anak jalanan, gelandangan dan orang asing. Pengakuan spritualitas sebagai umat yang memposisikan diri orang asing itu, menunjukkan tidak ada tempat yang tetap, maka harus berpindah karena keseluruhan hidup kita hanya peziarah di dunia dan bumi bukan rumah abadi. “Pondokmu (tubuh yang fana) akan dibongkar..” kata Pemazmur.
Menyinggung soal budaya Batak di daerah Tapanuli itu, di mana adanya acara “Mangokkal Holi” arti pemindahan atau pengangkatan tulang belulang, itulah satu tanda bukti begitu dihormatinya abu dalam budaya. Tulang nenek moyang itu apalah artinya? Tetapi begitulah, sangat dihargai dan dihormati sebagai tanda hormat, padahal lanjutnya, sesungguhnya tulang itu juga akhirnya jadi abu. Hal yang sama bagi warga Tionghoa yang beragama Budha juga menghormati abu orangtua mereka dengan cara dibakar dan dikremasi. “Semua menunjukkan kesadaran berasal dari abu dan pada akhirnya kembali jua jadi abu!” urai P.Raymond yang menyentuh hati umat secara nyata.
Nilai Kejujuran, Pencobaan, dan Kuasa
Lebih jauh P.Raymod menekankan lewat peristiwa abu ada nilai kehidupan yang bermakna sangat mendalam yakni pengakuan kejujuran diri. Pada zaman sekarang, banyak orang yang berpura-pura baik. Ada banyak yang menutupi diri (bertopeng) dan melupakan kesalahannya tanpa dimaknai pertobatan. Hidup orang seperti itu tidak peduli penghayatan iman, dan sering suka berbohong pada diri sendiri dan orang-orang sekitarnya. Kalau sudah begini maka nilai kejujuran mematikan kebenaran dalam hal bertobat. “Makna pertobatan yakni kembali menyadari diri dari sikap berpura-pura, merenungkan, lalu berubah dengan pengakuan pada kejujuran diri sendiri sesuai yang sebenarnya.” tandas P.Raymond penuh semangat.
Semboyan lain yang senada dengan keterangan P.Rayomod itu bisa juga kita baca seperti tertulis di sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) seperti di Medan misalnya berbunyi “Orang yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya”. Pendapat ini amat dalam artinya bila dihayati dan diamalkan. Mengenal diri berasal dari abu yang diangkat sebagai makhluk mulia oleh Tuhan, maka diminta nilai kejujuran tetap tumbuh dalam hidup dan perlu dibudayakan. Masalahnya banyak orang yang tidak mengenal dirinya siapa, menyebabkan mata bagaikan silau akibat kenikmatan duniawi yang tidak menyadari diri peziarah atau hanya sementara selama berada di bumi ini (tidak abadi).
Menyinggung perihal pencobaan seperti dialami Yesus ketika iblis menggoda, nilai kejujuran jelas terpancar tidak bisa dikalahkan oleh iblis. Iblis datang lalu mengetes Yesus di saat puasa, bayangkan ketika sudah tidak makan dan minum 40 hari, ini mempengaruhi kondisi fisik dan moral, dan kesempatan itulah yang digunakan iblis mencobai Yesus. Iblis tahu bahwa Yesus mempunyai kuasa yakni mampu mengubah batu menjadi roti, kuasa itu jelas ada pada Yesus, maka iblis memanfaatkan kesempatan masa puasa itu agar dapat membatalkan puasa niat baik dan kejujuran yang dilakukan oleh Yesus. Ternyata, kuasa itu tidak mau dipergunakan Yesus untuk membohongi dirinya (inilah nilai kejujuran), tidak mau kepura-puraan menguasai diri-Nya seperti banyak dilakukan orang pada zaman sekarang. “Bagaimana dengan umat kita?”
Diberi Kesempatan
Usai Misa Prapaskah itu, Bapak CK. Manalu (64) mantan Voorhanger di Stasi Mela mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih telah diberi kesempatan menerima abu pada perayaan Misa Prapaskah I. Dia menuturkan tidak sempat ikut acara Rabu Abu, karena alasan dilaksanakan pada malam hari. “Menurut saya sudah bagus ada kebijakan itu dibuat mengingat malam Rabu Abu banyak umat tidak sempat menerimanya. Yah… maklumlah di samping pertimbangan bagi yang sudah tua dan anak-anak kan jelas sulit semua dapat mengikuti malam hari. Sementara siang hari pada sibuk juga melakukan aktifitas. Maka, menurut saya bagus sekali diberi kesempatan hari ini sekalipun sebenarnya sudah lewat acara itu…” tuturnya menyetujui dan mewakili tokoh umat di Stasi itu.
Banyak umat yang sependapat dengan diberi kesempatan menerima abu pada hari Minggu itu, mereka juga merasa ada sesuatu yang kurang bila belum menerima dan ditandai dengan abu. Sesuai dengan petunjuk Pastor Paroki kepada Pengurus sebelumnya, P.Alfons telah meminta agar bila ada Pastor umat yang belum menerima abu diberi kesempatan, dan boleh diwakili Voorhanger untuk memberikan kepada umat. Kebanyakan berpendapat, selaku umat percaya harus merasa rindu menerima abu sebagai bagian dari iman dan penyadaran diri sebagai umat beriman dan ciptaan Tuhan. *** (Selamat Prapaskah!)
Elinus Waruwu.
P.Alfons Ampu Pr menekankan bahwa hati sumber dosa. Bila akar dalam hati tidak dirawat dan dipelihara maka memunculkan berbagai kejahatan dan dipastikan pertobatan tidak akan pernah terjadi. Maka Tuhan menyapa umat-Nya pada masa pertobatan ini dengan ditandai abu. Perayaan Rabu Abu bukan mengotori tetapi tanda sadar sebagai orang berdosa. Maka hati sebagai sumber dosa perlu dimurnikan kembali. Masa pertobatan selama 40 hari kita laksanakan sebagai ret-ret agung dengan berbicara kepada Tuhan secara terus-menerus. “Jadi, sangatlah salah bila kita berbicara tentang diri orang lain, gosip, menjelek-jelekkan sesama, memuji –muji diri, sombong, dan lain sebagainya…” tegas P. Alfons mengawali permenungan.
Ada tiga hal yang perlu dipehatikan pada masa Prapaskah, pertama puasa. Puasa tidak diartikan tak boleh makan tetapi dibatasi hanya kenyang sekali. Jatah yang seharusnya dari pembatasan dari kenyang-kenyang itu disisihkan untuk aksi puasa. Kedua, amal kasih. Artinya selama Prapaskah karya amal dan berbuat baik perlu dilakukan. Dan perlu diingat perbuatan baik yang dilakukan tidak untuk diketahui orang agar memperoleh pujian atau simpatik, namun perbuatan baik itu kita lakukan menjadi berkat bagi orang lain sebagai ganjaran. Ketiga doa, selama Prapaskah kita diminta memberi waktu khusus untuk berdoa tanpa dibatasi tempat dan waktu. Kalau selama ini sibuk sekali, cari waktu khusus dan buat komitmen bersama.
Lebih jauh P.Alfons menjelaskan bahwa dalam masa Prapaskah yang kita masuki itu, kita sebagai umat yang mempunyai kebiasaan dan keinginan kuat harus mengeremnya. Misalnya kebiasaan minum tuak, merokok, makan yang enak-enak dan sebagainya perlu dikurangi. “Bila memungkinkan distopkan sama sekali..” jelas P.Alfons dengan mata agak besar dan sesudahnya senyum seperti memarahi umatnya tapi tetap sayang.
Apa yang dikatakan P.Alfons memang benar. Di daratan daerah Tapanuli selalu tersedia kedai tuak tempat kumpulnya kaum bapak-bapak yang sering nongkrong minum tuak dari siang sampai malam hari. Kebiasaan minum tuak itu sering tidak bisa dihindari. Kadangkala tuak dan rokok serta bumbu makanan tambahan dari minuman berupa daging tidak bisa dihindari karena sudah keenakan. Belum lagi, rokok sampai berbungkus-bungkus menjadi asap tak karuan memenuhi kedai sebagai sahabat minum tuak. Maka sedikit hati-hati kalau menyinggung soal tuak karena bisa saja diartikan menyindir dan kasar, karena diartikan melarang budaya minum tuak yang sudah tradisi di daerah itu.
Tradisi minum anggur di Barat, begitulah tuak di daerah Tapanuli. Maka tidak mengherankan isteri-isteri tak kuasa marah bila suaminya berada di kedai tuak. Herannya kita tidak habis pikir, dari mana hidupnya orang-orang yang selalu nongkrong di kedai tuak itu. Yah…sebagian Nelayan, malam hari cari ikan tetapi ketika bersama kembali ke darat sudah tampak nongkrong di kedai. Lalu, soal ke gereja perlu dikaji kenapa banyak yang tidak mau berdoa ke gereja? Ini salah satu penyakit masyarakat yang sulit diberantas. Dan hal itu sangat terasa ketika ada partangiangan (bhs Batak: Doa Lingkungan), dua sampai tiga orang kaum bapak yang bisa ikut, selainnya didominasi kaum ibu.
Bahkan ketika seorang Sintua yang tidak ingin disebut namanya dipertanyakan keadaan di lingkungan, Sintua yang memimpin partangiangan di daerah itu mengeluh, karena satupun kaum bapak tidak ada kecuali Sintua. Maka saat membuat renungan, Sintua itu hanya tersenyum dan memulai berkhotbah, “Sadari-saudari dan Ibu-ibu terkasih…” Umat di lingkungan itu tersenyum-senyum… Lalu dilanjutkan. “Saya tidak tahu mau menyapa dengan Bapak dan Ibu yah…karena tak satupun Bapak-bapak kita yang hadir di sini. Bagaimana cara menyapa kalian semua?” Maka terhentilah renungan sebentar dan tawa ria membahana menghiasi ruangan partangiangan… Mulailah saling menyalahkan. Beberapa ibu, menyindir suami temannya.. dan keributanpun tak bisa dihindari…
Menurut penuturan Sintua yang menjadi Pengurus di lingkungan itu, peristiwa masa lalu yang telah menjadi suatu kelucuan di daerah Tapanuli. Maka untuk mengatasi hal itu, agar tidak terjadi kelucuan, Sintua Lingkungan mengambil inisiatif dengan cepat-cepat memanggil beberapa kawan agar kaum bapak ikut partangiangan. Bila tidak berhasil, maka berjalanlah sendiri dan siap-siaplah hanya memimpin kaum ibu-ibu saja.
Maka kesimpulan dari permenungan Hati Sumber Dosa adalah benar. Sudah susah sekali memasuki hati umat karena hati sumber dosa tidak dirawat dan dipelihara, apalagi kaum bapak yang tambo-nya sudah bercampur di kedai tuak. Duduk di kedai tuak sudah semacam kebiasaan, bila tidak nongol di kedai tuak ada sindiran bukan golongan kaum bapak. Maka kita harapkan sapaan penyadaran, lewat masa Prapaskah sekarang memampukan kita sebagai umat bertobat dan dapat merefleksikan apa sasaran dan tujuan yang diharapkan dalam perjalanan sebagai umat beriman, yaitu bangkit bersama Kristus yang hidup jaya dan mulia. ***
Hal mengandalkan uang sebagai kekuatan karena status sosial menurut P.Blasius Fau sudah mulai meraja di Tanah Air kita dan mungkin saja ada di antara umat (maaf tidak menuduh). Golongan status sosial yang melekat pada diri seseorang itu megandalkan uang sebagai nomor satu. “Segala-galanya diselesaikan dengan uang…” katanya.
Dengan uang maka semuanya urusan beres bahkan dipermudah. Pokoknya ada uang maka orang bisa pintar membohongi hati nurani, pandai menipu orang lain dan licik bersahabat dengan penguasa. Bisa memutarbalikan fakta, dan jarang kelihatan di Gereja karena takut dikhotbahi . Maka, lanjut P.Blasius Fau yang tinggal di Biara Santu Felix Mela 3 kilometer dari Kota Sibolga, terkutuklah mereka yang mengandalkan kekuatan, kekayaan, kepintaran dan kekuasaan yang melupakan Tuhan sebagai sumber kekuatan hidup.
Memang benar, ada tiga tipe manusia. Tipe pertama pintar dan baik hati, tipe kedua pintar dan rendah hati, dan tipe ketiga pintar dan tak peduli orang lain. Nah tipe ketiga inilah yang dikencam oleh Yesus… “Terkutuklah kamu…” kata P.Blasius dengan sangat antusias memberikan renungan di hadapan 300-an umat di Stasi Santu Petrus Mela pada Minggu Biasa ke-6 (14/2).
Lebih jauh, P.Blasius menekankan bahwa faktor celaka itu terjadi tanpa disadari akibat dikuasai oleh duniawi. Bayangkan uang dan harta menjadi segala-galanya, yang akibatnya mematikan iman seseorang akan Tuhan. Dan ini sungguh-sungguh tidak terberkati. Materi-materi duniawi merajai orang untuk berkuasa sehingga melupakan Tuhan dan tidak pernah lagi berdoa, tidak pernah ingat dan ajak keluarga di rumah untuk berdoa kepada Tuhan.
Umat Hanya Pengelola
Sebaliknya, kita sebagai umat dianjurkan agar kaya raya, pintar, baik dan rendah hati. Dengan mampu menguasai kekayaan dan menyadari diri bahwa uang sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan. Pemilik satu-satunya adalah Tuhan. Bagaimana uang dan harta kekayaan dapat dipergunakan? Dengan cara sabar, murah hati, mau menolong dengan cara mendengar orang lain yang berkesusahan dan berusaha menolong. “Beri waktu untuk berdoa agar iman tumbuh dalam keluarga. Dengarkan isteri, dengarkan suami, dengarkan anak-anak…dan beri waktu untuk Tuhan dengan rajin berkomunikasi termasuk tidak lalai melakukan kewajiban datang ke gereja setiap hari Minggu…” katanya dengan lemah lembut sambil mengajak umat menjadi pelaku Sabda Tuhan dan bukan penonton.
Menarik apa yang disampaikan dalam permenungan itu, karena orang sering ketergantungan dengan materi kekayaan. Ujung-ujungnya orang memandang diri sebagai pemilik kekayaan yang seharusnya hanyalah pengelola. Kita diajak melihat diri masing-masing apakah selama ini tujuan hidup kita hanya mencari kekayaan dan kelimpahan harta? Tentu hal ini tidak tujuan. Dalam hal ini, kita selaku umat perlu sekali menyadari bahwa kita hanya pengelola selama masih hiidup di dunia ini. Kita hidup untuk diri dan keluarga tetapi sekaligus hidup untuk sesama demi perkembangan bersama. Lewat permenungan itu, kita disadarkan bahwa harta tidak jaminan untuk mendapatkan keselamatan. Iman akan Tuhanlah yang menjamin kita bisa meraih keselamatan. Dan itu hanya bisa terwujud bila kita menjadi pelaku-pelaku Sabda Tuhan yang selalu mengajak kita untuk bertobat dan bertobat. ***




