Author: Anonim
•Jumat, Februari 04, 2011
MISA ALAM TERBUKA DI PONCAN MOALE

Pendamping Rohani P.Kristof Jansen OFMCap yang mendampingi Ordo Fransisikan Sekulir (OFS) tingkat Dewan Regio Sibolga memimpin perayaan Misa di alam terbuka (30/1) di Pulau Poncan sekitar 20 menit naik kapal dari tepi Tapian Nauli Sibolga. Pertemuan OFS itu dihadiri oleh 43 orang anggota, masing-masing dari Padangsidimpuan (9), Pinangsori (8), Pandan (8), Mela (7), dan anak-anak (11). Turut hadir dua orang suster yang selama ini menolong pendampingan OFS yakni Sr. Rufina Simanullang OSF Padangsidimpuan dan Sr.Mayella KSFL Pinangsori.
Perayaan Misa itu diawali Ibadat pagi, dan Misa meriah yang mengesankan. P.Kristof yang menyampaikan renungan mengatakan sebagai anggota OFS hendaklah selalu bahagia seperti Injil katakan. Dan bahagia versi OFS selalu didasari sikap rendah hati, lemah lembut, dan miskin. Itu berarti, sebagai anggota OFS harus siap sedia dan mau menderita demi kebenaran dalam menjalani panggilan. “Sabda berbahagia hanya dapat dilakukan bilamana mampu melakukan merendahkan hati, lemah lembut dan menyadari diri miskin di hadapan Allah.” jelas P.Kristof yang menjelaskan banyak contoh sebagai pengikut Sang Guru Bapa Santu Fransiskus dari Asissi.
Lebih jauh dikatakan, OFS yang beranggotakan awam mempunyai sasaran, yakni menerima dengan rendah hati tugas serta profesi secular beserta seluruh tuntutannya. Anggota OFS mengiblatkan seluruh kehidupannya ke dalam peresekutuan batin yang mendalam dengan Kristus. Pesan Fransiskus kepada para pengikutnya, “Orang-orang yang memiliki barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak memilikinya (bdk. 1Kor.7:29-30).
Tampak pada perayaan Misa di alam terbuka itu, para anggota OFS dilayani dalam Komuni Kudus dengan menerima dua rupa Tubuh dan Darah Kristus. Juga Pendamping Rohani memberikan berkat khusus kepada anak-anak dengan memberkati satu per satu. Inilah wujud kebersamaan yang telah memotivasi umat beriman sebagai harapan gereja masa depan.
Usai perayaan Misa, acara kebersamaan dengan bakar-bakar ikan mewarnai serba-serbi kegiatan Misa di alam terbuka tersebut. Canda tawa dan sikap bersaudara satu sama lain tampak kelihatan prakteknya. Saling bergotongroyong menyiapkan santapan makan siang bersama, hingga istirahat siang diwarnai kekeluargaan. Pendamping Rohani juga menyampaikan ceramah selama 20 menit, dan sesudahnya beberapa tanggapan serta pertanyaan dari anggota OFS sendiri.
Sesi yang selalu menarik adalah pertemuan sejenis evaluasi dan shering persaudaraan. Sr. Rufina saat mewakili Padangsidimpuan, menyampaikan kelemahan-kelamahan OFS dari kelompok yang didampinginya. Menurutnya, para anggota OFS di Padangsidimpuan selalu merindukan pertemuan bersama Pendamping Rohani. Kelompok mereka rindu untuk dimotivasi dan dikunjungi. Berbeda dengan Sr. Mayella dari Pinangsori, dia memuji kelompok OFS yang kebanyakan dilihat sudah lanjut usia, tetapi tetap semangat. Mendengar kata-kata semangat itu, seluruh peserta bertepuk tangan dan bangga. “Aku segan sekali berbicara dan duduk bersama anggota OFS kelompok Pinangsori ini, aku kan masih muda, tentu tidak wajar mengajari yang sudah tua-tua dan berpengalaman. Tetapi, aku senang bersama mereka karena selain semangat juga mengesankan sikap kesederhanaan yang melekat pada panggilan sebagai anggota OFS yang membawa damai dan kasih.” cetusnya bangga.
Ketua persaudaraan OFS Pandan Johannes Sihotang mengakui pertemuan anggota OFS di kelompoknya agak macet karena banyak anggota sibuk juga adanya yang kuliah. Dari 12 orang anggota mereka merasa sangat berarti tetapi merasa kesulitan untuk merekrut anggota OFS baru. Sementara Tika Sitanggang yang mewakili persaudaraan Mela mengusulkan dan merasa untuk memajukan OFS agar anggotanya bertambah perlu dipromosikan. Menanggapi hal itu, secara berkelakar Antonius Susanto mengatakan setuju. “Promosi panggilan sebagai anggota OFS itu perlu, misalnya membuat iklan di radio atau televisi. Saya sangat setuju…”. katanya.
Akhir dari pertemuan OFS itu ditutup dengan kata-kata dan ucapan terima kasih. Tercatat biaya transport dewasa Rp 30.000 dan anak-anak Rp 20.000. Total pengeluaran transport para anggota OFS dalam merayakan Misa di alam terbuka dikeluarkan pada pertemuan itu sebesar Rp 1.180.000 dengan sewa tikar Rp 50.000. Sukses dan berbahagia !
READ MORE - OFS Dewan Regio Santu Polykarpus Sibolga
Author: Anonim
•Selasa, Maret 02, 2010

Hari ini (28/1) Pastor Paroki dan seluruh umat di Katedral St.Teresia Sibolga bergembira karena resmi mendapat Imam baru. Umat pantas bersyukur dan berterima kasih karena tenaga Imam bertambah di Katedral itu, mereka merayakan lewat syukuran perayaan Misa Pertama dan acara ramah tamah.

“Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang diterpilih…” Kata-kata yang biasa terdengar bila adanya Imam baru yang hadir di tengah-tengah umat. Begitulah peristiwa penting ketika hadirnya seorang Imam baru yaitu P. Martin Halawa Pr yang telah ditahbiskan 25 Februrai 2010 di Nias. Kini, Pastor muda itu memulai tugas pertama di Katedral Santa Teresia Sibolga. Diawali pagi, Misa Pertama dua kali di Katedral setelah adanya ketetapan dan ditetapkan Bapak Uskup Mgr.Ludovikus Simanullang OMCap sebagai Pastor Pembantu di Katedral Santa Teresia Sibolga. Acara kegembiraan diakhiri pada pesta penyambutan imam baru malam harinya.

Pesta syukur dan sederhana atas Imam yang baru disambut dengan baik oleh Pastor Paroki P.Alfons Ampu Pr bersama ratusan orang mewakil umat pada acara ramah tamah. Turut menyampaikan kata-kata sambutan mewakili umat, stasi-stasi, paroki, dan keuskupan. Tampak hadir pada acara ramah tamah di ruang pertemuan paroki itu, antara lain P.Metodius Sarumaha OFMCap sekretaris Keuskupan, P.Barnabas Winkler OFMCap mantan Administrator, P.Kristof Jansen OFMCap dan P.Blasius Fau OFMCap mewakili para imam senior, P.Posma Manalu Pr (Pastor Paroki Santu Yosef), dan beberapa komunitas seperti SCMM, OSF, Asrama Putri, dan Tokoh-tokoh umat lainnya.


Dukungan Doa dan Hiburan

Ibu Evelyn yang mewakili sambutan atas nama umat Paroki menyatakan dukungan doa untuk Pastor yang baru. Bahkan ibu itu mengungkapkan perasaan sangat senang dengan bertambahnya Imam di katedral Sibolga, lanjutnya, pada misa pertama pagi itu dia sangat terpesona dengan kisah cerita P.Martin yang satu minggu sebelum ditahbis, keluarga yang dari semula Protestan akhirnya menjadi Katolik. “Itu sangat luar biasa Pastor, perjuangan berpuluh tahun di mana keluarga Pastor belum katolik, dan itulah karya Allah yang sangat besar lewat pribadi Pastor, luar biasa, Pastor…” tutur Ibu Evelyn yang selalu tekun, dan rajin berdoa melalui kelompok persekutun doa karismatik di Paroki itu, sambil mengajak seluruh umat Paroki mendukung tugas-tugas panggilan Pastor baru.

Dukungan doa itu juga mengalir dari P.Metodius Sarumaha OFMCap ketika menyampaikan sambutan, harapan dan penegasan tentang tugas P.Martin sebagai pastor pembantu. Pastor Metodius menyatakan senang atas dukungan umat terhadap Pastor baru, sebagaimana telah dirangkai pada acara sederhana dan harapan-harapan umat yang telah disampaikan. Ada kesan bahwa P.Martin sangat dicintai oleh umat di Paroki itu dengan memberikan dukungan berupa materi dan kado-kado. Memang benar, dari perwakilan umat itu banyak menyampaikan ampau, amplop, kado sebagai tanda dukungan. Bahkan P.Martin juga diulosi sebagai tanda cinta dari umat. Maka, Keuskupan berharap dengan tanda itu semua, meneguhkan P.Martin seperti gema pada Injil hari ini: “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia…”. Kutip P.Metodius sambil berharap kepada Pastor Paroki yang sudah senior berpengalaman dalam menangani dan melayani paroki agar nantinya bisa bekerja sama.

Terlihat pada acara syukuran itu, ada cara makan bersama. Beberapa selingan berupa hiburan menyelingi kata-kata sambutan seperti dari kelompok Susteran SCMM, Asrama Putri Santa Anna, Susteran OSF yang kesemuanya lagu rohani dari bahasa daerah Batak maupun Bahasa Indonesia. Secara bergurau ketika mengucapkan terima kasih, dan menyanyikan tiga buah lagu yang diringi gitar oleh Sr. Clara Manao OSF saat menyapa umat menyampaikan mohon maafnya. “Saya berterima kasih kepada seluruh Panitia dan seluruh umat yang telah bersusah payah menyiapkan semua kegembiraan ini, yah… seandainya bukan pada masa Prapaskah mungkin pesta kita ini jauh lebih besar lagi dibuat oleh Paroki.” sindir P.Martin sambil terus bernyanyi dan sesekali menanyakan apakah masih ada kado pemberian umat lagi. Selamat ya, Pastor Martin, semoga imamat kekal samai akhir ! ***

READ MORE - Imam Baru Katedral Sibolga
Author: Anonim
•Kamis, Februari 25, 2010
P.Raymod Laia OFMCap:
“Umat hanyalah abu, pengembara bagai gelandangan, dan orang asing yang menumpang sementara di dunia….”
Pernyataan itu diutarakan oleh P.Raymond Laia OFMCap (44) ketika berkunjung dan memimpin Misa Perayaan Minggu Prapaskah pertama (21/2) di stasi St Petrus Mela. Menurutnya, bila umat tidak menyadari diri sebagai orang rendahan maka sulit mengosongkan diri untuk sadar. Teks-teks bacaan pilihan gereja masa prapaskah I adalah teks indah yang perlu dicermati oleh umat. Dia menjelaskan beberapa kata kunci yang menjadi inti bacaan. Bacaan pertama adalah pengakuan iman umat Israel yang mengakui asal-usul nenek moyang dari abu, bacaan kedua merupakan pengakuan iman sebagai umat Kristen, dan ketiga bacaan Injil yang bercerita bagaimana pencobaan iblis yang dialami Yesus ketika berpuasa.


Penerimaan Abu

Pada awal perayaan Misa itu, setelah pembukaan atau sebelum acara tobat “Tuhan Kasihanilah Kami…” tampak didahului dengan pemberian abu kepada sekitar 200-san umat. Khususnya umat yang belum sempat menerima abu pada hari Rabu Abu malam (17/2) lalu. Pastor Raymond ketika menyampaikan kata pengantar kepada umat mengatakan bahwa abu menjadi tanda pengakuan iman. Umat berasal dari abu maka kembali menjadi abu. “Menerima abu berarti mengakui diri berasal dari abu, dan kembali jadi abu. Lihatlah perjalanan hidup, kita hanyalah pengembara seperti orang gelandangan, dan sadarilah diri sebagai orang asing yang hanya menumpang sementara di dunia ini. Pada akhirnya kita mati, dikubur, lalu menjadi abu kembali bila telah lama dikubur atapun dikremasi…” jelas P.Raymond mengingatkan peristiwa Rabu Abu yang sangat penting itu.
Memang, lanjut P.Raymond, dari sejarah masa perjanjian lama bangsa Israel sampai pada sebutan umat Kristen hingga zaman kita sekarang sudah nyata kita berasal dari abu. Bahkan kita hanyalah penumpang bagai anak jalanan, gelandangan dan orang asing. Pengakuan spritualitas sebagai umat yang memposisikan diri orang asing itu, menunjukkan tidak ada tempat yang tetap, maka harus berpindah karena keseluruhan hidup kita hanya peziarah di dunia dan bumi bukan rumah abadi. “Pondokmu (tubuh yang fana) akan dibongkar..” kata Pemazmur.
Menyinggung soal budaya Batak di daerah Tapanuli itu, di mana adanya acara “Mangokkal Holi” arti pemindahan atau pengangkatan tulang belulang, itulah satu tanda bukti begitu dihormatinya abu dalam budaya. Tulang nenek moyang itu apalah artinya? Tetapi begitulah, sangat dihargai dan dihormati sebagai tanda hormat, padahal lanjutnya, sesungguhnya tulang itu juga akhirnya jadi abu. Hal yang sama bagi warga Tionghoa yang beragama Budha juga menghormati abu orangtua mereka dengan cara dibakar dan dikremasi. “Semua menunjukkan kesadaran berasal dari abu dan pada akhirnya kembali jua jadi abu!” urai P.Raymond yang menyentuh hati umat secara nyata.


Nilai Kejujuran, Pencobaan, dan Kuasa
Lebih jauh P.Raymod menekankan lewat peristiwa abu ada nilai kehidupan yang bermakna sangat mendalam yakni pengakuan kejujuran diri. Pada zaman sekarang, banyak orang yang berpura-pura baik. Ada banyak yang menutupi diri (bertopeng) dan melupakan kesalahannya tanpa dimaknai pertobatan. Hidup orang seperti itu tidak peduli penghayatan iman, dan sering suka berbohong pada diri sendiri dan orang-orang sekitarnya. Kalau sudah begini maka nilai kejujuran mematikan kebenaran dalam hal bertobat. “Makna pertobatan yakni kembali menyadari diri dari sikap berpura-pura, merenungkan, lalu berubah dengan pengakuan pada kejujuran diri sendiri sesuai yang sebenarnya.” tandas P.Raymond penuh semangat.
Semboyan lain yang senada dengan keterangan P.Rayomod itu bisa juga kita baca seperti tertulis di sebuah lembaga pendidikan dan pelatihan lembaga penjamin mutu pendidikan (LPMP) seperti di Medan misalnya berbunyi “Orang yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya”. Pendapat ini amat dalam artinya bila dihayati dan diamalkan. Mengenal diri berasal dari abu yang diangkat sebagai makhluk mulia oleh Tuhan, maka diminta nilai kejujuran tetap tumbuh dalam hidup dan perlu dibudayakan. Masalahnya banyak orang yang tidak mengenal dirinya siapa, menyebabkan mata bagaikan silau akibat kenikmatan duniawi yang tidak menyadari diri peziarah atau hanya sementara selama berada di bumi ini (tidak abadi).
Menyinggung perihal pencobaan seperti dialami Yesus ketika iblis menggoda, nilai kejujuran jelas terpancar tidak bisa dikalahkan oleh iblis. Iblis datang lalu mengetes Yesus di saat puasa, bayangkan ketika sudah tidak makan dan minum 40 hari, ini mempengaruhi kondisi fisik dan moral, dan kesempatan itulah yang digunakan iblis mencobai Yesus. Iblis tahu bahwa Yesus mempunyai kuasa yakni mampu mengubah batu menjadi roti, kuasa itu jelas ada pada Yesus, maka iblis memanfaatkan kesempatan masa puasa itu agar dapat membatalkan puasa niat baik dan kejujuran yang dilakukan oleh Yesus. Ternyata, kuasa itu tidak mau dipergunakan Yesus untuk membohongi dirinya (inilah nilai kejujuran), tidak mau kepura-puraan menguasai diri-Nya seperti banyak dilakukan orang pada zaman sekarang. “Bagaimana dengan umat kita?”
Diberi Kesempatan
Usai Misa Prapaskah itu, Bapak CK. Manalu (64) mantan Voorhanger di Stasi Mela mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih telah diberi kesempatan menerima abu pada perayaan Misa Prapaskah I. Dia menuturkan tidak sempat ikut acara Rabu Abu, karena alasan dilaksanakan pada malam hari. “Menurut saya sudah bagus ada kebijakan itu dibuat mengingat malam Rabu Abu banyak umat tidak sempat menerimanya. Yah… maklumlah di samping pertimbangan bagi yang sudah tua dan anak-anak kan jelas sulit semua dapat mengikuti malam hari. Sementara siang hari pada sibuk juga melakukan aktifitas. Maka, menurut saya bagus sekali diberi kesempatan hari ini sekalipun sebenarnya sudah lewat acara itu…” tuturnya menyetujui dan mewakili tokoh umat di Stasi itu.
Banyak umat yang sependapat dengan diberi kesempatan menerima abu pada hari Minggu itu, mereka juga merasa ada sesuatu yang kurang bila belum menerima dan ditandai dengan abu. Sesuai dengan petunjuk Pastor Paroki kepada Pengurus sebelumnya, P.Alfons telah meminta agar bila ada Pastor umat yang belum menerima abu diberi kesempatan, dan boleh diwakili Voorhanger untuk memberikan kepada umat. Kebanyakan berpendapat, selaku umat percaya harus merasa rindu menerima abu sebagai bagian dari iman dan penyadaran diri sebagai umat beriman dan ciptaan Tuhan. *** (Selamat Prapaskah!)
Elinus Waruwu.
READ MORE - Umat Hanyalah Abu
Author: Anonim
•Kamis, Februari 25, 2010
Perkataan koyakkanlah hatimu sangatlah cocok direnungkan pada perayaan hari Raya Rabu Abu (17/2). Orang biasanya kalau sudah naik darah atau panas terhadap lawan seterunya tanpa sadar emosinya meluap dan langsung mengoyakkan bajunya. Sesudahnya, siap bertempur melawan musuh, siap berkelahi, dan saking emosinya orang itu siap mati seketika. Itulah ilustrasi P.Aloysius Ampu Pr ketika memimpin Misa Rabu Abu di Stasi Santu Petrus Mela baru-baru ini. Singkatnya, keadaan siap tempur dengan koyak baju. Sekarang Tuhan tidak meminta koyak baju, tetapi lebih keras Dia berseru, “Koyakkanlah hatimu… karena dalam hatimu itu berasal segala sumber dosa…”
P.Alfons Ampu Pr menekankan bahwa hati sumber dosa. Bila akar dalam hati tidak dirawat dan dipelihara maka memunculkan berbagai kejahatan dan dipastikan pertobatan tidak akan pernah terjadi. Maka Tuhan menyapa umat-Nya pada masa pertobatan ini dengan ditandai abu. Perayaan Rabu Abu bukan mengotori tetapi tanda sadar sebagai orang berdosa. Maka hati sebagai sumber dosa perlu dimurnikan kembali. Masa pertobatan selama 40 hari kita laksanakan sebagai ret-ret agung dengan berbicara kepada Tuhan secara terus-menerus. “Jadi, sangatlah salah bila kita berbicara tentang diri orang lain, gosip, menjelek-jelekkan sesama, memuji –muji diri, sombong, dan lain sebagainya…” tegas P. Alfons mengawali permenungan.
Ada tiga hal yang perlu dipehatikan pada masa Prapaskah, pertama puasa. Puasa tidak diartikan tak boleh makan tetapi dibatasi hanya kenyang sekali. Jatah yang seharusnya dari pembatasan dari kenyang-kenyang itu disisihkan untuk aksi puasa. Kedua, amal kasih. Artinya selama Prapaskah karya amal dan berbuat baik perlu dilakukan. Dan perlu diingat perbuatan baik yang dilakukan tidak untuk diketahui orang agar memperoleh pujian atau simpatik, namun perbuatan baik itu kita lakukan menjadi berkat bagi orang lain sebagai ganjaran. Ketiga doa, selama Prapaskah kita diminta memberi waktu khusus untuk berdoa tanpa dibatasi tempat dan waktu. Kalau selama ini sibuk sekali, cari waktu khusus dan buat komitmen bersama.
Lebih jauh P.Alfons menjelaskan bahwa dalam masa Prapaskah yang kita masuki itu, kita sebagai umat yang mempunyai kebiasaan dan keinginan kuat harus mengeremnya. Misalnya kebiasaan minum tuak, merokok, makan yang enak-enak dan sebagainya perlu dikurangi. “Bila memungkinkan distopkan sama sekali..” jelas P.Alfons dengan mata agak besar dan sesudahnya senyum seperti memarahi umatnya tapi tetap sayang.
Apa yang dikatakan P.Alfons memang benar. Di daratan daerah Tapanuli selalu tersedia kedai tuak tempat kumpulnya kaum bapak-bapak yang sering nongkrong minum tuak dari siang sampai malam hari. Kebiasaan minum tuak itu sering tidak bisa dihindari. Kadangkala tuak dan rokok serta bumbu makanan tambahan dari minuman berupa daging tidak bisa dihindari karena sudah keenakan. Belum lagi, rokok sampai berbungkus-bungkus menjadi asap tak karuan memenuhi kedai sebagai sahabat minum tuak. Maka sedikit hati-hati kalau menyinggung soal tuak karena bisa saja diartikan menyindir dan kasar, karena diartikan melarang budaya minum tuak yang sudah tradisi di daerah itu.
Tradisi minum anggur di Barat, begitulah tuak di daerah Tapanuli. Maka tidak mengherankan isteri-isteri tak kuasa marah bila suaminya berada di kedai tuak. Herannya kita tidak habis pikir, dari mana hidupnya orang-orang yang selalu nongkrong di kedai tuak itu. Yah…sebagian Nelayan, malam hari cari ikan tetapi ketika bersama kembali ke darat sudah tampak nongkrong di kedai. Lalu, soal ke gereja perlu dikaji kenapa banyak yang tidak mau berdoa ke gereja? Ini salah satu penyakit masyarakat yang sulit diberantas. Dan hal itu sangat terasa ketika ada partangiangan (bhs Batak: Doa Lingkungan), dua sampai tiga orang kaum bapak yang bisa ikut, selainnya didominasi kaum ibu.
Bahkan ketika seorang Sintua yang tidak ingin disebut namanya dipertanyakan keadaan di lingkungan, Sintua yang memimpin partangiangan di daerah itu mengeluh, karena satupun kaum bapak tidak ada kecuali Sintua. Maka saat membuat renungan, Sintua itu hanya tersenyum dan memulai berkhotbah, “Sadari-saudari dan Ibu-ibu terkasih…” Umat di lingkungan itu tersenyum-senyum… Lalu dilanjutkan. “Saya tidak tahu mau menyapa dengan Bapak dan Ibu yah…karena tak satupun Bapak-bapak kita yang hadir di sini. Bagaimana cara menyapa kalian semua?” Maka terhentilah renungan sebentar dan tawa ria membahana menghiasi ruangan partangiangan… Mulailah saling menyalahkan. Beberapa ibu, menyindir suami temannya.. dan keributanpun tak bisa dihindari…
Menurut penuturan Sintua yang menjadi Pengurus di lingkungan itu, peristiwa masa lalu yang telah menjadi suatu kelucuan di daerah Tapanuli. Maka untuk mengatasi hal itu, agar tidak terjadi kelucuan, Sintua Lingkungan mengambil inisiatif dengan cepat-cepat memanggil beberapa kawan agar kaum bapak ikut partangiangan. Bila tidak berhasil, maka berjalanlah sendiri dan siap-siaplah hanya memimpin kaum ibu-ibu saja.
Maka kesimpulan dari permenungan Hati Sumber Dosa adalah benar. Sudah susah sekali memasuki hati umat karena hati sumber dosa tidak dirawat dan dipelihara, apalagi kaum bapak yang tambo-nya sudah bercampur di kedai tuak. Duduk di kedai tuak sudah semacam kebiasaan, bila tidak nongol di kedai tuak ada sindiran bukan golongan kaum bapak. Maka kita harapkan sapaan penyadaran, lewat masa Prapaskah sekarang memampukan kita sebagai umat bertobat dan dapat merefleksikan apa sasaran dan tujuan yang diharapkan dalam perjalanan sebagai umat beriman, yaitu bangkit bersama Kristus yang hidup jaya dan mulia. ***
READ MORE - Hati Sumber Dosa
Author: Anonim
•Kamis, Februari 25, 2010
P.Blasius Fau OFMCap mengatakan orang katolik tidak boleh mengandalkan uang. Orang yang mengandalkan uang ataupun materi secara umum sudah pasti celaka.
Hal mengandalkan uang sebagai kekuatan karena status sosial menurut P.Blasius Fau sudah mulai meraja di Tanah Air kita dan mungkin saja ada di antara umat (maaf tidak menuduh). Golongan status sosial yang melekat pada diri seseorang itu megandalkan uang sebagai nomor satu. “Segala-galanya diselesaikan dengan uang…” katanya.
Dengan uang maka semuanya urusan beres bahkan dipermudah. Pokoknya ada uang maka orang bisa pintar membohongi hati nurani, pandai menipu orang lain dan licik bersahabat dengan penguasa. Bisa memutarbalikan fakta, dan jarang kelihatan di Gereja karena takut dikhotbahi . Maka, lanjut P.Blasius Fau yang tinggal di Biara Santu Felix Mela 3 kilometer dari Kota Sibolga, terkutuklah mereka yang mengandalkan kekuatan, kekayaan, kepintaran dan kekuasaan yang melupakan Tuhan sebagai sumber kekuatan hidup.
Memang benar, ada tiga tipe manusia. Tipe pertama pintar dan baik hati, tipe kedua pintar dan rendah hati, dan tipe ketiga pintar dan tak peduli orang lain. Nah tipe ketiga inilah yang dikencam oleh Yesus… “Terkutuklah kamu…” kata P.Blasius dengan sangat antusias memberikan renungan di hadapan 300-an umat di Stasi Santu Petrus Mela pada Minggu Biasa ke-6 (14/2).
Lebih jauh, P.Blasius menekankan bahwa faktor celaka itu terjadi tanpa disadari akibat dikuasai oleh duniawi. Bayangkan uang dan harta menjadi segala-galanya, yang akibatnya mematikan iman seseorang akan Tuhan. Dan ini sungguh-sungguh tidak terberkati. Materi-materi duniawi merajai orang untuk berkuasa sehingga melupakan Tuhan dan tidak pernah lagi berdoa, tidak pernah ingat dan ajak keluarga di rumah untuk berdoa kepada Tuhan.
Umat Hanya Pengelola
Sebaliknya, kita sebagai umat dianjurkan agar kaya raya, pintar, baik dan rendah hati. Dengan mampu menguasai kekayaan dan menyadari diri bahwa uang sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan. Pemilik satu-satunya adalah Tuhan. Bagaimana uang dan harta kekayaan dapat dipergunakan? Dengan cara sabar, murah hati, mau menolong dengan cara mendengar orang lain yang berkesusahan dan berusaha menolong. “Beri waktu untuk berdoa agar iman tumbuh dalam keluarga. Dengarkan isteri, dengarkan suami, dengarkan anak-anak…dan beri waktu untuk Tuhan dengan rajin berkomunikasi termasuk tidak lalai melakukan kewajiban datang ke gereja setiap hari Minggu…” katanya dengan lemah lembut sambil mengajak umat menjadi pelaku Sabda Tuhan dan bukan penonton.
Menarik apa yang disampaikan dalam permenungan itu, karena orang sering ketergantungan dengan materi kekayaan. Ujung-ujungnya orang memandang diri sebagai pemilik kekayaan yang seharusnya hanyalah pengelola. Kita diajak melihat diri masing-masing apakah selama ini tujuan hidup kita hanya mencari kekayaan dan kelimpahan harta? Tentu hal ini tidak tujuan. Dalam hal ini, kita selaku umat perlu sekali menyadari bahwa kita hanya pengelola selama masih hiidup di dunia ini. Kita hidup untuk diri dan keluarga tetapi sekaligus hidup untuk sesama demi perkembangan bersama. Lewat permenungan itu, kita disadarkan bahwa harta tidak jaminan untuk mendapatkan keselamatan. Iman akan Tuhanlah yang menjamin kita bisa meraih keselamatan. Dan itu hanya bisa terwujud bila kita menjadi pelaku-pelaku Sabda Tuhan yang selalu mengajak kita untuk bertobat dan bertobat. ***
READ MORE - Tidak Boleh Mengandalkan Uang
Author: Anonim
•Senin, Agustus 24, 2009
PENGUKUHAN SISWA-I
KELAS SEKOLAH STANDAR NASIONAL (SSN) SMP FATIMA DAN RINTISAN SEKOLAH BERSTANDAR INTERNASIONAL (RSBI) SMA KATOLIK BERKESAN



Peresmian sekaligus pengkuhan siswa-i Kelas SNN SMP Fatima dan RSBI SMA Katolik Sibolga berlangsung sukses dan berkesan, pada hari Senin 24 Agustus 2009. Acara itu didahului dengan upacara bendera dengan pembina upacara Kadis Pendidikan Drs. Rustam Manalu dan dihadiri oleh Dewan Pembina Sr. Florentina Siregar SCMM, Ketua Yayasan Santa Maria Sr. Rosa Sihotang SCMM, Penasehat Yayasan Kamaruddin Gultom, Kepala SMP Fatima Sr. Cornelia Manao SCMM, dan Kepala SMA Katolik Sr. Francis Dakhi SCMM. Hadir seluruh Kepala Sekolah dan guru-guru se-Yayasan Santa Maria Berbelaskasih Sibolga, serta Bapak dan Ibu orangtua siswa-i yang anaknya dikukuhkan.


Pada upacara bendera itu bertindak sebagai pemimpin upacara yakni guru olahraga SMP Fatima Wenglin Rajagukguk, petugas penggerek bendera Evelyn, Marlin, dan Vivin.

Pada arahannya Pak Kadis memuji Yayasan Santa Maria sebagai masyarakat pembelajar. Menurutnya, salah satu bukti keberhasilan itu adalah berhasilnya Yayasan Santa Maria Berbelaskasih Sibolga merintis pendirian SSN dan RSBI. ”Ide, gagasan, dan usaha yang telah dilakukan Yayasan ini merupakan upaya untuk memajukan pendidikan yang bermutu dan berkualitas...” Ujar Pak Kadis atas nama Pemerintah Kota Sibolga merasa bangga.
Usai upacara bendera, seluruh peserta diajak oleh Panitia untuk mengikuti acara pengukuhan di aula SD RK jalan Katamso Sibolga. Turut menyampaikan kata-kata sambutan, Ketua Yayasan Sr. Rosa Sihotang dan Dewan Pembina Yayasan Sr. Florentina Siregar. Menurut pengakuan Sr. Rosa bahwa RSBI di SMA Katolik maupun SSN SMP Fatima tidak terlepas dari bimbingan Pak Kadis. Kata beliau, ”Kami bisa merintis pendirian Kelas SSN dan RSBI atas dukungan Pak Kadis, untuk itu, wajarlah kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak atas segala bimbingan dan arahan terlebih kesediaan Pak Kadis hari ini meluangkan waktu untuk meresmikan dan mengukuhkan program SSN dan RSBI di bawah Yayasan Santa Maria Berbelaskasih.....”
Sementara itu, Sr. Florentina yang selalu mengajak hadirin bertepuk tangan ketika menyampaikan sambutan mengutarakan hal yang sama kepada Pak Kadis dan seluruh jajarannya. Sr. Florentina menambahkan, bahwa tiga tahun yang silam telah merintis rencana mencanangkan Kelas SNN dan RSBI itu, namun sekarang hal itu baru terwujud pada saat Sr. Rosa Sihotang memimpin Yayasan Santa Maria Berbelaskasih Sibolga. Selaku Pembina beliau berpesan banyak, secara khusus kepada 36 siswa-i Kelas SNN dan 33 orang siswa-i Kelas RSBI. Kata Sr. Sr.Florentina, ”Anak-anak kami sekalian, gunakanlah kesempatan belajar di sekolah sebaik-baiknya untuk perkembangan pribadimu, sehingga citra Kota Sibolga semakin baik untuk masa yang akan datang...”
Ketika Peliput berita ini bertanya kepada Fransiska Putri Duha soal biaya dan bahasa yang digunakan selama proses belajar mengajar di Kelas RSBI itu, siswi yang mempunyai sekolah asal dari daerah jauh yaitu SMP Bintang Laut Teluk Dalam Nias Selatan mengatakan, ”Biaya uang sekolah 300 ribu, uang OSIS 2 ribu setiap bulan, Pak. Dan Guru-guru yang mengajar selama proses belajar mengajar 25 % berbahasa Inggris...” Sementara itu, Vanesa Nababan yang duduk pada kelas SNN menjawab, ”Kalau kami, Pak. Uang Sekolah setiap siswa hanya 200 ribu rupiah setiap siswa...”
Acara pengukuhan Kelas SNN dan RSBI itu ditandai dengan pemakaian baret atau topi yang dikenakan langsung kepada 2 siswa sebagai perwakilan. Bapak Kadis mengenakan baret kepada kelas RSBI, sedangkan Sr. Rosa Sihotang mengenakan kepada perwakilan Kelas SNN. Selanjutnya, diteruskan pemakaian baret itu kepada seluruh siswa-i lainnya oleh Kepala Sekolah SMA Katolik dan SMP Fatima. Setelah peresmian dan pengukuhan, turut menyampaikan sambutan mewakili orangtua siswa, menyanyikan lagu Padamu Negeri, foto bersama, foto guru-guru, dan ditutup dengan doa penutup oleh Kepala SD RK No.1 Sibolga Nelson Sitohang, S.Pd.

Edit Sibolga, 2 Oktober 2009
Elinus Waruwu, Guru SD RK No.4 Sibolga.
READ MORE - Pengukuhan SSN dan RSBI
Author: Anonim
•Senin, Agustus 24, 2009
“Saya terus terang tidak pernah bermimpi menjadi Wakil Walikota, tetapi ketika saya melihat fotoku itu... Wah...saya terkejut. Kami anggota Pramuka yang selama ini mendapat seleksi ketat sebagai Calon Anggota Paskibra Barisan-45, oleh Kakak Pembina membawa kami selama kurang lebih, waktu setengah hari mengunjungi langsung gedung DPRD Kota Sibolga. Kami mensimulasikan bagaimana cara mempraktekkan kepemimpinan daerah.“

Pernyataan itu diungkapkan Evelyn Elinawati Waruwu yang berkedudukan sebagai Wakil Walikota pada hari Sabtu, 18 Juli 2009. Sekitar satu jam mereka simulasi di kantor DPRD Kota Sibolga. Evelyn yang masih duduk di bangku sekolah kelas XI SMU Katolik Sibolga merasa gembira diberi kesempatan bagi seluruh rekan-rekannya Anggota Pramuka Kota Sibolga. Menurutnya, tidak semua anggota Pramuka bisa duduk di kursi terhormat seperti simulasi yang telah mereka lakukan. Mereka banyak belajar dan diajari bagaimana cara bertata bahasa, cara memutuskan hasil musyawarah, cara penyampaian pandangan umum, dan berbagai cara-cara lainnya. Perasaan pernah duduk di kursi terhormat itu bagi mereka adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak pernah disangka-sangka, dan tidak pernah akan terulang lagi.

Bisa dibayangkan, gedung DPRD itu tidaklah sembarang orang bisa masuk atau duduk di sana. Artinya, tiket memasuki gedung itu tidak bisa dibeli. Namun, mereka anggota Pramuka Kota Sibolga yang selama ini dibina dan diseleksi ketat berbulan-bulan, mendapat kesempatan terindah dalam pembinaan pramuka. Mereka juga belajar mempraktekkan bagaimana menjadi Pimpinan Daerah sebagai Walikota, Wakil Walikota, Ketua DPRD, dan Pimpinan SKPD lainnya. Ada acara penyampaian pandangan umum, pandangan Ketua-ketua Fraksi, dan lain sebagainya.
Anggota Paskibra Barisan -45 Kota Sibolga telah banyak belajar dari pengalaman yang diberikan oleh Kakak Pembina. Banyak hal telah mendewasakan para pelajar, bukan hanya latihan baris-berbaris tetapi sungguh-sungguh dibekali berbagai pengetahuan berguna selaku generasi muda Kota Sibolga.

Evelyn sendiri termasuk yang beruntung bisa terpilih sebagai Anggota Paskibra Barisan – 45. Dan dia pernah mensimulasikan cara penzampaian pandangan umum selaku Wakil Walikota, dia menutup pembicaraan dengan berkomentar, “Saya kira semangat juang para saudara-i anggota Paskibra Kota Sibolga telah banyak tumbuh dan berkembang. Saya sendiri sangat merasakan hal itu lewat kegiatan pembinaan-pembinaan oleh Kakak Pembina. Kami dituntut mandiri, dididik, diajari sehingga mampu melakukan hal-hal yang seyogianya belum bisa. Saya bisa melakukan tugas sebagai Wakil Walikota bukan karena saya hebat, namun saya telah dididik dan diajari sehingga tugas selama kurang lebih satu jam itu, pada akhirnya saya mampu dan bisa menzampaikan pandangan umum zang sangat mengesankan. Bagi saya, inilah pertama kali pernah pijakan kaki di kantor DPRD Kota Sibolga, dan posisi saya langsung sebagai Wakil Walikota pula. Dan sekalipun hanya satu jam kami simulasi di kantor terpandang itu, saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Mudah-mudahan bila kelak saya telah berhasil, bisa duduk lagi di kursi itu karena menurut saya enak duduk di kursi itu, tidak seperti kursi atau sofa yang ada di rumah... nyaman lho...“

Kita mengucapkan selamat kepada Evelyn, dan semua Anggota Paskibra Barisan-45 Kota Sibolga Tahun 2009. Selamat dan sukses!

Laporan:Elinus Waruwu.
Guru SD Swasta RK 4 Sibolga*
READ MORE - Wakil Walikota Satu Jam
Author: Anonim
•Minggu, Agustus 23, 2009
P. Alfonsus Ampu Pr memimpin pemilihan Voorhanger di gereja Katolik St. Petrus Mela, 23 Agustus 2009 bersama Dewan Pastoral Paroki Inti (DPPI). Hadir membantu proses pemilihan Wances Pasaribu dan S.Gulö masing-masing anggota DPPI Paroki Katedral Santa Theresia Sibolga. Proses pemilihan yang dipimpin langsung oleh Pastor itu, didahului dengan Perayaan Misa.
Pada khotbahnya P.Alfons menyatakan iman katolik tergantung pada sembako. Menurutnya, umat katolik tidak bisa bertahan lama pada iman kekatolikan, bila ada gereja lain yang menjanjikan sembako, maka dengan mudah umat katolik itu pindah agama. Bila dulu misionaris membagi-bagi bantuan, sekarang hal itu tidak bisa dipertahankan lagi. Bahkan lebih jauh dia mengatakan adanya umat katolik tidak mau ke gereja kalau tidak ada kolekte, dan ada juga umat yang hanya gara-gara masalah tidak terpilih menjadi Pengurus maka tidak nampak lagi di gereja itu. Belum lagi masalah bila Pastor menetapkan aturan perkawinan minimal pengumuman 3 kali, lalu keluarga katolik yang kurang beriman tersebut langsung pindah agama.

Kesetiaan umat terhadap iman kekatolikan masih rendah dan kurang dewasa. Seharusnya umat katolik menyadari bahwa hanya dengan menyambut Yesus lewat Perayaan Ekaristi adalah satu-satunya jalan untuk menuju keselamatan dan kesetiaan umat katolik beriman. “Barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman...” kutip Pastor Alfons menutup khotbahnya.

Pemilihan Voorhanger
Kehadiran P.Alfons Ampu Pr selaku Pastor Paroki ke stasi St. Petrus Mela hanya memimpin pemilihan puncak-kepemimpinan di stasi itu, yaitu sebutan Voorhanger atau Ketua DPSI. Bila dulu pemilihan lengkap dilakukan dan umatlah yang menentukan personal Dewan Pastoral Stasi Inti (DPSI), kali ini berbeda sebagai budaya baru. Atas nama DPPI langsung Pastor memimpin pemilihan dan umat hanya berhak menentukan lewat pilihannya 1 (satu) orang saja yaitu pemimpin di stasi itu.


Menurut keterangan P.Alfons untuk menentukan Wakil Voorhanger, Sekretaris, Wakil Sekretaris, Bendahara, dan Anggota DPSI menjadi tugas Voorhanger untuk melengkapinya di kemudian hari. Artinya, Pemimpin di stasi yaitu Voorhanger menentukan sendiri susunan kepengurusan yang bisa diajaknya untuk bekerjasama. Dengan kata lain, susunan kepengurusan baru itu nanti, dilengkapi sendiri oleh Ketua DPSI (Voorhanger) sesuai kebutuhan dan dukungan kerjasama dengan beliau.
Dari 19 orang Calon Pengurus DPSI St. Petrus Mela hadir 12 orang menjadi Calon Voorhanger dan tidak hadir 7 orang. Para Calon yang hadir itu duduk di depan umat dan tidak berhak untuk memilih. Hasil pemilihan Calon: Linus Elinus Waruwu (4 suara), Johannes C. Nadapdap (25 suara), Polmen Sitohang (45 suara), Aloysius Junris Silaban (3 suara), Robert Simarmata (1 suara), Persi Hutabarat (5 suara), Topot Limbong (6 suara), dan Bepo Tambunan (6 suara). Dengan hasil perolehan suara terbanyak jatuh kepada Polmen Sitohang sebagai Pemimpin tertinggi di Stasi itu.
Usai pemilihan Voorhanger disambut tepuk tangan meriah dari umat. Kelihatan sekali pemilihan berlangsung damai dan sukses, tetapi disayangkan sikap umat di gereja katolik Mela itu tidaklah banyak yang mengikuti acara pemilihan. Umat lebih banyak langsung pulang setelah Misa dibanding dengan yang tinggal mengikuti acara pemilihan.


Elinus Waruwu melaporkan.
READ MORE - Pemilihan Voorhanger Sebagai Budaya Baru
Author: Anonim
•Jumat, Agustus 21, 2009
Pada hari Kamis cerah, 30 Juli 2009 Wakil Walikota menyerahkan penghargaan berupa tropy, piagam, dan uang kepada Pengawas, Kepala Sekolah, dan Guru-guru berprestasi Tingkat Kota Sibolga tahun 2009. Seperti tahun-tahun sebelumnya penetapan peringkat yang memperoleh penghargaan hanya diambil dari peringkat pertama sampai ketiga.

Pada kesempatan itu, guru SD Negeri 081236 Sibolga atas nama Nofewati Laia, S.Pd. berhasil meraih Juara II Berprestasi untuk kelompok guru SD/MI. Penghargaan diserahkan langsung oleh H.Afifi Lubis, SH selaku Wakil Walikota Sibolga. Acara penyerahan hadiah berlangsung di halaman kantor Dinas Pendidikan jalan Tuanku Dorong Hutagalung No.4 Sibolga disaksikan oleh Drs. Rustam Manalu selaku Kepala Dinas, dan seluruh Staf Dinas Pendidikan lainnya.

Keberhasilan Sekolah

Usai penyerahan hadiah di kantor Dinas Pendidikan tersebut, terpancar kegembiraan di wajah Nofewati Laia,S.Pd. yang sehari-hari mengajar sebagai Guru Kelas I tempatnya bertugas. Hadiah penghargaan yang baru diterimanya itu, langsung dibawa ke sekolah tempatnya mengabdi. Menurutnya, prestasi yang diraih itu adalah keberhasilan sekolah, dan oleh karena itu dengan gembira dan bangga menyerahkannya kepada Ibu H. Annur Rosidah Nasution, S.Pd. selaku Kepala Sekolah. ”Ini tanda kegembiraan dan kebanggaan sekolah kami. Bila tahun lalu sekolah kami gagal meraih prestasi pada lomba yang sama, sekarang saya merasa lega telah berhasil memberikan peringkat terbaik kedua, dan prestasi itu saya sadari bisa meraihnya karena dukungan pembinaan Kepala Sekolah dan doa restu rekan-rekan Guru di SDN 081236 sekolah kami..” Ibu Laia mengenang keberhasilan dan menjelaskannya.

Sementara itu, ketika ditanyakan kepada Ibu Annur selaku penanggungjawab di SD Negeri 081236 Sibolga atas keberhasilan guru binaannya itu, beliau mengakui setelah sekian tahun memimpin sekolah itu, baru kali inilah mendapat keberhasilan dalam membimbing guru-gurunya. Beliau merasa senang dan gembira, bahkan berharap Guru-guru binaannya akan terus meraih yang terbaik. Mudah-mudahan dengan prestasi yang telah diraih SDN 081236 Sibolga saat ini, akan terus memotivasi semua warga sekolahnya dan menuai keberhasilan sekolah yang pantas dibanggakan.

”Saya selaku Kepala Sekolah merasa bangga dan senang atas keberhasilan ini. Manajemen soft skill yang selama ini telah saya terapkan, kini membawa keberhasilan sekolah. Oleh karena itu, saya mengajak semua guru-guru di SD Negeri 081236 ini untuk terus berkompetisi secara sehat dan mensosialisasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh itu untuk kemajuan sekolah, yaitu keberhasilan peserta didik untuk masa-masa yang akan datang.” Demikian Ibu Annur, menutup pembicaraan dengan harapannya.

۩ Elinus Waruwu,
Guru SD RK No.4 Sibolga melaporkan.

READ MORE - Guru SDN 081236 Meraih Juara II Guru Berprestasi Tingkat Kota Sibolga Tahun 2009
Author: Anonim
•Rabu, Agustus 19, 2009
Dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-64 di SMK PGRI 4 Sibolga telah diadakan berbagai lomba. Ada lomba tarik tambang, memasukan paku ke botol, dan berbagai lomba lainnya. Salah satu yang menarik adalah lomba kreativitas mengarang yang dikoordinir oleh Delima Parhusip guru SMK PGRI 4 Sibolga dan Elinus Waruwu mahasiswa STKIP Tapanuli Selatan yang bertugas menjalankan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) dan Kuliah Kerja Lapangan (KKL).

Menurut Delima Parhusip, lomba kreativitas mengarang yang diadakan oleh pihak sekolahnya merupakan salah satu upaya meningkatkan dan menanamkan kompetensi di bidang pendidikan, perjuangan, dan peranan generasi muda dalam hal pembangunan. Perlombaan kreativitas mengarang seperti telah terlaksana di SMK PGRI 4 Sibolga menekankan 4 poin penilaian, yaitu (1).kesesuaian judul dan alur cerita, (2).ejaan (EYD), (3).kerapian dari segi indahnya karangan, dan (4).ide gagasan baru yang dimunculkan oleh peserta lomba pada tulisan hasil karangannya.

Ibu Delima Parhusip menambahkan, bahwa lomba yang diadakan itu sesungguhnya dapat dijadikan bahan masukan umpan balik, sudah sejauh mana tingkat kompetensi yang telah dimiliki oleh siswa-siswi dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Dan ternyata, dari 28 orang siswa kelas X, XI, dan XII yang turut mendaftarkan diri dan mengikuti kegiatan, para siswa mengakui dan merasakan lomba kreativitas itu sangat mengesankan. Ibu Delima berkata,”Saya melihat banyak sekali yang berminat mengikuti lomba kreativitas mengarang ini. Sayang dibatasi hanya 2 orang mewakili setiap kelas. Beberapa peserta masih mengalami kesulitan khususnza siswa yang kurang rajin belajar. Dari beberapa hasil lomba mengarang ada temuan yaitu munculnza beberapa karangan siswa tidak nyambung dengan tema, dan ada yang tidak sesuai alur cerita, bahkan ada yang sama sekali ide gagasan baru yang kita harapkan itu belum muncul...”

Akhirnya, lomba kreativitas mengarang tingkat sekolah di SMK PGRI 4 Sibolga tahun 2009, Dewan Juri menetapkan: Juara I atas nama Sri Wahyuni kelas XII TKJ dengan nilai rata-rata 85,50. Dan berturut-turut Juara II Leonardo kelas XII TKJ nilai 80,50 dan Juara III Metty Kusriani Harefa kelas XI AP 2 nilai 78,50 serta Juara Harapan I atas nama Yenni Kartika XI AP 1 nilai 78,00. Mereka yang memenangkan lomba kreativitas masing-masing mendapat penghargaan berupa sertifikat dan hadiah hiburan lainnya. Selamat ya!

Penulis berita: Elinus Waruwu
Mahasiswa STKIP Tapsel Padangsidimpuan NPM 05010037.

READ MORE - Lomba Kreativitas Mengarang Tingkat Sekolah SMK PGRI Kota Sibolga
Author: Anonim
•Senin, Agustus 17, 2009

Pada hari Senin, 17 Agustus 2009 pukul 16.47 WIB Ester Elinawati (Siswi kelas V Tahun Pelajaran 2009/2010) bersama Ibu Marta Marbun, S.Pd. selaku Guru Pembimbing mewakili sekolahnya untuk penerimaan hadiah. Sekolah mereka meraih Juara I Lomba Paduan Suara, Juara III Vokal Group, dan Juara Harapan I lomba gerak jalan Tingkat Kota kelompok SD/MI se-Kota Sibolga. Menurut kedua perwakilan SD Swasta RK No.4 Sibolga, mereka bangga merayakan 64 tahun kemerdekaan RI tahun 2009. “Bila Para pahlawan berjuang mengangkat senjata melawan musuh, kami berjuang tidak demikian lagi. Kami berjuang membawa nama baik sekolah...” tutur Ester.

Ketika dilontarkan komentar, “Oh kalau demikian, apakah kalian pahlawan pejuang pendidikan?”Kedua perwakilan SD Swasta RK No.4 Sibolga itu tidak berani menjawab, keduanya hanya tersenyum bangga. Mereka bangga, menerima hadiah sore itu yang langsung diserahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Drs. Rustam Manalu.
Selamat ya!


Laporan :
Elinus Waruwu melaporkan.
READ MORE - Bangga Menerima Hadiah
Author: Anonim
•Sabtu, Agustus 15, 2009
Di gereja katolik Santu Petrus Mela hari Minggu, 9 Agustus 2009 Pastor Aloysius Barut, Pr yang sehari-hari bertugas sebagai Rektor seminari menengah Aek Tolang hadir memimpin perayaan misa pada Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Suasana kelihatan lebih meriah, umat yang hadir memenuhi gereja bahkan kelihatan beberapa ibu-ibu dan muda-mudi duduk di teras.

Pada khotbahnya P. Aloysius menekankan 3 sikap yang ada pada Maria. Sikap itu adalah 1).ketabahan, 2)iman, dan 3).kerendahan hati. Beliau menjelaskan banyak hal mulai dari latar belakang kenapa Maria dihormati dan diangkat sebagai Bunda Gereja di gereja kita katolik.
Menurut P. Aloysius, sering umat katolik dituduh oleh jemaat atau umat yang tidak seagama lainnya, mereka berpandangan salah karena Maria disembah oleh orang katolik. Munculnya sikap negatif itu sebagai akibat dari sikap keistimewaan Maria dalam gereja katolik, patung Maria ditempatkan dalam gereja atau rumah dan di tempat terhormat pula saat berdoa. Dalam hal ini, dapat dijelaskan, contoh sikap orang katolik yang salah, ketika patung Maria itu dijatuhkan oleh anak, maka Ibu dan Bapak dalam keluarga marah-marah, bahkan ada yang sampai memukul anaknya. Padahal itu hanya sebatas patung sebagai ekpresi wajah. Maka ketika orang lain melihat sikap kita itu, akhirnya mereka menyimpulkan bahwa orang katolik menyembah patung. Singkatnya, akibat ketidaktahuan tentang patung Maria maka muncul berbagai perbedaan presepsi dan pertentangan.

Seharusnya, patung Maria hanya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kita lebih intim terhadap Bunda Maria agar bisa bersama, membantu kita untuk menghantarkan doa-doa kita kepada Yesus Putranya bukan kepada Allah Bapa. Kita tidak mendewakan patung Maria, dan apalagi menyembah dia seperti Tuhan Yesus dan Allah. Namun sering kita melakukan sikap yang salah, maka orang yang tidak seagama dengan cepat menuduh kita menyembah patung.
Maria sebagai Bunda Kita dan Gereja, memang mempunyai keistimewaan khusus. Bila kita menonton acara Indosiar tentang puluhan pemuda yang mencari jodoh wanita atau sebaliknya puluhan wanita mencari pria idaman yang bisa dijadikan pasangan hidup. Bunda Maria adalah sosok wanita pilihan gereja katolik yang tiada bandingnya dan belum ada satu wanitapun yang bisa duduk menggantikan posisi Maria itu. Maria sebagai Bunda Kita dan Bunda Gereja.

Lebih jauh, P. Aloysius mengatakan, ada 3 sikap yang dimiliki Maria dalam perjalanan hidupnya yang mesti kita kagumi dan meneladaninya. Pertama-tama 1).ketabahan Maria menghadapi segala tantangan, tuduhan mengandung tanpa suami, ditolak di tempat penginapan ketika melahirnkan Putranya, anaknya Yesus dihukum dan disiksa sampai wafat dan lain sebagainya. Bila wanita sekarang mengalami hamil di luar nikah, sudah pasti ini dipertanyakan… atau anaknya diperlakukan kasar/ dipukul, pastilah orangtua mengejar dan tidak ada kamus istilah ketabahan itu. Nah, sikap ketabahan itu terpancar sangat jelas oleh Bunda Maria dan itu berlangsung selama dia hidup di dunia. Beranikah kita bersikap seperti Maria itu? Mau merelakan diri menjadi hamba Tuhan dan melayani Tuhan penuh 2).iman. Kata-kata Maria, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu itu…!” Satu jawaban iman yang menyerahkan kehidupannya total pada penyelenggaraan ilahi. Sekarang di antara kita sikap ber-iman Bunda Maria seperti itu sulit didapat, bila ada anak-anak kita mau menjadi Imam atau Suster, masih banyak di antara orangtua yang tidak rela. Malah ada pula orangtua yang menuduh anaknya kompensasi (pelarian).

Sikap Bunda Maria 3).kerendahan hati. Melalui sikap Bunda Maria dalam doa-doanya sungguh terjalin komunikasi intern kepada Allah dan juga hubungannya dengan sesama. Maria sudah tahu bahwa Allah memilih dia dari antara wanita dengan kata lain terpuji dan terpilih dari antara wanita. Dan ketika Maria terpilih, maka keluarlah doanya yang kita kenal dengan judul’ “Kidung Maria.” Sebaliknya kalau kita melihat ada orang yang sudah duduk pada jabatan terpilih, maka mulai dari gaya – mode – berbicara – dll turut berubah mempengaruhi kursi posisi tempat duduknya. Dan pelan-pelan muncul… antara lain kesombongan lawan dari rendah hati. “Wanita katolik mana yang bisa meraih sikap kerendahan hati ini sepanjang hidupnya seperti Maria?” tanya P. Aloysius saat keheningan umat menyimak khotbah.
Ibu dan Bapak sebenarnya bisa belajar dari kekurangan dirinya. Model Maria ditampilkan gereja kita katolik sebagai sosok yang seharusnya kita tiru dan teladani. Tidak perlu semua, namun dalam sikap sederhana bisa dilakukan. Contoh Ibu-ibu bisa tabah menghadapi kaum Bapak ketika dia marah. Bapak-bapak mampu tabah ketika usahanya gagal dalam pekerjaan, misalnza berdagang (menghasilkan uang). Ibu dan Bapak memberikan contoh rajin berdoa di rumah, gereja, partangiangan sebagai wujud umat beriman. Ketika berhadapan dengan semua orang, kita bisa menghadapinya dengan rendah hati tanpa harus marah-marah atau mengeluarkan kata-kata kotor.

Akhirnya P. Aloysius menutup khotbahnya dengan pesan berupa ajakan dan nasihat, “Mari kita mempraktekkan dalam hidup kita masing-masing sikap Maria, ada tiga sikap yang ditawarkan kepada kita dalam menjalani hidup sebagai orang katolik. Sikap ketabahan, iman, dan kerendahan hati, Amin.” ***
Elinus Waruwu

READ MORE - Tiga Sikap Maria: Ketabahan, Iman & Kerendahan Hati