Author: Anonim
•Selasa, Agustus 04, 2009
PELANTIKAN PENGURUS PSBG CEMERLANG DAN PENYERAHAN HADIAH LOMBA KREATIVITAS PEMBUATAN ALAT PERAGA MURAH (APM) BINAAN DBE 2 KOTA SIBOLGA

Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Sibolga Drs. Rustam Manalu selaku pembina DBE 2 Kota Sibolga, didampingi Staf Dinas Pendidikan Dikjar Drs. Porman Bakara dan Jhonson Sihombing, S.Pd. mendapat undangan khusus dari DBE 2 PSBG Cemerlang yakni di SD Negeri 081240 Jalan Merpati Sibolga Selatan. Pada kesempatan itu (1/8), Pak Kadis melantik pengurus PSBG Cemerlang Sibolga Selatan yang baru.

Pengurus baru yang dilantik oleh Pak Kadis Pendidikan Kota Sibolga yaitu Ketua Sahala Gultom,S.Pd., Wakil Ketua Parluhutan,S.Pd., Sekretaris Sova Yuliana Sari,S.Pd.I., Wakil Sekretaris Drs.Herianto, Bendahara Roslina Tanjung,S.Pd., Koordinator Pengembangan Profesional Nursamida Sibarani,S.Pd., Koordinator Informasi Mico Mahulae, Koordinator Pertemuan Elfrida Sianturi,S.Pd., dan Koordinator Produksi Rosmawati Zega, S.Pd.

Selain itu, Pak Kadis juga menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba kreativitas guru-guru binaan DBE 2 Sibolga Selatan, khususnya perlombaan kreativitas dalam hal pembuatan alat peraga murah (APM) yang telah terlaksana 31 Juli 2009. Darwin Siregar,S.Pd. selaku DLC Sibolga Selatan dan Tapanuli Selatan sekaligus penanggungjawab PSBG Sibolga Selatan, menjelaskan sebanyak 19 APM yang ditampilkan dari hasil karya ciptaan masing-masing guru tersebut, turut ambil bagian mengikuti kegiatan lomba. Dan Enam APM ditetapkan masuk nominasi terbaik menjadi pemenang, yaitu Juara I atas nama Sri Yuliana Sari SDN 085118, Juara II Hasnah Irawati Lubis SDN 086441, Juara III Nur Azizah, S.Pd. SDN 087695. Dan peringkat 4 jatuh di tangan Meilina Sari, S.Pd.I dari MIS Nurul Falah, peringkat 5 Rosinta Sihotang SDN 081240, dan terakhir peringkat ke-6 atas nama Nofewati Laia, S.Pd. dari SDN 081236 Sibolga Selatan. Guru-guru yang berhasil itu memperoleh penghargaan berupa tropy, piagam, dan uang pembinaan.

Pak Kadis Pendidikan merasa senang atas upaya DBE 2 Sibolga Selatan yang telah berusaha membina dan menyelenggarakan berbagai kegiatan untuk terus memotivasi guru dalam peningkatan profesionalismenya. Menurut Pak Kadis, guru-guru kita diminta terus untuk meningkatkan kinerjanya dalam mendidik dan mengajar anak bangsa. Peningkatan kinerja dalam memberhasilkan pembelajaran di sekolah dapat dijadikan dasar untuk membangun generasi muda (peserta didik) yang ujung-ujungnya beberapa puluh tahun ke depan peserta didik itu akan memimpin dan menggantikan posisi generasi tua kelak.

Pak Manalu juga memberi pujian kepada guru-guru binaan DBE 2 itu, menurut beliau guru-guru binaan DBE 2 Kota Sibolga telah banyak memajukan pendidikan lewat karya dan berbagai usaha dalam kegiatannya. Maka, beliau berharap guru-guru binaan DBE 2 Kota Sibolga hendaknya terus-menerus menciptakan pembelajaran yang inovatif seperti membuat alat peraga murah (APM) untuk mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Ditambahkannya, bahwa keberhasilan pendidikan adalah upaya menciptakan generasi yang cerdas dan kompetitif secara sehat. Oleh karenanya perlu terus dilakukan perbaikan, dan guru harus mampu memotivasi peserta didik agar bisa meraih prestasi-prestasi yang terbaik.

۩ Elinus Waruwu,
Guru SD RK 4 Sibolga melaporkan.

READ MORE - Pelantikan Pengurus PSBG Cemerlang Sibolga Selatan
Author: Anonim
•Kamis, Juli 30, 2009

Oleh: NOFEWATI LIA, S.Pd.

"Guru yang baik terus berupaya menimba pengalaman. Dan pengalaman itu adalah guru terbaik."

Barangkali latar belakang pernyataan itulah kiranya, banyak guru di bawah binaan DBE 2 Kota Sibolga, termotivasi membuat alat peraga murah dengan tujuan perbaikan pembelajaran. Singkatnya, ide mencipta alat peraga murah yang dipaparkan lewat tulisan ini, berawal dari binaan DBE 2 Kota Sibolga dalam upaya menciptakan alat peraga murah, aman, nyaman dan menyenangkan.

Maka dari hasil penilaian Dewan Juri Tim DBE 2 Kota Sibolga, alat peraga murah dengan judul ”Ulat Pembelajaran” karya penulis sendiri, Nofewati Laia, S.Pd. telah dinilai dan ditetapkan sebagai peringkat 6 dari 19 orang guru binaan DBE 2 yang mengikuti lomba mencipta alat peraga. Hadiah berupa piala, piagam, dan uang 100 ribu rupiah telah penulis terima langsung dan diserahkan Bapak Kepala Dinas Pendidikan Drs. Rustam Manalu (Sabtu, 1 Agustus 2009).


Bahan, Alat, Cara Pembuatan, dan Penggunaan

Melalui tulisan berikut, penulis ingin membagi pengalaman dalam menciptakan alat peraga murah (APM) itu buat rekan-rekan guru SD, khususnya inovasi baru pada pembelajaran bahasa Indonesia dan matematika di kelas awal (rendah). Sekali lagi, alat peraga murah serba guna ”Ulat Pembelajaran” praktis dipergunakan di kelas awal karena cukup sederhana dan mudah untuk didapat.

Adapun bahan pembuatan alat peraga murah ”Ulat Pembelajaran” ini cukup 4 macam saja, yaitu 1).cangkang telur, 2).kertas karton/ kertas kilat, 3).lem, dan 4).tusuk gigi. Alat yang dipergunakan untuk membuat menjadi alat peraga yaitu pisau kertas dan gunting. Cara pembuatan APM ”Ulat Pembelajaran” cukup sederhana dan mudah, yaitu (1).potong cangkang telur dengan pisau/ gunting, (2).beri hiasan menarik dengan kertas berwarna, (3).bentuk menjadi ulat pembelajaran, (4).beri lubang tempat huruf dan angka, (5).pergunakan sesuai tingkat kemampuan/ kebutuhan level anak.

Cara penggunaan APM ”Ulat Pembelajaran” yang penulis programkan sendiri ini, diterapkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas I semester 1 dengan kompetensi dasar yakni mencontoh huruf, kata, kalimat sederhana dari buku atau papan tulis dengan baik dan benar, dengan materinya yakni penulisan huruf, kata, dan kalimat. Peserta didik diajak mengenal huruf dengan memasang huruf-huruf tersebut pada APM ”Ulat Pembelajaran”. Hal yang sama pada mata pelajaran matematika di kelas I semester 1 dengan kompetensi dasar menguraikan banyak benda pada materi operasi hitung bilang.

Tentu dalam hal PBM ini guru mempersiapkan peserta didik seperti bermain sambil belajar, sistem pakem harus berlangsung selama proses belajar mengajar, sehingga peserta didik merasa senang dan tidak sampai membosankan, peserta didik diupayakan terlibat langsung melaksanakan pembelajaran sesuai petunjuk. Contoh instrumen sederhana perintah dari guru, ”Anak-anak, siapa yang sudah mengenal huruf i ? Nah, ambil huruf i itu dan pasangkan di Ulat Pembelajaran kita!” Demikian seterusnya sampai terbentuk kata, misalnya kata ibu.

Guru dapat meminta peserta didik untuk mencari huruf atau angka yang sudah dikenal secara bergiliran. Kemudian, peserta didik diminta untuk memasang huruf/ angka tersebut pada alat ”Ulat Pembelajaran”. Nah ketika anak mampu dan bisa melakukannya sendiri, maka diberi motivasi berupa pujian, misalnya bertepuk tangan. Secara tidak sadar peserta didik digiring untuk lebih cepat memahami sekaligus mengenal dengan lebih cepat membaca, menulis, dan berhitung.

Alat peraga murah (APM) ”Ulat Pembelajaran” buatan guru sendiri pada pembelajaran bahasa Indonesia dan matematika yang inovatif, seperti dikemukakan dalam prinsip-prinsip metode belajar yang pakem dapat meningkatkan keterampilan anak-anak didik dalam pengembangan bakat dan kemampuannya. Baik mata pelajaran bahasa Indonesia juga matematika.

Penerapan APM ”Ulat Pembelajaran” dalam mengajar yang pakem, secara tidak langsung memberikan rasa percaya diri pada anak-didik dan membantu mereka berprestasi. Hemat penulis, APM “Ulat Pembelajaran” ini merupakan sebuah alat peraga soft skill (keterampilan hidup) yang perlu diterapkan oleh guru-guru dan dipraktekkan oleh setiap peserta didik dalam mempersiapkan diri menyongsong masa depan yang lebih baik dan cerah.

Penulis menyarankan kepada Pemerintah, Yayasan Pengelola Sekolah, secara khusus Gugus Binaan DBE 2 Kota Sibolga agar tetap mengadakan pusat-pusat pembinaan kepribadian guru, termasuk lomba membuat APM seperti telah kami ikuti ini. Dan pembinaan pendidikan sebaiknya terus menerus dilakukan. Guru perlu belajar menciptakan alat peraga baru, PTK, dan menguasai IPTEK. Penulis yakin melalui pembinaan pendidikan, kita telah turut mempersiapkan generasi yang akan datang (future generation) berperan aktif dan bertanggungjawab dalam masyarakat global, masyarakat pembelajar (learning society) abad 21 ini. Salam Pendidikan! *

READ MORE - APM Ulat Pembelajaran Karya Nofewati Laia, S.Pd.
Author: Anonim
•Selasa, Mei 12, 2009
Baru-baru ini (8-9 Mei 2009) para anggota Ordo Fransiskan Sekulir (OFS) se-Keuskupan Sibolga mengadakan kapitel di Ruang Pembinaaan Rohani (Ruper) Laverna Gunungsitoli – Nias, pertemuan persaudaraan ordo awam sedekanat Tapanuli dan Nias wilayah Keuskupan Sibolga. Hadir membuka dan memimpin pada kesempatan itu Jakobus Dominikus Fernandez pemimpin tertinggi OFS se-Indonesia, Minister Nasional dari persaudaraan Cibinong Regio Jawa Barat (hasil Kapitel Nasional II, 2-6 Juli 2008) bersama saudari Esther Maringka.

Pertemuan para awam yang didampingi oleh pendamping rohani P.Bernard Telaumbanua OFMCap berlangsung sukses, berikut laporan Sdr. Elinus Waruwu sekretaris Dewan Regio Sibolga melaporkan.

Setelah dua puluh empat tahun sejak 1985 – sekarang, OFS Keuskupan Sibolga yang dirintis pendiriannya oleh P.Polykarp Geiger OFMCap tahun 1985 di Keuskupan Sibolga terus mengalami perkembangan pesat. Pada 4 Mei 2003 terbentuklah Regio Sibolga secara otonom pada kapitel I yang dipimpin oleh FX.Subroto selaku pelayan nasional saat itu.

Awal pembentukan kelompok OFS di Keuskupan Sibolga dimulai dari kelompok doa sederhana. Belajar tentang sejarah hidup Bapa St. Fransiskus dari Asissi, berdoa, rekoleksi, ret-ret, kursus dan pembinaan-pembinaan lainnya dari pendamping rohani. Di bawah Dewan Regio St. Polykarpus Sibolga sudah ada 4 persaudaraan setempat yang telah sah pendiriannya menurut hukum kanonik (sudah dikanonisasi), yaitu 1).Persaudaraan Lokal OFS Sipeapea 15 Januari 1993, 2).Persaudaraan Lokal OFS Sibolga 15 Januari 1993, 3).Persaudaraan Lokal St. Ludovikus Mela-Sibolga, 7 Februari 2006 dan 4).Persaudaraan Lokal St.Leo Pold Gunungsitoli 7 Februari 2006.

Dan kini, hanya dalam waktu 6 tahun sejak adanya Dewan Regio Sibolga sudah terjadi pemekaran Regio Sibolga itu menjadi 2 persaudaraan Regio yakni Regio Sibolga dan Regio Nias. Inilah salah satu hasil kapitel penting yang berlangsung sukses, meriah, dan penuh persaudaraan di Nias.

Selama ini anggota OFS Nias yang mempunyai induk persaudaraan setempat satu-satunya yaitu St. Leo Pold Gunungsitoli, dan bernaung di bawah persaudaraan Regio Sibolga. Pada acara kapitel yang merupakan puncak pertemuan persaudaraan OFS untuk kegiatan berdoa, berevaluasi, dan berefleksi atas perjalanan persaudaraan selama periode yang lalu, berhasil memutuskan satu kebijakan penting yang baru sebagai arah persaudaraan ke depan secara bersama-sama.

Seperti diketahui bahwa kapitel dilaksanakan untuk mengakhiri satu periode pelayanan dan untuk memulai periode yang berikutnya. Oleh karena itu, maka tepatlah dilontarkan satu pertanyaan, “Quovadis OFS Keuskupan Sibolga?” Pertanyaan mendasar itu bermakna sangat mendalam, di mana lebih ditekankan, ditujukan, dan dijawab oleh seluruh anggota OFS dan kedua pengurus Dewan Regio Sibolga dan Nias, “Mau ke mana diarahkan Ordo Awam Fransiskan Sekulir di Keuskupan Sibolga?” Pertanyaan dan permenungan itu diungkapkan oleh pendamping rohani sebagai masukan positif sebelum acara kapitel dimulai.

Lebih jauh P.Bernard OFMCap menceritakan pengalamannya dalam mendampingi anggota OFS di Keuskupan Sibolga baik Regio maupun Lokal pada awalnya beliau sangat bersemangat, ada jadwal kunjungan, dan ada target. Namun, idealismenya itu tidak nyambung dengan keadaan konkrit OFS itu sendiri akibat tugas beliau yang beraneka-ragam, dan tidak fokus. Menurut beliau, seharusnya OFS pada tingkat tertentu meminta secara resmi pendamping OFS “fulltimer” kepada OFMCap, OSF, KSFL, FCJM, atau keluarga Fransiskan.

Perdebatan Terjadi

Pada kapitel yang berlangsung di Nias itu, Ketua-ketua persaudaraan OFS yang tinggal di Nias meminta dan memohon kepada Dewan Nasional agar OFS Nias disahkan menjadi satu Regio. Terlihat pada kapitel itu terjadi perdebatan sengit yang sulit dihindari, ibarat serunya jajak pendapat antara anggota OFS Sibolga dengan OFS Nias. Ketika Sirus Sofumboro Ndruru anggota Dewan Regio Sibolga periode 2003-2006 yang bertempat tinggal di Teluk Dalam Nias Selatan dihubungi dan dimintai pendapatnya soal persiapan kapitel itu, beliau mengakui sendiri bahwa kapitel yang berlangsung di Nias itu kurang persiapan, bahkan tidak ada rapat di antara Dewan Regio Sibolga sebelumnya. “Yah, kalau Rapat Pra Kapitel sudah terjadi di Nias, tetapi itu sepihak, di mana saudara-i dari Sibolga belum terlibat…padahal justuru di daratan Tapanuli berkedudukan Minister Dewan Regio.” Ungkap Pak Sirus S. Ndruru.

Sempat Klemenius Panjaitan selaku Minister Lokal St. Ludovikus Mela-Sibolga, mempersalahkan Dewan Nasional karena tidak setuju dimekarkannya OFS Nias di bawah Regio Sibolga. Namun mendengar pendapat Yosafat Dakhi dari persaudaraan Teluk Dalam Nias Selatan, Elias Laia Minister Lokal Gunungsitoli, dan Romanus Hasjran Intan selaku Minister Persaudaraan Tingkat Regio Sibolga, serta penjelasan P.Bernard sebagai pendamping rohani OFS.

Maka akhirnya sampailah pada keputusan, Pelayan Nasional J.D.Fernandez secara langsung mempertanyakan kepada Elias selaku Minister selama ini, sejauh mana kemampuan anggota OFS Nias siap untuk dimekarkan. “Bisakah OFS Regio Nias membenahi diri dalam tempo 6 bulan sehingga Persaudaraan Setempat memenuhi syarat dengan pengakuan resmi secara hukum kanonik?” dan terlihat jawaban Elias Laia masih kurang jelas, sehingga pertanyaan diulangi sekali lagi oleh Minister Nasional. Dan jawaban Elias Laia dengan dukungan para anggota OFS di Nias menjawab, “Ya, kami bisa dan siap!”

Dengan pernyataan dan dukungan berupa komitmen persaudaraan Regio Nias itu dan hasil mufakat bersama, sekalipun ada dua tiga orang saudara yang berbeda pendapat, tetapi itu sah-sah saja. Dewan Nasional menyetujui pembentukan Dewan Regio Nias dengan syarat, yaitu 6 bulan setelah dilantik Dewan Regio Nias harus melengkapi segala persyaratan yang telah ditetapkan. “Saya sebagai Pelayan Nasional, dengan ini menerima dan memutuskan bahwa status persaudaraan Nias yang selama ini bernaung di bawah Regio Sibolga, saya tetapkan satu Dewan Regio dan kita akan mengadakan pemilihan pada hari ini juga. Dan keputusan ini, akan saya pertanggungjawabkan pada kapitel Nasional tahun 2011 yang akan datang….” tegas J.D.Fernandez yang disambut tepuk tangan meriah 52 orang anggota OFS peserta kapitel.

Dengan demikian, OFS di Keuskupan Sibolga ada 2 Dewan Regio yang terbentuk. Bagi Regio Sibolga kapitel ini adalah kapitel II, sedangkan Regio Nias merupakan kapitel I.

Dasar Pemekaran Regio Nias

Memang keputusan Minister Nasional untuk memekarkan persaudaraan Regio Sibolga patut dipuji karena punya dasar landasan yang kuat, seperti dijelaskan oleh Pendamping Rohani P.Bernard bahwa AD dan Kontitusi OFS Artikel 23 berbunyi: Persaudaraan Regional merupakan persekutuan yang tertata dari semua Persaudaraan Lokal yang ada dalam satu pulau (KU 61:1), dan apabila keadaan memungkinkan dapat saja dibentuk Persaudaraan Tingkat Regio, menurut Keuskupan dengan syarat: jumlah tidak kurang dari tiga Persaudaraan Lokal, dan telah memenuhi syarat kemandirian secara ekonomis. Dengan demikian persaudaraan dari Nias sudah memenuhi syarat yaitu persaudaraan 1). Lokal St.Leo Pold Gunungsitoli, 2).Lokal Teluk Dalam Nias Selatan, dan 3).Lokal Idanogawo. Masalahnnya adalah belum punya nama pelindung persaudaraan untuk Nias Selatan dan Idanogawo, serta pengurusan secara kanonik masih dalam proses. Namun, sesungguhnya kedua persaudaraan itu sudah banyak anggotanya yang telah profesi (berkaul) dan sudah memenuhi syarat.

Maka mengingat daerah pelayanan letak geografisnya di mana pulau Sumatera dan pulau Nias berjarak kurang lebih 120 mil, ditempuh dalam 1 hari pelayaran, jarak tempuh Nias–Sibolga yang harus melewati laut luas (samudera), dan biaya transportasi tinggi yang menyulitkan anggota OFS Nias bisa bergabung ke Regio Sibolga daratan Tapanuli, maka adalah lebih tepat agar OFS di Nias menjadi 1 Persaudaraan Regio saja atau otonom.

Dengan disahkannya satu persaudaraan Regio Nias, maka segala administrasi dan proses pengembangan OFS di Nias menjadi hak dan tanggungjawab Regio Nias secara otonom, dan selanjutnya persaudaraan Regio Nias langsung berhubungan dengan Dewan Pelayanan Nasional. Dan inilah sejarah baru bagi anggota OFS Nias yang patut dicatat dan disyukuri.

Sejarah Baru

OFS Keuskupan Sibolga pernah diberitakan di majalah Hidup No.18 Tahun XLVI terbitan 3 Mei 1992, saat OFS mendapat kunjungan khusus oleh Pater Benitius OFMCap pendamping rohani Internasional dari Roma. Dan menurut Romanus Hasjran Intan, sesungguhnya OFS Regio Sibolga sampai sekarang tetap eksis dan komitmen dalam pengembangan pelayanannya.

Romanus memberi kesaksian, ”Ini sungguh luar biasa, saya bangga sebagai Minister Regio Sibolga atas pemekaran Regio Nias sebagai satu wadah otonom, bisa mandiri dan tidak terikat lagi dengan Regio Sibolga. Peristiwa ini merupakan rahmat Tuhan, hasil kapitel terbaik, sekaligus sejarah baru bagi para saudara-i anggota OFS Regio Nias, saya senang, dan berterima kasih kepada Minister Nasional. Dan kita semua mengucapkan proficiat, semoga spritualitas fransiskan menggema di Nias dan bahkan di tempat lain…”.

Dewan Regio yang Baru

Pelaksanan pemilihan Dewan Regio (9/5) yang baru, berlangsung selama kurang lebih 3,5 jam dari pukul 14.00 – 17.30 WIB. Hasil Pemilihan kapitel II Dewan St. Polykarpus Regio Sibolga, terpilih Minister: Romanus Hasjran Intan, Wakil: Antonius Susanto, Sekretaris: Linus Elinus Waruwu, Bendahara: Pince Fransiska Simanjuntak, dan Formator: Antonius Enjoy Situmorang. Sementara itu Hasil Pemilihan kapitel I Dewan Regio Nias (masih pembenahan nama pelindung persaudaraan), Minister: Elias Laia, Wakil: Sirus Sofumboro Ndruru, Formator: Tupauli Lubis, Sekretaris: Editha Harefa, dan Bendahara: Stefanus Laia.

Para Pengurus OFS Tingkat Regio tersebut, dikukuhkan atau dilantik oleh Dewan Nasional, pada perayaan Misa Kudus sore itu juga, untuk masa pelayanan periode 2009 – 2012. Proficiat ! Pace e bene!* Ewr.

READ MORE - Quovadis OFS Keuskupan Sibolga
Author: Anonim
•Rabu, Februari 04, 2009

Ketika baru-baru ini Sintua Pengurus Gereja dari salah satu stasi di daerah Tapanuli didatangi tamu yaitu tiga orang Naposo (baca: Muda-mudi) bernama Naburju, Natigor, dan Sinauli. Kepada mereka dilontarkan satu pertanyaan, “Apakah masih ada keluarga kudus pada zaman modern sekarang ini?” Sejenak ketiga orang Naposo tersebut terkejut dan mulai berpikir. Barangkali melayang pandangan mereka tentang keluarganya masing-masing. Dan pertanyaan itu diulang beberapa kali oleh Sintua atau Penanya. Ternyata mereka sulit menjawab. Ketiga orang Naposo seperti bingung dan tidak menemukan jawaban.

Barangkali ini juga menjadi permenungan bagi kita umat Katolik. Dari nama-nama Naposo tadi, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk memberikan jawaban tentang kriteria Keluarga Kudus tersebut. Naburju (bhs Batak, berarti yang baik – bhs Nias Si sokhi), Natigor (bhs Batak, berarti yang lurus = bhs Nias Satulo), dan Sinauli (bhs Batak, berarti yang indah/ harmonis – bhs Nias Sibaga). Jadi, kalau dipikirkan sebuah keluarga dikatakan kudus bila ketiga sikap tadi yaitu baik – lurus – harmonis, terdapat dalam keluarga tersebut. Ketiga nilai kehidupan tersebut harus tampak dan dihidupkan dalam keluarga kudus.

Sebenarnya Gereja Katolik sudah lebih maju dibanding pandangan tetangga lainnya tentang keluarga kudus. Sejak dulu Perayaan Pesta Keluarga Kudus tetap tak terlewatkan di setiap tahun liturgi gereja kita. Sayangnya, tokoh-tokoh idola Keluarga Kudus tersebut seperti sudah kadaluwarsa bagi anak-anak kita. Kenapa ? Jawabnya karena model Keluarga Kudus yaitu Yosef-Maria-Yesus tidak lagi dihidupkan dalam keluarga katolik. Seharusnya untuk mencapai model Keluarga Kudus, orang katolik sudah seharusnya meniru atau meneladani keluarga dari Nasaret itu. Setiap keluarga diharapkan menghidupkan nilai-nilai si Burju, si Tigor, dan si Nauli tersebut sehingga model keluarga kudus itu terdapat dalam keluarga kita sebagai umat katolik.

Maka belum terlambat, bila kita kembali melihat Keluarga Kudus dari Nasaret itu. Yosef adalah pria sederhana yang rendah hati, dialah yang pantas mendapat julukan si Burju. Dalam tantangan yang dihadapi, dia tampil sebagai pelindung bagi Maria dan Yesus. Apakah sebagai seorang ayah dalam keluarga kita masing-masing telah mempunyai sikap seperti Yosef, di mana mampu sabar terhadap problem keluarga kita? Bila respon kita ya, berarti keluarga anda sudah tergolong masuk kategori keluarga kudus katolik zaman modern/ sekarang.

Kita lihat sikap Maria (Natigor) ketika menjawab malaikat Tuhan, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu…” Dari tutur kata Maria yang menghidupkan sikap pasrah itu, kepada kaum Ibu-ibu Katolik kita bertanya, “Adakah sikap kepasrahan diri secara total itu dihidupkan dalam menghadapi rintangan seperti sikap-sikap suami yang menjengkelkan? Atau kaum Ibu katolik melarikan diri dan menghindar dari penyelenggaraan ilahi?” Bila seorang Ibu berani menjawab yah…saya telah pasrah kepada Tuhan dan tidak lari dari kenyataan yang dihadapi, berarti keluarga demikian tergolong masuk kriteria keluarga kudus.

Yosef dan Maria seharusnya menjadi idola keluarga kudus zaman sekarang. Tentu saja perkembangan zaman tidak sama dengan dahulu kala. Tetapi nilai-nilai kehidupan seperti dikatakan yaitu sikap baik, lurus hati, dan keharmonisan keluarga harus bisa ditampakkan dan bisa dirasakan oleh sesama atau keluarga katolik lainnya.

Yosef – Maria – Yesus adalah tokoh idola zaman dulu dan sekarang. Ketiga tokoh itu menghidupkan nilai-nilai saling mendukung dan menunjang kehidupan dengan selalu menghadirkan Tuhan dalam perjalanan keluarga mereka. Sikap saling menghormati, menghargai, bertanggungjawab tetap tinggal dalam keluarga kudus tersebut yang memberikan kebahagiaan sejati kendati dalam tantangan dan rintangan.

Masalahnya sekarang, adakah keluarga kudus yang diorbitkan oleh gereja katolik, sekalipun setiap tahun menampilkan model keluarga kudus Yosef-Maria-Yesus? Lewat oase ini, umat digugah dan diajak kembali melihat diri dalam keluarga kita masing-masing. Seperti ungkapan umum yang mengatakan bahwa keluarga katolik semua dipanggil, tetapi hendaknya kita berpikir adakah yang terpilih? Kita berharap akan ada dan kelak tumbuh dalam iman hidup kekatolikan kita.

* Dianjurkan setelah wawasan Keluarga Kudus ini dibaca, satu keluarga diajak bersama membaca dan mendengarkan teks Kitab Suci dari bacaan Matius Bab 2: ayat 13 sampai 15, ditambah ayat 19 sampai 23. Mudah-mudahan andalah keluarga kudus yang diharapkan itu! (ELINUS WARUWU).

READ MORE - Keluarga Kudus Yosef Maria dan Yesus
Author: Anonim
•Selasa, Februari 03, 2009

“Warta Keuskupan Sibolga sangat penting, selain sarana komunikasi antar Paroki juga media ini menjadi alat penyadaran umat…”

Demikian pernyataan Bapa Uskup Keuskupan Sibolga Mgr.Dr. Ludovicus Simanullang, OFM Cap hari Jum’at 16 Januari 2009 saat rapat perdana Tim Redaksi Warta Keuskupan yang dihadiri oleh 8 orang perwakilan Tim Liputan Warta Keuskupan khusus Daerah Tapanuli, di Santu Kristoporus Kota Sibolga beberapa waktu yang lalu. Menurut Bapa Uskup, Warta Keuskupan sangat penting dan merupakan sarana yang baik untuk berkomunikasi, baik antar Paroki maupun antar para Pastor dan umat se-Keuskupan Sibolga. Komunikasi sangat penting pada zaman modern ini sebab tanpa ada komunikasi, sarana mewartakan iman tidak akan berjalan. Karena itu, Warta Keuskupan salah satu media komunikasi antar umat sudah selayaknya berbenah diri dan dijadikan sarana untuk penyampaian nilai-nilai Injili Kristiani.

Lebih jauh Bapa Uskup mengatakan, pentingnya informasi melalui Warta Keuskupan karena setiap goresan pasti berhadapan dengan manusia beriman. Dan nilai-nilai spritualitas dapat diwartakan melalui Warta Keuskupan dengan jumlah tak terbatas. Bapa Uskup juga mengatakan bahwa banyak hal yang perlu dilihat untuk mengisi Warta Keuskupan, seperti peristiwa yang terjadi di setiap paroki, adanya kegiatan/ gerakan yang ditampilkan sehingga terjalin adanya perubahan, dan pendidikan yang menggugah. “Nah, kalau nilai-nilai kehidupan dihidupkan (baca: Living Values) dan itu diceritakan terus menerus, maka pada akhirnya akan berdampak positif dalam kehidupan, yaitu mengurangi hal-hal negatif seperti kejahatan.” Jelas Bapa Uskup. Ini berarti damai melawan perang “kejahatan”, dengan memakai prinsip di mana Allah dihojat di situ kita memuji Allah.

Kendala dan Tantangan

Pemimpin Redaksi/ Penanggungjawab Warta Keuskupan, Pastor Paulus Posma Manalu Pr pada kesempatan itu mengutarakan dua kendala dan tantangan bagi Warta Keuskupan Sibolga. Pertama, masih sedikit orang yang ambil bagian, baik dari peliputan maupun info berita yang masih kurang atau jarang datangnya dari Paroki. Hal kedua, jelas Pastor Posma yaitu kendala mendistribusikan Warta Keuskupan Sibolga itu sendiri.

Menanggapi kendala dan tantangan ini, Bosco Manihuruk dari Paroki Pangaribuan mengusulkan agar setiap edisi diberi kolom khusus Berita Paroki. Dan katanya, “Saya kira perlu dihunjuk orang yang bertanggungjawab oleh Pastor Paroki agar ditugaskan orang-orang muda yang berbakat untuk mengatasi kendala dan tugas itu, bila perlu Surat Tugas dilengkapi secara jelas. Atau oleh Warta Keuskupan memberikan Surat Tugas dengan pemberitahuan kepada Pastor Paroki secara resmi.”

Melihat perkembangan Warta Keuskupan, harus diakui sampai saat ini belum ada Kantor Khusus untuk Warta Keuskupan. Dan rencana hal ini akan dipikirkan untuk diupayakan pada masa yang akan datang. Tim Anggota Redaksi Warta Keuskupan yang mengikuti pertemuan pada kesempatan itu, mengusulkan dan menyepakati beberapa kolom tetap Warta Keuskupan antara lain Meja Redaksi, Sapaan Gembala, Sajian Utama, Sajian Khusus 50 Tahun Prefektur Apostolik Keuskupan Sibolga, Warta Paroki, Ruang Komisi, Varia, Oase dan Karikatur.

Kita berharap mudah-mudahan dengan rapat Dewan Redaksi dan arahan Bapa Uskup, Warta Keuskupan Sibolga semakin tampil lebih baik dan mampu memberikan wawasan kepada segenap umat di Keuskupan Sibolga. (Elinus Waruwu – Tapanuli/ Sibolga).

PENYADARAN UMAT

Mgr. Dr. Ludovicus Simanullang, OFM Cap, Uskup Keuskupan Sibolga, berbicara di hadapan 8 orang Tim Anggota Redaksi Warta Keuskupan Sibolga (16/1).

Foto:Elinus Waruwu/ Warta Keuskupan).

BAPA USKUP

Usai Rapat Dewan Redaksi Warta Keuskupan Sibolga – Daerah Tapanuli, Bapa Uskup berfoto bersama.

Foto:Elinus Waruwu/ Warta Keuskupan).

READ MORE - Warta Keuskupan Alat Penyadaran Umat
Author: Anonim
•Senin, Februari 02, 2009

Tradisi yang baik harus diteruskan, dan itulah yang terlihat hari Kamis 8 Januari 2009 di rumah Kepala Dinas Pendidikan Kota Sibolga. Kegiatan itu sering disebut Open House, dan kali ini banyak yang hadir seperti Staf Dinas Pendidikan, seluruh Kepala Sekolah, dan anggota Dharma Wanita. Atas nama keluarga, Ibu Kadis (demikian sebutan anggota Dharma Wanita) lewat kesempatan itu, menyampaikan terima kasih atas kehadiran seluruh para undangan, secara khusus kepada Ibu-ibu Dharma Wanita. Ibu itu berharap, semoga pada hari yang akan datang, melalui karya-karya kita dapat meningkatkan kerjasama di bidang pendidikan baik di sekolah maupun di dalam keluarga kita masing-masing.

Sementera itu, H. Agus Salim Harahap, MM selaku Ketua Dewan Pendidikan yang hadir pada acara open house tersebut mengatakan, acara Open House seperti ini merupakan kebiasaan dalam menyambut Tahun Baru, oleh karena itu kita harus tetap menjalin komunikasi antar umat bergama, biar berbeda agama tetapi kita tetap menjalin silahturahmi agar kerjasama di bidang pendidikan itu lebih baik pada masa yang akan datang.

Pada open house itu juga, terlihat turut menyampaikan kata-kata sambutan mewakili Pengawas, mewakili Kepala Sekolah (Pak Yazid), dan mewakili PGRI (Pak Siregar). Dan kata-kata sambutan kebanyakan mengucapkan terima kasih, dan mohon maaf satu sama lain. Ini berarti, bila satu sama lain saling memaafkan, maka diharapkan kerjasama yang baik terjalin lebih baik untuk tahun baru 2009. Selamat Tahun Baru ! (Elinus Waruwu/Cerdas).

Tampak foto sebagian para undangan di dalam rumah Pak Kadis, saat Open House, 8 Januari 2009.

(Foto: Elinus Waruwu/ Cerdas).

READ MORE - Open House Kadis Pendidikan Sibolga
Author: Anonim
•Kamis, Oktober 23, 2008






READ MORE - Ikone
Author: Anonim
•Rabu, Agustus 13, 2008
Nama baik sekolah SD Swasta RK No.4 Sibolga kembali harum lagi. Pada perlombaan Paduan Suara Tingkat SD/MI se-Kota Sibolga yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Sibolga, 13 Agustus 2008 di lapangan Simaremare Sibolga, SD yang satu ini mengukuhkan diri sebagai Pemenang Juara I. Dari 60 sekolah tingkat SD/MI yang ada di Kota Sibolga, tidaklah berlebihan SD yang berstatus swasta ini menduduki peringkat paling atas. Dan ini meruapakan kebanggan pihak sekolah. Kepala Sekolah Sr. Elisyeba Karokaro, S.Pd. yang baru memimpin sekolah SD Swasta RK No.4 Sibolga sejak Juli 2008 merasa bangga atas prestasi yang telah diraih. Luapan kegembiraan itu juga terungkap oleh Ibu Marta Marbun, S.Pd. selaku guru pembimbing yang telah berusaha melatih serius peserta didik selama 2 bulan saja. Lagu mars perlombaan utama berjudul Sibolga Nauli, dan lagu pilihan Bagimu Negeri membawa kebahagiaan bagi segenap warga sekolah itu.
Ester Elinawati Waruwu siswi yang dipercaya pihak sekolah menjadi dirigen pada Lomba Paduan Suara 2008, dan peserta didik yang masih duduk di bangku kelas IV tahun pelajaran 2008/2009 terlihat sangat gembira telah membawa nama baik sekolah mereka. Peserta Paduan suara yang kebanyakan dari peserta didik kelas VI itu begitu diumumkan kejuaraan setelah perlombaan, mereka langsung meloncat-loncat kegirangan. Betapa tidak, karena selama ini banyak waktu belajar digunakan untuk latihan demi meraih prestasi itu.  Sebelum meraih yang terbaik, sekitar jam 09.00 wib pagi, usai latihan peserta didik itu diminta oleh guru pembimbingnya untuk pulang  makan ke rumah dengan catatan sudah harus sampai ke sekolah atau kembali sebelum jam 12.00 wib. Keseriusan mereka latihan akhirnya membuahkan hasil yang terbaik, sekalipun di antara teman-teman ada yang mengakui belum sempat makan di rumah lagi, ini akibat pengaruh pikiran dan hati sudah melayang-layang seperti di awan-awan, mereka ingin juara dan juara. Ester sendiri yang ditemani orangtuanya mengikuti perlombaan itu terpaksa terburu-buru mengejar ke sekolah karena anak itu belum sempat makan. Di sela-sela latihan terakhir, Ibu dari peserta didik itu menarik anaknya ke sudut kantin dari kerumunan teman-teman lalu menyuapi dengan tergesa-gesa.
Sr. Elisyeba selaku Kepala Sekolah memberangkatkan kelompok Paduan Suara mewakili sekolah dengan berdoa bersama di halaman sekolah agar mendapat pertolongan dan rahmat Tuhan. Memang sudah terlihat bagus pada saat latihan terakhir, sehingga banyak guru-guru di SD Swasta RK No.4 Sibolga memprediksi akan meraih yang terbaik. Bahkan Wali Kelas VI ketika memberi pengarahan kepada kelompok Paduan Suara itu memiliki target minimal yaitu Juara II. Ternyata dari target itu benar, bahkan tidak hanya posisi kedua dapat direbut, melainkan langsung posisi terbaik.
Tahun 2008 ini SD Katolik yang berlebel nomor 4 Sibolga itu, banyak memperoleh keberuntungan yang penuh perjuangan. Pada lomba Kreatifitas Cipta dan Baca Puisi beberapa waktu yang lalu atas nama Sartika Wahyuni Samosir (sekarang kelas VI) meraih Juara I tingkat Kota Sibolga dan Juara Harapan III tingkat Provinsi. Sementara itu, di Vokal Solo juga meraih Juara II di tingkat Kota Sibolga, dan Juara III lomba Olimpiade MIPA khususnya bidang studi IPA masing-masing atas nama peserta didik yang sama mewakili sekolah yaitu Sartika Wahyuni Samosir.
Bila mengenang masa lalu lagi, SD Swasta RK No.4 Sibolga itu telah didahului dengan prestasi guru-guru. Tahun 2003 Guru SD Swasta RK No.4 Sibolga itu atas nama Lemeri Sinaga di Tingkat Provinsi meraih Juara III pada Diklat Sistem Evaluasi Terstandar. Dan Elinus Waruwu meraih Juara I pada Diklat Guru SD/SDLB Pendidikan Budi Pekerti se-Sumatera Utara yang diselenggarakan dari tanggal 14 – 23 September 2003 di LPMP Medan. Dan hasil Diklat Budi Pekerti itu ketika dipidatokan kembali pada lomba Pidato Antar OKP dan SMU dalam rangka Hari Sumpah Pemuda ke-75 tahun 2003, di hadapan generasi muda se-Kota Sibolga dengan hasil yang sama yaitu meraih Juara I. Selanjutnya tahun 2005 Guru SD Swasta RK 4 Sibolga atas nama Baya Sitanggang, S.Pd. meraih Juara I Guru Berprestasi se-Kota Sibolga. Kemudian, hanya berselang dua tahun yaitu tahun 2007 kembali SD Swasta RK No.4 Sibolga meraih Juara I Guru Berprestasi se-Kota Sibolga atas nama Elinus Waruwu.
Tidaklah terlalu mengherankan prestasi-prestasi itu semua mengantarkan SD Swasta RK No.4 Sibolga mendapat pengakuan oleh Badan Akreditasi Sekolah Nasional dari Pemerintah Kota melalui Dinas Pendidikan Kota Sibolga dengan Nilai Akreditasi A (Amat Baik). Sertifikat Akreditasi Sekolah yang diterima terakhir oleh pihak sekolah berlaku untuk jangka waktu 4 (empat) tahun terhitung sejak 22 Nopember 2006 yang lalu. Keberhasilan dalam meraih prestasi di bidang pendidikan, sejak berdirinya SD Swasta RK No.4 Sibolga tahun 1989 yaitu telah banyak membawa nama baik sekolah, Yayasan Santa Maria Berbelaskasih, dan Kota Sibolga di Tingkat Provinsi. Pertanyaan sekarang, kapan nama Kota Sibolga akan berbicara di Tingkat Nasional melalui SD Swasta RK No.4 Sibolga? Sepertinya masih dalam perjuangan. Tetapi Kepala Sekolah dan Guru-guru SD yang satu ini punya tekad kebersamaan akan meraih Juara di Tingkat Nasional untuk masa-masa yang akan datang. Semoga ! * (ELINUS WARUWU).
READ MORE - SD Swasta RK No. 4 Sibolga Meraih Juara I Lomba Paduan Suara 2008
Author: Anonim
•Minggu, April 27, 2008
“Perayaan Liturgi dapat diibaratkan seperti sebuah batterai yang mengandung energi dan dapat menjalankan alat-alat elektronik apa saja. Ketika energi batterai itu lemah kita perlu mencas kembali sehingga tetap masih bisa batterai itu difungsikan… Perayaan liturgi demikian pula, harus dirasakan sebagai sumber kekuatan-puncak perayaan hidup lahir batin…”

Pernyataan itu diutarakan oleh Pastor Bernardus Telaumbanua, OFM Cap di ruang pertemuan Asmika jalan Mgr. Albertus SJ, 23 Sibolga. Di hadapan 43 orang Pengurus Gereja (Petugas Awam) Paroki Katedral St. Theresia dan St. Yosef Keuskupan Sibolga yang mengikuti kursus liturgi selama dua hari, 26-27 April 2008. Pastor Bernard menjelaskan banyak hal dengan berbagai pembaruan yang menjadi fokus pertemuan Kursus Liturgi, bahwa perayaan liturgi menjadi sumber daya ilahi yang memberikan kekuatan (batterai) dalam jiwa orang beriman. Melalui perayaan liturgi, orang beriman (umat percaya) tersebut senantiasa siap sedia menjalani hidup harian dengan segala suka duka dan dapat menghasilkan buah-buah kebaikan.

Menurut Pastor Bernard perayaan liturgi bukanlah acara yang abstrak melainkan konkrit atas kehidupan. Liturgi menjadi sumber kekuatan dalam menghayati iman yang hidup. Pengalaman manusia diangkat sebagai kesatuan dengan Allah melalui perayaan liturgi itu sendiri, baik pengalaman suka maupun duka. Artinya pengalaman manusiawi kita menjadi dasar liturgi dan sarana untuk beribadat kepada Allah, singkatnya liturgi itu ditempatkan sebagai puncak perayaan hidup kita. Semboyan teologis “lex credendi, lex orandi, dan lex vivendi” dalam hal ini perlu diterapkan. Lex credendi maksudnya : bagaimana beriman dan menentukan cara kita beribadat dalam menghidupkan iman itu sendiri. “Kalau pelaksanaan perayaan liturgi di suatu Paroki kurang diperhatikan, maka kegersangan akan tumbuh dalam situasi Paroki itu, umat mulai malas ke Gereja, tidak merasakan liturgi itu sebagai puncak perayaan hidup… dan ini menjadi tantangan.” tegas Pastor Bernard.

Kelihatan sekali Kursus Liturgi ini direspon amat antusias oleh para Pengurus/ peserta kursus. Ketika diberi kesempatan bertanya, maka terungkap segala macam problem pertanyaan-pertanyaan yang tiada habis-habisnya, dimulai dari penghayatan soal mengikuti perayaan liturgi, adanya umat datang terlambat lalu ikut menyambut komuni, adanya umat berlutut setengah-setengah, adanya komuni orang sakit karena lebih lalu dibagi kepada umat yang ikut di situ, adanya komuni yang disimpan di tabernakel kemudian disajikan kepada umat, dan berbagai persoalan lainnya dalam memakai fasilitas altar bila hanya Ibadat Sabda yang dipimpin oleh Pengurus/ Petugas Awam.
Pertanyaan sengit itu semua ditampung dan dijawab dengan gaya liturgi sebagaimana telah ditekuni oleh Pastor Bernard, narasumber kali ini. Menjadi menarik, bahwa para Pengurus itu menuntut agar semua Imam harus mengikuti Kursus Liturgi sehingga pemahaman itu tidak sepihak. Banyak hal praktis harus diketahui oleh Imam secara seragam soal penerapan perayaan liturgi. Salah satu kejadian misalnya soal membaca bab-ayat menurut liturgi hal itu tidak perlu, fokus liturgi di sini lebih pada penekanan penghayatan menyimak-mendengar sapaan Tuhan melalui Sabda yang dibacakan, bukan pada bab atau ayat-ayat itu. Dalam hal kecil ini saja, perdebatan panjang lebar mulai muncul karena selama ini hal itu dirasakan umat sesuai kebutuhan. Bapak Marsel Mendrofa berkomentar, “Itu kan penting dibacakan Pastor, agar anak-anak bisa mencatat dalam buku Bukti Beribadat…lagi pula ada umat yang membawa Alkitab nah dengan itu bisa tahu di bagian mana bacaan itu tertera…” Jawaban praktis Pastor Bernard, “Ok saya bisa memahami kalian, tetapi seharusnya anak-anak mendengar dan menghayati semua bunyi Sabda Tuhan ketika dibaca, tak perlu menulis saat itu karena mengganggu… jadinya hati terfokus di buku Bukti Ibadat. Soal adanya umat membawa Alkitab seperti kita lihat dengan umat gereja tetangga, kita juga tidak larang. Tetapi hendaknya diingat, ada efek bila Pembaca salah di depan maka umat yang mengikuti bacaan tersebut mau tidak mau terpancing untuk mau menyalahkan, bisa jadi mulutnya bunyi ketika mendengar salah baca dan sebagainya…Nah ini perlu dihindari. Kita harus betul-betul tenang-hening-konsentrasi agar sapaan Tuhan itu mengena dalam hati kita.”

Lebih jauh Pastor Bernard mengemukakan beberapa faktor yang mendukung partisipasi aktif perayaan liturgi, yaitu melakukan liturgi secara benar sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh Gereja. Bentuk partisipasi misalnya, memilih lagu yang tepat/ sesuai masa liturgi dan tema bacaan pada hari yang bersangkutan. Kemudian, perlu persiapan diri untuk melakukan tugas dalam ikut berliturgi. Dalam hal ini Pastor Bernard berpesan, “Petugas bacaan I, II, Pemilih lagu, Pemazmur, Pembersih gereja, Penulis pengumuman, Pengkhotbah dan sebagainya, seharusnya mempersiapkan diri jauh hari sebelum perayaan dimulai, dan bukan pada menit-menit menjelang dimulainya upacara.”
Selain persiapan diri, perlu ketika mengikuti perayaan liturgi sikap hadir secara utuh. Maksudnya menghadirkan jiwa dan raga penuh persiapan secara utuh baik lahir maupun batin. “Yang berdoa dalam liturgi adalah diri kita dengan tubuh dan jiwanya, maka kalau bernyanyi ya bernyanyilah dengan sepenuh hati, berdoa sepenuh jiwa, dan segenap tenaga. Kesemuanya diarahkan pada kehadiran yang utuh. Sering terjadi, umat berdoa dengan bibirnya saja tetapi hati dan pikirannya melayang entah ke mana-mana…” tegas Pastor Bernad yang membuat Peserta Kursus tertawa.
Banyak hal lain yang diutarakan dalam kursus liturgi itu. Menyangkut hal-hal praktis dalam bersikap, seperti sikap saleh (berjalan-berdiri-membungkuk-memberi hormat-berlutut-duduk) dalam perayaan Ekaristi. Masih adanya Imam atau Petugas Awam yang membaca bab, ayat, kemudian mengakhiri Injil/ Bacaan dengan bernyanyi Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya… Lalu setelah dijawab, Imam/Petugas Awam masih meneruskan Demikianlah Sabda Tuhan… Nah…ini adalah kesalahan-kesalahan yang perlu pemahaman, baik oleh Pastor/ Imam maupun umat kita.

Menyinggung soal Perayaan Ibadat Sabda, dalam hal ini sikap merayakan Tata Perayaan Ibadat Sabda tanpa Imam di stasi-satasi yang dipimpin oleh awam, Petugas Awam (sebutan : Lektor/ Voorhanger) tidak boleh memakai altar termasuk duduk di belakang altar (Panti Imam), tetapi didesain sedemikian rupa/ duduk menyamping dan tidak persis berhadapan dengan umat. Pastor Bernard juga menjelaskan pemakaian mimbar utama, dan tempat-tempat duduk para petugas lainnya, termasuk apa yang boleh dan tidak diperkenankan untuk dilakukan oleh Petugas Awam dalam kegiatan doa lingkungan. Selamat berliturgi ! * (ELINUS WARUWU)
READ MORE - Liturgi Sumber dan Puncak Perazaan Hidup Gereja
Author: Anonim
•Selasa, April 22, 2008
Pelaksanaan lomba bercerita tingkat SD se-Kota Sibolga berlangsung dengan baik di lapangan Simaremare. Perlombaan berlangsung hari Selasa 25 Maret 2008 dalam rangka memeriahkan hari jadi Sibolga ke-308. Ibu Hj. Subiarti yang membuka secara resmi perlombaan itu, menegaskan dasar pelaksanaan lomba adalah Keputusan Walikota dan program sekretaris daerah kota Sibolga hasil kerjasama Kepala Kantor Perpustakaan sebagai pelaksana.

Lebih jauh dalam sambutan tanpa teks, Ibu Hj. Subiarti mengemukakan bahwa tujuan pelaksanaaan lomba yaitu untuk mengembangkan kebiasaan membaca di tingkat Sekolah Dasar. Kata beliau, “Perlombaan ini tetap dilaksanakan sebagai kegiatan rutin setiap tahun, oleh karenanya kami mengharapkan anak-anak dapat tumbuh dan berkembang untuk peduli terhadap lingkungan hidup. Saya mengajak anak-anak agar meningkatkan minat baca dan aktif berpatisipasi dalam menjaga lingkungan baik pekarangan di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Bila lingkungan hidup kita sudah aman, maka sudah pasti mewujudkan Kota Sibolga yang berwawasan lingkungan .”

Masukan untuk Panitia Lomba

Pelaksanaan lomba terlihat secara umum berlangsung baik, hanya sayang ketentuan waktu yang hanya 5 menit itu membatasi kreatifitas anak. Sepintas pelaksanaan lomba terlihat terburu-buru seperti dikejar-kejar oleh waktu yang lima menit itu. Seperti penampilan Sartika Wahyuni Samosir siswi kelas V SD Swasta RK No.4 Sibolga yang bercerita dongeng Kiki Pengganggu Tanaman. Penyapaan teman-teman, Dewan Juri, Bapak Guru setengah menit. Ringkasan cerita 4 menit dan penutup 1 menit. Dari pengamatan yang dilakukan dengan alat stopwatch, Panitia sudah mengehentikan anak itu pada 5 menit 24 detik 21 sekon. Sementara terlihat Ibu Hj. Subiarti sebagai Dewan Juri melihat Panitia heran, tetapi Panitia itu semakin besar suara agar anak itu menghentikan kata-kata akhirnya. Ini sebenarnya kesalahan Panitia, anak itu sangat bersemangat tetapi dengan penghentian itu membuat suasana tidak enak bagi anak dan guru pendamping. Dengan kata lain, tujuan dan sasaran Panitia Lomba agar dapat menumbuhkan minat dimatikan oleh Panitia 5 menit.

Dari pantauan Cerdas, terlihat menceritakan dongeng dengan memakai waktu 5 menit tidak masuk akal atau kurang logis. Karena bercerita itu sebenarnya minimal terbagi 3 bagian, yaitu pembukaan/pengantar minimal 1 menit, isi cerita minimal 5 menit, dan penutup minmal 1 menit. Ini sudah singkat sekali. Jadi, kalau dihitung paling sedikit waktu harus diberikan oleh Panitia 7 menit. Ini belum lagi diperhitungkan waktu tak terduga, yaitu waktu molor karena anak semangat bercerita, bisa saja dia lupa bahwa waktu sudah habis. Kalau kita lihat, pelaksanaan lomba dimulai pukul 09.00 Wib, ternyata acara pembukaan saja baru dimulai pukul 09.25 Wib. Nah, begitulah terjadi ketidaktepatan waktu akibat beberapa orang anak, pada saat hari H (Lomba) ada yang baru mendaftar, sehingga keterlambatan molor waktu itupun tidak bisa dielakkan.

Untuk masa yang akan datang, kita semua berharap kepada Panitia, agar lewat surat edaran atau teknik meeting dilaksanakan. Termasuk petunjuk-petunjuk pemakaian waktu, sangat perlu disosialisasikan kepada peserta, dan sejauh mana kebebasan peserta dalam menentukan cerita yang akan ditampilkan. Sukses bagi Panitia, semoga lebih baik lagi pada saat-saat mendatang ! (Peliput : ELINUS WARUWU).

READ MORE - Lomba Bercerita Tingkat SD 2008 Berlangsung Baik
Author: Anonim
•Minggu, April 20, 2008
Baru-baru ini, 18 April 2008 sebanyak 6 orang siswi SMA Katolik Sibolga ditugaskan oleh gurunya dari sekolah. Keenam siswi ini mempraktekan bagaimana menjadi seorang kuli tinta alias wartawan. Dan tidak tanggung-tanggung, mereka membawa satu tape recorder untuk merekam jawaban narasumber. Keenam kuli tinta ini memilih Elinus Waruwu (penulis berita liputan) sebagai narasumber, yang tinggal di jalan Barus Km 2,4 Nomor 153 Desa Mela I Kota Sibolga. Sekitar pukul 12.30 Wib mereka ini sudah menunggu di rumah dan menantikan narasumber datang dari sekolah.

Pada mulanya, mereka tampil agak malu-malu, dan setelah satu orang memberitahu tujuan kedatangan dan bertanya apakah boleh mewawancarai, akhirnya kelihatan wajah cerah karena ada lampu hijau tanda boleh. Langkah menarik, bahwa mereka memperkenalkan diri satu per satu, kemudian sudah menyiapkan tape recorder mini, dan masing-masing telah menyiapkan daftar pertanyaan dan catatan jawaban-jawaban narasumber. Yah, kelihatan mereka sangat serius, dan sepertinya berbakat menjadi kuli tinta.
Banyak pertanyaan yang mereka lontarkan, antara lain bagaimana cara-cara belajar yang baik ? Apa yang harus dilakukan oleh para pelajar agar bisa berhasil ? Apa saja sikap guru yang baik sekarang ini ? Apa yang mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar ? dan lain sebagainya.

Bagi narasumber sendiri, tugas seperti ini perlu diberikan sebagai awal menjadi penulis pemula. Bila latihan mewawancarai seperti ini dilakukan secara rutin, dan kemudian dituangkan dalam tulisan entah itu laporan, kemungkinan besar siswa-i kita akan berkembang dan pelan-pelan menjadi penulis yang handal di kemudian hari. Bagus dan selamat ! Bila ada lagi yang mencoba untuk menulis, usahakan gunakan rumus 5 W + 1 H, kemudian ikuti jawaban-jawaban Narasumber, dan mana konsep Narasumber yang tidak mengerti atau perlu ditanyakan, itulah yang kita kejar dengan pertanyaan. Singkatnya, perlu pertanyaan panduan yang sudah disiapakn, dan lebih penting lagi pertanyaan memburu informasi ketika sedang wawancara.

Senang bertemu dengan penulis pemula, kita semua sama-sama belajar. Long Life Education. Thank you ! See you again. Liputan : Elinus Waruwu.(Erw).

READ MORE - Enam Siswi Berbakat Menjadi Kuli Tinta
Author: Anonim
•Minggu, April 20, 2008
“Saya mohon kepada kita semua khususnya Dewan Juri, agar lebih teliti dan transparan. Kita mengharapkan juara I lomba nanti dapat membawa nama baik Kota Sibolga di tingkat Provinsi. Untuk itu, mohon bertanggungjawab dan jangan berjawab tangggung.”

Pernyataan itu diutarakan oleh Drs. H. Nurdiswar B. Jambak selaku Kasubdikjar Dinas Pendidikan Kota Sibolga, pada 18 April 2008 ketika membuka secara resmi acara perlombaan, sekitar pukul 14.00 wib. Beliau menyampaikan arahan-arahan pada pelaksanaan lomba kretifitas menulis dan membaca puisi bagi siswa-i tingkat SD se-Kota Sibolga tahun 2008. Menurut Pak Jambak ada sekitar 60 orang siswa-i tingkat sekolah dasar (SD) sederajat turut ambil bagian dalam lomba itu, dan diharpkan terpilih satu yang terbaik untuk dibina dan kemudian menjadi peserta lomba di tingkat Provinsi nanti.

Untuk itu penilaian harus dilakukan dengan baik, kita semua mengharapkan lebih baik dan bagus. Dan kita mengucapkan selamat nanti kepada para Juara, setelah selesai perlombaan itu, agar ke depan yang menjadi Juara I Kota Sibolga menuju perlombaan ke Tingkat I Provinsi sampai ke Tingkat Nasional. * Elinus Waruwu.(Erw)

READ MORE - Jangan Berjawab Tanggung