Author: Anonim
•Rabu, Februari 04, 2009

Ketika baru-baru ini Sintua Pengurus Gereja dari salah satu stasi di daerah Tapanuli didatangi tamu yaitu tiga orang Naposo (baca: Muda-mudi) bernama Naburju, Natigor, dan Sinauli. Kepada mereka dilontarkan satu pertanyaan, “Apakah masih ada keluarga kudus pada zaman modern sekarang ini?” Sejenak ketiga orang Naposo tersebut terkejut dan mulai berpikir. Barangkali melayang pandangan mereka tentang keluarganya masing-masing. Dan pertanyaan itu diulang beberapa kali oleh Sintua atau Penanya. Ternyata mereka sulit menjawab. Ketiga orang Naposo seperti bingung dan tidak menemukan jawaban.

Barangkali ini juga menjadi permenungan bagi kita umat Katolik. Dari nama-nama Naposo tadi, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk memberikan jawaban tentang kriteria Keluarga Kudus tersebut. Naburju (bhs Batak, berarti yang baik – bhs Nias Si sokhi), Natigor (bhs Batak, berarti yang lurus = bhs Nias Satulo), dan Sinauli (bhs Batak, berarti yang indah/ harmonis – bhs Nias Sibaga). Jadi, kalau dipikirkan sebuah keluarga dikatakan kudus bila ketiga sikap tadi yaitu baik – lurus – harmonis, terdapat dalam keluarga tersebut. Ketiga nilai kehidupan tersebut harus tampak dan dihidupkan dalam keluarga kudus.

Sebenarnya Gereja Katolik sudah lebih maju dibanding pandangan tetangga lainnya tentang keluarga kudus. Sejak dulu Perayaan Pesta Keluarga Kudus tetap tak terlewatkan di setiap tahun liturgi gereja kita. Sayangnya, tokoh-tokoh idola Keluarga Kudus tersebut seperti sudah kadaluwarsa bagi anak-anak kita. Kenapa ? Jawabnya karena model Keluarga Kudus yaitu Yosef-Maria-Yesus tidak lagi dihidupkan dalam keluarga katolik. Seharusnya untuk mencapai model Keluarga Kudus, orang katolik sudah seharusnya meniru atau meneladani keluarga dari Nasaret itu. Setiap keluarga diharapkan menghidupkan nilai-nilai si Burju, si Tigor, dan si Nauli tersebut sehingga model keluarga kudus itu terdapat dalam keluarga kita sebagai umat katolik.

Maka belum terlambat, bila kita kembali melihat Keluarga Kudus dari Nasaret itu. Yosef adalah pria sederhana yang rendah hati, dialah yang pantas mendapat julukan si Burju. Dalam tantangan yang dihadapi, dia tampil sebagai pelindung bagi Maria dan Yesus. Apakah sebagai seorang ayah dalam keluarga kita masing-masing telah mempunyai sikap seperti Yosef, di mana mampu sabar terhadap problem keluarga kita? Bila respon kita ya, berarti keluarga anda sudah tergolong masuk kategori keluarga kudus katolik zaman modern/ sekarang.

Kita lihat sikap Maria (Natigor) ketika menjawab malaikat Tuhan, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu…” Dari tutur kata Maria yang menghidupkan sikap pasrah itu, kepada kaum Ibu-ibu Katolik kita bertanya, “Adakah sikap kepasrahan diri secara total itu dihidupkan dalam menghadapi rintangan seperti sikap-sikap suami yang menjengkelkan? Atau kaum Ibu katolik melarikan diri dan menghindar dari penyelenggaraan ilahi?” Bila seorang Ibu berani menjawab yah…saya telah pasrah kepada Tuhan dan tidak lari dari kenyataan yang dihadapi, berarti keluarga demikian tergolong masuk kriteria keluarga kudus.

Yosef dan Maria seharusnya menjadi idola keluarga kudus zaman sekarang. Tentu saja perkembangan zaman tidak sama dengan dahulu kala. Tetapi nilai-nilai kehidupan seperti dikatakan yaitu sikap baik, lurus hati, dan keharmonisan keluarga harus bisa ditampakkan dan bisa dirasakan oleh sesama atau keluarga katolik lainnya.

Yosef – Maria – Yesus adalah tokoh idola zaman dulu dan sekarang. Ketiga tokoh itu menghidupkan nilai-nilai saling mendukung dan menunjang kehidupan dengan selalu menghadirkan Tuhan dalam perjalanan keluarga mereka. Sikap saling menghormati, menghargai, bertanggungjawab tetap tinggal dalam keluarga kudus tersebut yang memberikan kebahagiaan sejati kendati dalam tantangan dan rintangan.

Masalahnya sekarang, adakah keluarga kudus yang diorbitkan oleh gereja katolik, sekalipun setiap tahun menampilkan model keluarga kudus Yosef-Maria-Yesus? Lewat oase ini, umat digugah dan diajak kembali melihat diri dalam keluarga kita masing-masing. Seperti ungkapan umum yang mengatakan bahwa keluarga katolik semua dipanggil, tetapi hendaknya kita berpikir adakah yang terpilih? Kita berharap akan ada dan kelak tumbuh dalam iman hidup kekatolikan kita.

* Dianjurkan setelah wawasan Keluarga Kudus ini dibaca, satu keluarga diajak bersama membaca dan mendengarkan teks Kitab Suci dari bacaan Matius Bab 2: ayat 13 sampai 15, ditambah ayat 19 sampai 23. Mudah-mudahan andalah keluarga kudus yang diharapkan itu! (ELINUS WARUWU).

READ MORE - Keluarga Kudus Yosef Maria dan Yesus
Author: Anonim
•Selasa, Februari 03, 2009

“Warta Keuskupan Sibolga sangat penting, selain sarana komunikasi antar Paroki juga media ini menjadi alat penyadaran umat…”

Demikian pernyataan Bapa Uskup Keuskupan Sibolga Mgr.Dr. Ludovicus Simanullang, OFM Cap hari Jum’at 16 Januari 2009 saat rapat perdana Tim Redaksi Warta Keuskupan yang dihadiri oleh 8 orang perwakilan Tim Liputan Warta Keuskupan khusus Daerah Tapanuli, di Santu Kristoporus Kota Sibolga beberapa waktu yang lalu. Menurut Bapa Uskup, Warta Keuskupan sangat penting dan merupakan sarana yang baik untuk berkomunikasi, baik antar Paroki maupun antar para Pastor dan umat se-Keuskupan Sibolga. Komunikasi sangat penting pada zaman modern ini sebab tanpa ada komunikasi, sarana mewartakan iman tidak akan berjalan. Karena itu, Warta Keuskupan salah satu media komunikasi antar umat sudah selayaknya berbenah diri dan dijadikan sarana untuk penyampaian nilai-nilai Injili Kristiani.

Lebih jauh Bapa Uskup mengatakan, pentingnya informasi melalui Warta Keuskupan karena setiap goresan pasti berhadapan dengan manusia beriman. Dan nilai-nilai spritualitas dapat diwartakan melalui Warta Keuskupan dengan jumlah tak terbatas. Bapa Uskup juga mengatakan bahwa banyak hal yang perlu dilihat untuk mengisi Warta Keuskupan, seperti peristiwa yang terjadi di setiap paroki, adanya kegiatan/ gerakan yang ditampilkan sehingga terjalin adanya perubahan, dan pendidikan yang menggugah. “Nah, kalau nilai-nilai kehidupan dihidupkan (baca: Living Values) dan itu diceritakan terus menerus, maka pada akhirnya akan berdampak positif dalam kehidupan, yaitu mengurangi hal-hal negatif seperti kejahatan.” Jelas Bapa Uskup. Ini berarti damai melawan perang “kejahatan”, dengan memakai prinsip di mana Allah dihojat di situ kita memuji Allah.

Kendala dan Tantangan

Pemimpin Redaksi/ Penanggungjawab Warta Keuskupan, Pastor Paulus Posma Manalu Pr pada kesempatan itu mengutarakan dua kendala dan tantangan bagi Warta Keuskupan Sibolga. Pertama, masih sedikit orang yang ambil bagian, baik dari peliputan maupun info berita yang masih kurang atau jarang datangnya dari Paroki. Hal kedua, jelas Pastor Posma yaitu kendala mendistribusikan Warta Keuskupan Sibolga itu sendiri.

Menanggapi kendala dan tantangan ini, Bosco Manihuruk dari Paroki Pangaribuan mengusulkan agar setiap edisi diberi kolom khusus Berita Paroki. Dan katanya, “Saya kira perlu dihunjuk orang yang bertanggungjawab oleh Pastor Paroki agar ditugaskan orang-orang muda yang berbakat untuk mengatasi kendala dan tugas itu, bila perlu Surat Tugas dilengkapi secara jelas. Atau oleh Warta Keuskupan memberikan Surat Tugas dengan pemberitahuan kepada Pastor Paroki secara resmi.”

Melihat perkembangan Warta Keuskupan, harus diakui sampai saat ini belum ada Kantor Khusus untuk Warta Keuskupan. Dan rencana hal ini akan dipikirkan untuk diupayakan pada masa yang akan datang. Tim Anggota Redaksi Warta Keuskupan yang mengikuti pertemuan pada kesempatan itu, mengusulkan dan menyepakati beberapa kolom tetap Warta Keuskupan antara lain Meja Redaksi, Sapaan Gembala, Sajian Utama, Sajian Khusus 50 Tahun Prefektur Apostolik Keuskupan Sibolga, Warta Paroki, Ruang Komisi, Varia, Oase dan Karikatur.

Kita berharap mudah-mudahan dengan rapat Dewan Redaksi dan arahan Bapa Uskup, Warta Keuskupan Sibolga semakin tampil lebih baik dan mampu memberikan wawasan kepada segenap umat di Keuskupan Sibolga. (Elinus Waruwu – Tapanuli/ Sibolga).

PENYADARAN UMAT

Mgr. Dr. Ludovicus Simanullang, OFM Cap, Uskup Keuskupan Sibolga, berbicara di hadapan 8 orang Tim Anggota Redaksi Warta Keuskupan Sibolga (16/1).

Foto:Elinus Waruwu/ Warta Keuskupan).

BAPA USKUP

Usai Rapat Dewan Redaksi Warta Keuskupan Sibolga – Daerah Tapanuli, Bapa Uskup berfoto bersama.

Foto:Elinus Waruwu/ Warta Keuskupan).

READ MORE - Warta Keuskupan Alat Penyadaran Umat
Author: Anonim
•Senin, Februari 02, 2009

Tradisi yang baik harus diteruskan, dan itulah yang terlihat hari Kamis 8 Januari 2009 di rumah Kepala Dinas Pendidikan Kota Sibolga. Kegiatan itu sering disebut Open House, dan kali ini banyak yang hadir seperti Staf Dinas Pendidikan, seluruh Kepala Sekolah, dan anggota Dharma Wanita. Atas nama keluarga, Ibu Kadis (demikian sebutan anggota Dharma Wanita) lewat kesempatan itu, menyampaikan terima kasih atas kehadiran seluruh para undangan, secara khusus kepada Ibu-ibu Dharma Wanita. Ibu itu berharap, semoga pada hari yang akan datang, melalui karya-karya kita dapat meningkatkan kerjasama di bidang pendidikan baik di sekolah maupun di dalam keluarga kita masing-masing.

Sementera itu, H. Agus Salim Harahap, MM selaku Ketua Dewan Pendidikan yang hadir pada acara open house tersebut mengatakan, acara Open House seperti ini merupakan kebiasaan dalam menyambut Tahun Baru, oleh karena itu kita harus tetap menjalin komunikasi antar umat bergama, biar berbeda agama tetapi kita tetap menjalin silahturahmi agar kerjasama di bidang pendidikan itu lebih baik pada masa yang akan datang.

Pada open house itu juga, terlihat turut menyampaikan kata-kata sambutan mewakili Pengawas, mewakili Kepala Sekolah (Pak Yazid), dan mewakili PGRI (Pak Siregar). Dan kata-kata sambutan kebanyakan mengucapkan terima kasih, dan mohon maaf satu sama lain. Ini berarti, bila satu sama lain saling memaafkan, maka diharapkan kerjasama yang baik terjalin lebih baik untuk tahun baru 2009. Selamat Tahun Baru ! (Elinus Waruwu/Cerdas).

Tampak foto sebagian para undangan di dalam rumah Pak Kadis, saat Open House, 8 Januari 2009.

(Foto: Elinus Waruwu/ Cerdas).

READ MORE - Open House Kadis Pendidikan Sibolga
Author: Anonim
•Kamis, Oktober 23, 2008






READ MORE - Ikone
Author: Anonim
•Rabu, Agustus 13, 2008
Nama baik sekolah SD Swasta RK No.4 Sibolga kembali harum lagi. Pada perlombaan Paduan Suara Tingkat SD/MI se-Kota Sibolga yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Sibolga, 13 Agustus 2008 di lapangan Simaremare Sibolga, SD yang satu ini mengukuhkan diri sebagai Pemenang Juara I. Dari 60 sekolah tingkat SD/MI yang ada di Kota Sibolga, tidaklah berlebihan SD yang berstatus swasta ini menduduki peringkat paling atas. Dan ini meruapakan kebanggan pihak sekolah. Kepala Sekolah Sr. Elisyeba Karokaro, S.Pd. yang baru memimpin sekolah SD Swasta RK No.4 Sibolga sejak Juli 2008 merasa bangga atas prestasi yang telah diraih. Luapan kegembiraan itu juga terungkap oleh Ibu Marta Marbun, S.Pd. selaku guru pembimbing yang telah berusaha melatih serius peserta didik selama 2 bulan saja. Lagu mars perlombaan utama berjudul Sibolga Nauli, dan lagu pilihan Bagimu Negeri membawa kebahagiaan bagi segenap warga sekolah itu.
Ester Elinawati Waruwu siswi yang dipercaya pihak sekolah menjadi dirigen pada Lomba Paduan Suara 2008, dan peserta didik yang masih duduk di bangku kelas IV tahun pelajaran 2008/2009 terlihat sangat gembira telah membawa nama baik sekolah mereka. Peserta Paduan suara yang kebanyakan dari peserta didik kelas VI itu begitu diumumkan kejuaraan setelah perlombaan, mereka langsung meloncat-loncat kegirangan. Betapa tidak, karena selama ini banyak waktu belajar digunakan untuk latihan demi meraih prestasi itu.  Sebelum meraih yang terbaik, sekitar jam 09.00 wib pagi, usai latihan peserta didik itu diminta oleh guru pembimbingnya untuk pulang  makan ke rumah dengan catatan sudah harus sampai ke sekolah atau kembali sebelum jam 12.00 wib. Keseriusan mereka latihan akhirnya membuahkan hasil yang terbaik, sekalipun di antara teman-teman ada yang mengakui belum sempat makan di rumah lagi, ini akibat pengaruh pikiran dan hati sudah melayang-layang seperti di awan-awan, mereka ingin juara dan juara. Ester sendiri yang ditemani orangtuanya mengikuti perlombaan itu terpaksa terburu-buru mengejar ke sekolah karena anak itu belum sempat makan. Di sela-sela latihan terakhir, Ibu dari peserta didik itu menarik anaknya ke sudut kantin dari kerumunan teman-teman lalu menyuapi dengan tergesa-gesa.
Sr. Elisyeba selaku Kepala Sekolah memberangkatkan kelompok Paduan Suara mewakili sekolah dengan berdoa bersama di halaman sekolah agar mendapat pertolongan dan rahmat Tuhan. Memang sudah terlihat bagus pada saat latihan terakhir, sehingga banyak guru-guru di SD Swasta RK No.4 Sibolga memprediksi akan meraih yang terbaik. Bahkan Wali Kelas VI ketika memberi pengarahan kepada kelompok Paduan Suara itu memiliki target minimal yaitu Juara II. Ternyata dari target itu benar, bahkan tidak hanya posisi kedua dapat direbut, melainkan langsung posisi terbaik.
Tahun 2008 ini SD Katolik yang berlebel nomor 4 Sibolga itu, banyak memperoleh keberuntungan yang penuh perjuangan. Pada lomba Kreatifitas Cipta dan Baca Puisi beberapa waktu yang lalu atas nama Sartika Wahyuni Samosir (sekarang kelas VI) meraih Juara I tingkat Kota Sibolga dan Juara Harapan III tingkat Provinsi. Sementara itu, di Vokal Solo juga meraih Juara II di tingkat Kota Sibolga, dan Juara III lomba Olimpiade MIPA khususnya bidang studi IPA masing-masing atas nama peserta didik yang sama mewakili sekolah yaitu Sartika Wahyuni Samosir.
Bila mengenang masa lalu lagi, SD Swasta RK No.4 Sibolga itu telah didahului dengan prestasi guru-guru. Tahun 2003 Guru SD Swasta RK No.4 Sibolga itu atas nama Lemeri Sinaga di Tingkat Provinsi meraih Juara III pada Diklat Sistem Evaluasi Terstandar. Dan Elinus Waruwu meraih Juara I pada Diklat Guru SD/SDLB Pendidikan Budi Pekerti se-Sumatera Utara yang diselenggarakan dari tanggal 14 – 23 September 2003 di LPMP Medan. Dan hasil Diklat Budi Pekerti itu ketika dipidatokan kembali pada lomba Pidato Antar OKP dan SMU dalam rangka Hari Sumpah Pemuda ke-75 tahun 2003, di hadapan generasi muda se-Kota Sibolga dengan hasil yang sama yaitu meraih Juara I. Selanjutnya tahun 2005 Guru SD Swasta RK 4 Sibolga atas nama Baya Sitanggang, S.Pd. meraih Juara I Guru Berprestasi se-Kota Sibolga. Kemudian, hanya berselang dua tahun yaitu tahun 2007 kembali SD Swasta RK No.4 Sibolga meraih Juara I Guru Berprestasi se-Kota Sibolga atas nama Elinus Waruwu.
Tidaklah terlalu mengherankan prestasi-prestasi itu semua mengantarkan SD Swasta RK No.4 Sibolga mendapat pengakuan oleh Badan Akreditasi Sekolah Nasional dari Pemerintah Kota melalui Dinas Pendidikan Kota Sibolga dengan Nilai Akreditasi A (Amat Baik). Sertifikat Akreditasi Sekolah yang diterima terakhir oleh pihak sekolah berlaku untuk jangka waktu 4 (empat) tahun terhitung sejak 22 Nopember 2006 yang lalu. Keberhasilan dalam meraih prestasi di bidang pendidikan, sejak berdirinya SD Swasta RK No.4 Sibolga tahun 1989 yaitu telah banyak membawa nama baik sekolah, Yayasan Santa Maria Berbelaskasih, dan Kota Sibolga di Tingkat Provinsi. Pertanyaan sekarang, kapan nama Kota Sibolga akan berbicara di Tingkat Nasional melalui SD Swasta RK No.4 Sibolga? Sepertinya masih dalam perjuangan. Tetapi Kepala Sekolah dan Guru-guru SD yang satu ini punya tekad kebersamaan akan meraih Juara di Tingkat Nasional untuk masa-masa yang akan datang. Semoga ! * (ELINUS WARUWU).
READ MORE - SD Swasta RK No. 4 Sibolga Meraih Juara I Lomba Paduan Suara 2008
Author: Anonim
•Minggu, April 27, 2008
“Perayaan Liturgi dapat diibaratkan seperti sebuah batterai yang mengandung energi dan dapat menjalankan alat-alat elektronik apa saja. Ketika energi batterai itu lemah kita perlu mencas kembali sehingga tetap masih bisa batterai itu difungsikan… Perayaan liturgi demikian pula, harus dirasakan sebagai sumber kekuatan-puncak perayaan hidup lahir batin…”

Pernyataan itu diutarakan oleh Pastor Bernardus Telaumbanua, OFM Cap di ruang pertemuan Asmika jalan Mgr. Albertus SJ, 23 Sibolga. Di hadapan 43 orang Pengurus Gereja (Petugas Awam) Paroki Katedral St. Theresia dan St. Yosef Keuskupan Sibolga yang mengikuti kursus liturgi selama dua hari, 26-27 April 2008. Pastor Bernard menjelaskan banyak hal dengan berbagai pembaruan yang menjadi fokus pertemuan Kursus Liturgi, bahwa perayaan liturgi menjadi sumber daya ilahi yang memberikan kekuatan (batterai) dalam jiwa orang beriman. Melalui perayaan liturgi, orang beriman (umat percaya) tersebut senantiasa siap sedia menjalani hidup harian dengan segala suka duka dan dapat menghasilkan buah-buah kebaikan.

Menurut Pastor Bernard perayaan liturgi bukanlah acara yang abstrak melainkan konkrit atas kehidupan. Liturgi menjadi sumber kekuatan dalam menghayati iman yang hidup. Pengalaman manusia diangkat sebagai kesatuan dengan Allah melalui perayaan liturgi itu sendiri, baik pengalaman suka maupun duka. Artinya pengalaman manusiawi kita menjadi dasar liturgi dan sarana untuk beribadat kepada Allah, singkatnya liturgi itu ditempatkan sebagai puncak perayaan hidup kita. Semboyan teologis “lex credendi, lex orandi, dan lex vivendi” dalam hal ini perlu diterapkan. Lex credendi maksudnya : bagaimana beriman dan menentukan cara kita beribadat dalam menghidupkan iman itu sendiri. “Kalau pelaksanaan perayaan liturgi di suatu Paroki kurang diperhatikan, maka kegersangan akan tumbuh dalam situasi Paroki itu, umat mulai malas ke Gereja, tidak merasakan liturgi itu sebagai puncak perayaan hidup… dan ini menjadi tantangan.” tegas Pastor Bernard.

Kelihatan sekali Kursus Liturgi ini direspon amat antusias oleh para Pengurus/ peserta kursus. Ketika diberi kesempatan bertanya, maka terungkap segala macam problem pertanyaan-pertanyaan yang tiada habis-habisnya, dimulai dari penghayatan soal mengikuti perayaan liturgi, adanya umat datang terlambat lalu ikut menyambut komuni, adanya umat berlutut setengah-setengah, adanya komuni orang sakit karena lebih lalu dibagi kepada umat yang ikut di situ, adanya komuni yang disimpan di tabernakel kemudian disajikan kepada umat, dan berbagai persoalan lainnya dalam memakai fasilitas altar bila hanya Ibadat Sabda yang dipimpin oleh Pengurus/ Petugas Awam.
Pertanyaan sengit itu semua ditampung dan dijawab dengan gaya liturgi sebagaimana telah ditekuni oleh Pastor Bernard, narasumber kali ini. Menjadi menarik, bahwa para Pengurus itu menuntut agar semua Imam harus mengikuti Kursus Liturgi sehingga pemahaman itu tidak sepihak. Banyak hal praktis harus diketahui oleh Imam secara seragam soal penerapan perayaan liturgi. Salah satu kejadian misalnya soal membaca bab-ayat menurut liturgi hal itu tidak perlu, fokus liturgi di sini lebih pada penekanan penghayatan menyimak-mendengar sapaan Tuhan melalui Sabda yang dibacakan, bukan pada bab atau ayat-ayat itu. Dalam hal kecil ini saja, perdebatan panjang lebar mulai muncul karena selama ini hal itu dirasakan umat sesuai kebutuhan. Bapak Marsel Mendrofa berkomentar, “Itu kan penting dibacakan Pastor, agar anak-anak bisa mencatat dalam buku Bukti Beribadat…lagi pula ada umat yang membawa Alkitab nah dengan itu bisa tahu di bagian mana bacaan itu tertera…” Jawaban praktis Pastor Bernard, “Ok saya bisa memahami kalian, tetapi seharusnya anak-anak mendengar dan menghayati semua bunyi Sabda Tuhan ketika dibaca, tak perlu menulis saat itu karena mengganggu… jadinya hati terfokus di buku Bukti Ibadat. Soal adanya umat membawa Alkitab seperti kita lihat dengan umat gereja tetangga, kita juga tidak larang. Tetapi hendaknya diingat, ada efek bila Pembaca salah di depan maka umat yang mengikuti bacaan tersebut mau tidak mau terpancing untuk mau menyalahkan, bisa jadi mulutnya bunyi ketika mendengar salah baca dan sebagainya…Nah ini perlu dihindari. Kita harus betul-betul tenang-hening-konsentrasi agar sapaan Tuhan itu mengena dalam hati kita.”

Lebih jauh Pastor Bernard mengemukakan beberapa faktor yang mendukung partisipasi aktif perayaan liturgi, yaitu melakukan liturgi secara benar sesuai aturan yang telah ditetapkan oleh Gereja. Bentuk partisipasi misalnya, memilih lagu yang tepat/ sesuai masa liturgi dan tema bacaan pada hari yang bersangkutan. Kemudian, perlu persiapan diri untuk melakukan tugas dalam ikut berliturgi. Dalam hal ini Pastor Bernard berpesan, “Petugas bacaan I, II, Pemilih lagu, Pemazmur, Pembersih gereja, Penulis pengumuman, Pengkhotbah dan sebagainya, seharusnya mempersiapkan diri jauh hari sebelum perayaan dimulai, dan bukan pada menit-menit menjelang dimulainya upacara.”
Selain persiapan diri, perlu ketika mengikuti perayaan liturgi sikap hadir secara utuh. Maksudnya menghadirkan jiwa dan raga penuh persiapan secara utuh baik lahir maupun batin. “Yang berdoa dalam liturgi adalah diri kita dengan tubuh dan jiwanya, maka kalau bernyanyi ya bernyanyilah dengan sepenuh hati, berdoa sepenuh jiwa, dan segenap tenaga. Kesemuanya diarahkan pada kehadiran yang utuh. Sering terjadi, umat berdoa dengan bibirnya saja tetapi hati dan pikirannya melayang entah ke mana-mana…” tegas Pastor Bernad yang membuat Peserta Kursus tertawa.
Banyak hal lain yang diutarakan dalam kursus liturgi itu. Menyangkut hal-hal praktis dalam bersikap, seperti sikap saleh (berjalan-berdiri-membungkuk-memberi hormat-berlutut-duduk) dalam perayaan Ekaristi. Masih adanya Imam atau Petugas Awam yang membaca bab, ayat, kemudian mengakhiri Injil/ Bacaan dengan bernyanyi Berbahagialah orang yang mendengarkan Sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya… Lalu setelah dijawab, Imam/Petugas Awam masih meneruskan Demikianlah Sabda Tuhan… Nah…ini adalah kesalahan-kesalahan yang perlu pemahaman, baik oleh Pastor/ Imam maupun umat kita.

Menyinggung soal Perayaan Ibadat Sabda, dalam hal ini sikap merayakan Tata Perayaan Ibadat Sabda tanpa Imam di stasi-satasi yang dipimpin oleh awam, Petugas Awam (sebutan : Lektor/ Voorhanger) tidak boleh memakai altar termasuk duduk di belakang altar (Panti Imam), tetapi didesain sedemikian rupa/ duduk menyamping dan tidak persis berhadapan dengan umat. Pastor Bernard juga menjelaskan pemakaian mimbar utama, dan tempat-tempat duduk para petugas lainnya, termasuk apa yang boleh dan tidak diperkenankan untuk dilakukan oleh Petugas Awam dalam kegiatan doa lingkungan. Selamat berliturgi ! * (ELINUS WARUWU)
READ MORE - Liturgi Sumber dan Puncak Perazaan Hidup Gereja
Author: Anonim
•Selasa, April 22, 2008
Pelaksanaan lomba bercerita tingkat SD se-Kota Sibolga berlangsung dengan baik di lapangan Simaremare. Perlombaan berlangsung hari Selasa 25 Maret 2008 dalam rangka memeriahkan hari jadi Sibolga ke-308. Ibu Hj. Subiarti yang membuka secara resmi perlombaan itu, menegaskan dasar pelaksanaan lomba adalah Keputusan Walikota dan program sekretaris daerah kota Sibolga hasil kerjasama Kepala Kantor Perpustakaan sebagai pelaksana.

Lebih jauh dalam sambutan tanpa teks, Ibu Hj. Subiarti mengemukakan bahwa tujuan pelaksanaaan lomba yaitu untuk mengembangkan kebiasaan membaca di tingkat Sekolah Dasar. Kata beliau, “Perlombaan ini tetap dilaksanakan sebagai kegiatan rutin setiap tahun, oleh karenanya kami mengharapkan anak-anak dapat tumbuh dan berkembang untuk peduli terhadap lingkungan hidup. Saya mengajak anak-anak agar meningkatkan minat baca dan aktif berpatisipasi dalam menjaga lingkungan baik pekarangan di rumah, sekolah, maupun masyarakat. Bila lingkungan hidup kita sudah aman, maka sudah pasti mewujudkan Kota Sibolga yang berwawasan lingkungan .”

Masukan untuk Panitia Lomba

Pelaksanaan lomba terlihat secara umum berlangsung baik, hanya sayang ketentuan waktu yang hanya 5 menit itu membatasi kreatifitas anak. Sepintas pelaksanaan lomba terlihat terburu-buru seperti dikejar-kejar oleh waktu yang lima menit itu. Seperti penampilan Sartika Wahyuni Samosir siswi kelas V SD Swasta RK No.4 Sibolga yang bercerita dongeng Kiki Pengganggu Tanaman. Penyapaan teman-teman, Dewan Juri, Bapak Guru setengah menit. Ringkasan cerita 4 menit dan penutup 1 menit. Dari pengamatan yang dilakukan dengan alat stopwatch, Panitia sudah mengehentikan anak itu pada 5 menit 24 detik 21 sekon. Sementara terlihat Ibu Hj. Subiarti sebagai Dewan Juri melihat Panitia heran, tetapi Panitia itu semakin besar suara agar anak itu menghentikan kata-kata akhirnya. Ini sebenarnya kesalahan Panitia, anak itu sangat bersemangat tetapi dengan penghentian itu membuat suasana tidak enak bagi anak dan guru pendamping. Dengan kata lain, tujuan dan sasaran Panitia Lomba agar dapat menumbuhkan minat dimatikan oleh Panitia 5 menit.

Dari pantauan Cerdas, terlihat menceritakan dongeng dengan memakai waktu 5 menit tidak masuk akal atau kurang logis. Karena bercerita itu sebenarnya minimal terbagi 3 bagian, yaitu pembukaan/pengantar minimal 1 menit, isi cerita minimal 5 menit, dan penutup minmal 1 menit. Ini sudah singkat sekali. Jadi, kalau dihitung paling sedikit waktu harus diberikan oleh Panitia 7 menit. Ini belum lagi diperhitungkan waktu tak terduga, yaitu waktu molor karena anak semangat bercerita, bisa saja dia lupa bahwa waktu sudah habis. Kalau kita lihat, pelaksanaan lomba dimulai pukul 09.00 Wib, ternyata acara pembukaan saja baru dimulai pukul 09.25 Wib. Nah, begitulah terjadi ketidaktepatan waktu akibat beberapa orang anak, pada saat hari H (Lomba) ada yang baru mendaftar, sehingga keterlambatan molor waktu itupun tidak bisa dielakkan.

Untuk masa yang akan datang, kita semua berharap kepada Panitia, agar lewat surat edaran atau teknik meeting dilaksanakan. Termasuk petunjuk-petunjuk pemakaian waktu, sangat perlu disosialisasikan kepada peserta, dan sejauh mana kebebasan peserta dalam menentukan cerita yang akan ditampilkan. Sukses bagi Panitia, semoga lebih baik lagi pada saat-saat mendatang ! (Peliput : ELINUS WARUWU).

READ MORE - Lomba Bercerita Tingkat SD 2008 Berlangsung Baik
Author: Anonim
•Minggu, April 20, 2008
Baru-baru ini, 18 April 2008 sebanyak 6 orang siswi SMA Katolik Sibolga ditugaskan oleh gurunya dari sekolah. Keenam siswi ini mempraktekan bagaimana menjadi seorang kuli tinta alias wartawan. Dan tidak tanggung-tanggung, mereka membawa satu tape recorder untuk merekam jawaban narasumber. Keenam kuli tinta ini memilih Elinus Waruwu (penulis berita liputan) sebagai narasumber, yang tinggal di jalan Barus Km 2,4 Nomor 153 Desa Mela I Kota Sibolga. Sekitar pukul 12.30 Wib mereka ini sudah menunggu di rumah dan menantikan narasumber datang dari sekolah.

Pada mulanya, mereka tampil agak malu-malu, dan setelah satu orang memberitahu tujuan kedatangan dan bertanya apakah boleh mewawancarai, akhirnya kelihatan wajah cerah karena ada lampu hijau tanda boleh. Langkah menarik, bahwa mereka memperkenalkan diri satu per satu, kemudian sudah menyiapkan tape recorder mini, dan masing-masing telah menyiapkan daftar pertanyaan dan catatan jawaban-jawaban narasumber. Yah, kelihatan mereka sangat serius, dan sepertinya berbakat menjadi kuli tinta.
Banyak pertanyaan yang mereka lontarkan, antara lain bagaimana cara-cara belajar yang baik ? Apa yang harus dilakukan oleh para pelajar agar bisa berhasil ? Apa saja sikap guru yang baik sekarang ini ? Apa yang mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar ? dan lain sebagainya.

Bagi narasumber sendiri, tugas seperti ini perlu diberikan sebagai awal menjadi penulis pemula. Bila latihan mewawancarai seperti ini dilakukan secara rutin, dan kemudian dituangkan dalam tulisan entah itu laporan, kemungkinan besar siswa-i kita akan berkembang dan pelan-pelan menjadi penulis yang handal di kemudian hari. Bagus dan selamat ! Bila ada lagi yang mencoba untuk menulis, usahakan gunakan rumus 5 W + 1 H, kemudian ikuti jawaban-jawaban Narasumber, dan mana konsep Narasumber yang tidak mengerti atau perlu ditanyakan, itulah yang kita kejar dengan pertanyaan. Singkatnya, perlu pertanyaan panduan yang sudah disiapakn, dan lebih penting lagi pertanyaan memburu informasi ketika sedang wawancara.

Senang bertemu dengan penulis pemula, kita semua sama-sama belajar. Long Life Education. Thank you ! See you again. Liputan : Elinus Waruwu.(Erw).

READ MORE - Enam Siswi Berbakat Menjadi Kuli Tinta
Author: Anonim
•Minggu, April 20, 2008
“Saya mohon kepada kita semua khususnya Dewan Juri, agar lebih teliti dan transparan. Kita mengharapkan juara I lomba nanti dapat membawa nama baik Kota Sibolga di tingkat Provinsi. Untuk itu, mohon bertanggungjawab dan jangan berjawab tangggung.”

Pernyataan itu diutarakan oleh Drs. H. Nurdiswar B. Jambak selaku Kasubdikjar Dinas Pendidikan Kota Sibolga, pada 18 April 2008 ketika membuka secara resmi acara perlombaan, sekitar pukul 14.00 wib. Beliau menyampaikan arahan-arahan pada pelaksanaan lomba kretifitas menulis dan membaca puisi bagi siswa-i tingkat SD se-Kota Sibolga tahun 2008. Menurut Pak Jambak ada sekitar 60 orang siswa-i tingkat sekolah dasar (SD) sederajat turut ambil bagian dalam lomba itu, dan diharpkan terpilih satu yang terbaik untuk dibina dan kemudian menjadi peserta lomba di tingkat Provinsi nanti.

Untuk itu penilaian harus dilakukan dengan baik, kita semua mengharapkan lebih baik dan bagus. Dan kita mengucapkan selamat nanti kepada para Juara, setelah selesai perlombaan itu, agar ke depan yang menjadi Juara I Kota Sibolga menuju perlombaan ke Tingkat I Provinsi sampai ke Tingkat Nasional. * Elinus Waruwu.(Erw)

READ MORE - Jangan Berjawab Tanggung
Author: Anonim
•Senin, April 30, 2007

PERAYAAN PASKAH OIKUMENE

KOTA SIBOLGA

Hari Minggu, 28 April 2007 di lapangan Simaremare telah berlangsung perayaan Paskah Oikumene sebagai bagian dari kegiatan Pemko Sibolga, di mana setiap tahun perayaan itu selalu dihadiri oleh Bapak Walikota Drs. Sahat P. Panggabean MM, Humas Edison Sitorus, Wakil Walikota H. Afifi Lubis SH, serta Muspida Plus Pemko Sibolga. Hadir juga Ketua BKAG, FKPA, dan DPRD Kota Sibolga. Kegiatan perayaan Paskah Oikumene tersebut diawali prosesi dengan titik kumpul di Gereja Katolik Katedral Santa Theresia jalan Katamso, sekitar pukul 12.30. Doa kegiatan prosesi dipimpin oleh Pastor Alfons Ampu Pr dan terlihat banyak jemaat/ umat turut ambil bagian bergerak bersama-sama menuju Simaremare tempat puncak perayaan paskah.

Setiba di lapangan Simaremare Tety Manurung membawakan puji-pujian, menghibur sekaligus mengajak peserta memadahkan syukur kepada Tuhan. Ibadah diawali dengan lagu Song Leader dan lagu pujian oleh pemenang I vokal solo putri. Sambil pemuda-i membawa simbol-simbol ibadah untuk diantarkan ke Altar atau panggung kehormatan, diiringi lagu instrumen Kidung Jemaat nomor 368 : 1-3 dengan hikmah.

Selanjutnya, pembacaan narasi oleh Ibu Pdt. Novalinda R. S.Th dan Bapak Pdt. D. Situmeang secara bergantian. Ada 5 simbol menarik yang ditampilkan pada perayaan itu, satu Alkitab yang berisikan tulisan diyakini bermanfaat untuk mengajar – menyatakan kesalahan – memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran, kedua Salib yang merupakan lambang kekuatan Allah di mana telah menaklukan maut, sekaligus sebagai lambang pengampunan dan pemulihan hubungan manusia dengan Allah dan sesamanya. Melalui salib Yesus menunjukan kekuatan Cinta Kasih-Nya yang begitu besar (nilai rela berkorban), ketiga Lilin sebagai terang yang mengingatkan jemaat/ umat akan keteladanan Yesus Kristus yang rela menderita – tulus berkorban untuk menjadi terang bagi sesama, keempat Bunga dan Kemenyan sebagai lambang persembahan dalam kehidupan sehari-hari yang mengharumkan nama Tuhan, kelima Telur paskah merupakan lambang perayaan paskah ibarat seekor ayam yang baru menetas, dalam hal ini diyakini sebagai kehidupan baru untuk setiap orang yang menyambut Kristus. Dalam arti Kristus yang telah bangkit.

Pelbagai acara pada perayaan Paskah Oikumene tersebut secara teratur, mulai dari pujian, menyanyikan kidung jemaat, votum, paduan suara, nyanyian madah bakti, responsoria, berita dan refleksi kebangkitan, pewartaan sabda Allah, doa syafaat, vokal group, lagu persembahan, pengutusan, doa Bapa kami, dan acara penutup ibadat yaitu berkat.

Hadir Sekolah dan Kelompok Kategorial

Dalam rangkaian acara ibadah itu, terlihat beberapa sekolah dengan pakaian dinas rapi turut serta ambil bagian, antara lain dari SMP Negeri 7, SMP Negeri 3, SMP HKBP, SMA Negeri 1, SMP Negeri 4, SMP Tri Ratna, SMK Negeri 1, SMA HKBP, SMK HKBP, dan SMP Negeri 6 kesemuanya sekolah yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Pemerintah Kota (Pemko) Sibolga.

Cerdas juga melihat beberapa kelompok organisasi kategorial agama Kristen yang ikut hadir, antara lain BKPN – SBG, HKBP Sibolga Julu, GSJA Rawang 2, KODIM 0211/TT, GKPI Jalan Pari, GPSI Pemancar TVRI, GKP Aek Habil, Gereja Pentakosta Indonesia jalan Gambolo/ Peralihan, GTDI Sibolga, GJKI Sibolga, GKI Sumut Sibolga jalan Agus Marpaung No.5, dan BNKP Aek Habil.

Petran Koor dan Hiburan

Selain perwakilan kelompok dari setiap gereja itu, ada juga kelompok khusus Paduan Suara seperti Petra Nauli disingkat Petran binaan Pak Walikota. Salah seorang anggota Petran Koor itu, dan aktif sampai sekarang adalah Drs. Rustam Manalu (Staf Redaksi Tabloid Cerdas) dan Wakil Kepala Dinas Pendidikan Kota Sibolga.

Ketika Cerdas bertanya kepada Pak Manalu tentang kelompok Koor yang beranggotakan kaum bapak itu, beliau menjelaskan, “Yah, kelompok Koor ini ada 35 orang anggota dan semuanya kaum bapak. Ada 3 orang pembina yaitu Drs. Sahat P. Panggabean MM (Walikota), Mayor J. Purba (Kasdim), dan AKBP Hotman Silalahi, SH (Kapolresta). Ketua Petran Koor saat ini adalah Panusunan Hutabarat (Diruk PAM), sekretaris Charli Sinambela (Kabag Umum Pemko), bendahara Tarihoran (Wiraswasta), dan dirigen yang selalu setia melatih yakni Martua Manik, S.Th.

Ada juga paduan Suara Gabungan Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, dan tidak kurang dari 200 orang anggota paduan Suara Ina HKBP Distrik IX. Pada Paskah Oikumene tahun 2007 itu, terlihat puluhan Pendeta hadir memimpin ibadat, dan paduan Solider atau suara khusus yang tetap berada di atas pentas sebanyak 7 orang dari Gereja Bethel Indonesia.

Selesai acara Ibadat, maka disambung dengan rangkaian acara umum. Pada sesi ini, Tety Manurung tampil menghibur dan menyanyikan beberapa lagu-lagu pujian. Pada kesempatan itu, penyanyi tersohor nasional Tety Manurung memanggil dan mengundang Pak Walikota ke pentas untuk duet atau bernyanyi bersama.

Begitulah “Tetty–Sahat” yang tampil bareng bernostalgia itu, mengundang perhatian ribuan jemaat/ umat yang berada di lapangan Simaremare Sibolga. Sudah barang tentu membuat suasana semakin meriah dan tepuk tangan para hadirin serta sorak sorai tak bisa dibendung lagi. Tety Manurung yang spesial datang dari Jakarta untuk merayakan pesta perayaan Paskah Kota Sibolga, tampil memukau dan mengubah suasana dengan luar biasa meriah.

Tety juga beraksi turun dari panggung – mengajak para hadirin (baca: penonton) bernyanyi dengan judul “Dia Itu Tuhan Kita”. Terlihat serta merta penonton berdiri dan goyang lewat lagu rohani yang dinyanyikan Tety saat itu. Ketawa, canda ria, gembira, bahagia, dan senang. Kata Tety, “Bila mau masyarakat Kota Sibolga cabut gigi, silahkan datang ke Jakarta. Tetty bersedia membantu. Dan bila giginya dicabut dua, gratis satu… tidak dibayar.” (Maaf, Cerdas juga mau bergurau dan bertanya : Bagaimana penggemar Tety, apakah anda mau opong dibuat Tety ? Bila ya, tunggu apa lagi… datanglah ke Jakarta. Semakin sering cabut gigi, maka bukan hanya gigi anda yang opong tapi kantongnya juga ikut opong…ha…ha…ha…ha…).

Pemberian Hadiah dan Drama Penyaliban

Ada 2 hal yang dilaksanakan pada rangkaian acara penutupan Perayaan Paskah Oikumene tahun 2007 itu. Pertama, pemberian hadiah berupa 1). ulos Batak bagi 11 orang Donateur Dana yang telah berjasa dalam pelaksanaan perayaan Paskah, seperti H. Afifi Lubis SH Wakil Walikota Sibolga dan yang lainnya. 2). Tropy pemenang lomba nyanyi – CTA Sekolah Minggu – Remaja Putra/ Putri. 3) Pemberian Tali Kasih bagi 49 Gereja yang sudah bergabung di BKAG sebanyak 3 orang setiap gereja.

Kedua, drama kisah sengsara Yesus dalam sejarah Alkitab/ Kitab Suci, mulai dari penjatuhan hukuman mati kepada Yesus karena tuntutan masyarakat orang Yahudi – pertemuan Yesus kepada Pilatus – peletakan mahkota duri di kepala Yesus – pemanggulan salib di mana Yesus jatuh sampai tiga kali – Veronika mengusapi wajah Yesus, sampai akhirnya Yesus dipaku di kayu salib. Sebuah tragedi yang penuh dengan adegan-adegan menyedihkan. Banyak jemaat/ umat menyaksikan penyiksaan Yesus yang tidak adil itu, menangis dan meneteskan air mata. Ingat nasihat Yesus, “Jangan tangisi Aku, tetapi tangisilah anak-anakmu dan keluargamu…

Refleksi dan Kesimpulan

Yesus yang diimani oleh orang Kristen itu, telah wafat, disiksa dan dikubur. Namun Yesus tidak menyerah dan tetap setia kepada Allah Bapa. Satu hal yang sulit diterima akal manusia, mengapa orang yang baik seperti Yesus harus menjadi kurban bagi orang fanatik dan masyarakat Yahudi yang jahat itu ? Juga, bagi kita orang-orang yang berdosa di dunia ini ? Hanya waktu yang mampu menjawab pertanyaan yang satu ini.

Hikmah dari semua peristiwa Paskah itu, bahwa siapa yang setia, dan mampu melakukan yang baik sekalipun kepada saudara hina dina (masyarakat kecil dan miskin), dialah yang selamat dan bisa menikmati ketenangan batin dan jiwa. Yesus sebagai bukti nyata, beliau menderita ditangkap-dihukum-disiksa hingga meneteskan darah dan wafat di kayu salib yang hina. Namun, apa hasil perjuangan-Nya ? Yesus mampu mengalahkan maut, setia kepada Allah Bapa, dan bangkit dimuliakan dalam kehormatan tak ternilai harganya. Beliau diperkenankan duduk di sebelah kanan Allah Bapa.

Banyak orang sehat, tidak seperti orang cacat. Namun adanya orang cacat mampu berbuat, bahkan kenyataan bisa menjadi juara diberbagai perlombaan, membuktikan kepada seluruh jemaat/ umat, bahwa kita pun bisa bangkit dari keterpurukan dan berbagai kesombongan, mari berpaskah bersama Tuhan, sebab dalam kasih-Nya, kita menemui kelimpahan dan tak berkekurangan.

Mari kita memahami tema Paskah tahun 2007 yang dikutip dalam kitab suci Roma 6 : 11, “Kamu telah mati bagi dosa tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus,” Dan ditambahkan dalam sub tema, “Dengan semangat kebangkitan Kristus, kita bangkit dari segala keterpurukan, membangun habitus baru dan mewujudnyatakan Sibolga yang aman sejahtera rukun dan indah (asri)”. Seorang Tokoh Kudus Santu Fransiskus dari Kota Asisi Italia yang sesungguhnya telah banyak berbuat baik, tetapi merasa belum cukup dibanding dengan apa yang telah dilakukan oleh Yesus itu, merasa terpanggil untuk menyuarakan kembali sebuah himbauan. Beliau mengajak sesama dan semua orang yang berkehendak baik dengan berkata, “Salam Saudara, Pace E Bene ! Mari, kita bangkit dan mulai berdamai, berbuat baik sekali lagi, karena sampai saat ini kita belum berbuat apa-apa….. ” Selamat Paskah ! *(ELINUS WARUWU/ Cerdas).

READ MORE -
Author: Anonim
•Senin, April 23, 2007

BERLANGSUNG DENGAN ATLAS

Laporan : Elinus Waruwu

Pelaksanaan Ujian Nasional di sekolah-sekolah Pemko Sibolga berdasarkan pantauan Cerdas, berlangsung dengan ATLAS (aman, tertib, lancar dan sukses, istilah Pak Jambak sebagai Nara sumber Cerdas). Walaupun hari pertama, 17 April 2007 terlihat Kota Sibolga mendung disertai hujan rintik-rintik, namun semuanya telah terkoordinasi dengan baik. Terbukti dari beberapa persiapan, mulai dari jajaran Dinas Pendidikan sampai unit sekolah-sekolah SLTA se-Kota Sibolga telah siap siaga dalam mempersiapkan segala sesuatu menyangkut pengawasan dari Dinas Pendidikan, Tim Pengawas UN Rayon 17, dan Tim Pemantau Independen. Sampai berita ini diturunkan, belum terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam pelaksanaan UN Tingkat SLTA se-Kota Sibolga.

Untuk tahun 2007 kali ini, Dinas Pendidikan membentuk Posko UN selama tiga hari, dari 17 – 19 April 2007. Terlihat selama tiga hari pelaksanaan UN selalu ada dua orang Pegawai Dinas Pendidikan yang duduk di satu meja Posko, melaksanakan tugas dan mengantisipasi bilamana ada laporan-laporan tentang data-data dan kegiatan dalam hal pelaksanaan UN itu. Menurut keterangan yang diperoleh Cerdas, Dinas Pendidikan kali ini telah siap mengamankan dan mengantisipasi segala kemungkinan-kemungkinan, sehingga pengelolaan UN tahun 2007 ini benar-benar tidak memberi peluang untuk bermain curang, tetapi justuru sebaliknya harus mendapat pengawasan yang ketat, akuntabel, dan transparan. Data Selasa, hari pertama pelaksanaan UN Pemko Sibolga memantau 5 sekolah, yaitu SMA HKBP, SMA Negeri 3, Sekolah Madrasah Aliah Negeri (MAN), SMK Negeri 1, dan SMA Negeri 1 Sibolga.

Pada hari Rabu, 18 April 2007 H. Afifi Lubis, SH Wakil Walikota, Drs. H. Juneidi Tanjung, M.Pd (Pak Kadis), dan Edison Sitorus (Humas Pemko) Sibolga melaksanakan pemantauan UN di beberapa sekolah lainnya. Keberangkatan rombongan diawali dari Kantor Walikota Sibolga sekitar pukul 08.00 Wib, dan mengunjungi langsung beberapa kelas/ sekolah. Pemantauan pelaksanaan UN hari kedua itu, dimulai dari SMK Negeri (TI) 2 Sibolga, terus menuju ke Perguruan Darur Rahmad, lalu ke SMA Negeri 2 Sibolga, dan terus ke Perguruan Muhammadyah jalan Dame Sibolga.

Cuaca yang begitu cerah hari kedua UN sangat mendukung kegiatan dalam rangka pemantauan, bahkan semua berjalan aman, dan lancar-lancar saja. Bapak Haji Afifi Lubis, SH ketika memasuki ruangan peserta UN selalu menyapa, “Selamat pagi !” Kemudian ketika meninggalkan ruangan Pak Afifi inipun tetap menasehati, “Kerjakan bagus-bagus, nomor ujian dicek atau diperiksa baik-baik, dan jangan lupa selalu berdoa kepada Tuhan !” Setiap kali kata-kata nasehat itu terlontar, terlihat wajah peserta UN gembira, para siswa semakin bersemangat untuk semakin giat menyelesaikan soal-soal UN tersebut. Kunjungan Bapak Wakil Walikota beserta rombongan itu kurang lebih sekitar 5 – 10 menit setiap sekolah. Hanya pada sekolah terakhir agak lama, yaitu istirahat sebentar di kantor Kepala Sekolah Perguruan Muhammadyah. Di sekolah itu Wakil Walikota beserta rombongan disuguhi minum dan sneck ala kadarnya. Terasa bahwa kunjungan itu begitu menyenangkan. Beberapa Wartawan seperti dari RRI Sibolga, Koran Waspada, Kamerawan Pemko, dan Jurnalis Cerdas turut serta ambil bagian meliput memont penting itu.

Pelaksanaan UN

Pelaksanaan UN Tingkat SLTA sudah berjalan dengan aman dan baik. Di setiap sekolah Tim Pemantau Independen (TPI) mengakui bahwa pelaksanaan UN SLTA se-Kota Sibolga tahun 2007 berjalan aman dan belum menemukan ada kejanggalan-kejanggalan, kata salah seorang Tim Pemantau, “Yah, kami telah memantau, dan semua berlangsung dengan baik, pengelolaan UN tahun ini lebih baik dan belum ada ketidakberesan kami temukan dalam hal ini.

Untuk lebih tahu sejauh mana keadaan pelaksanaan UN Tingkat SLTA se-Kota Sibolga, seusai pemantauan di lapangan, Cerdas berhasil mewawancarai Drs. H. Nurdiswar Jambak. Beliau adalah Kasubdis Dikjar Dinas Pendidikan Kota Sibolga dan menerima Cerdas di Kantor Dinas Pendidikan jalan Tuanku Dorong Hutagalung, 4 Kota Sibolga. Berikut kita ikuti hasil Wawancara Cerdas bersama Pak Jambak.

Cerdas : Selamat siang Pak Jambak, bagaimana keadaan Bapak sekarang ini ? Apakah sehat-sehat, Pak ? Jangan-jangan Bapak stres karena UN Tingkat SLTA.

Pak Jambak : (Beliau ketawa…ha…ha…ha…ha…) Selamat siang ! Sampai saat ini kita dalam keadaan sehat-sehat, Pak. Saya kira Cerdas datang juga ke kantor ini karena sehat kan ? (Pak Jambak bergurau, Cerdas pun ketawa ).

Cerdas : Begini, Pak. Pelaksanaan UN Tingkat SLTA sejauh ini Cerdas melihat sudah berjalan aman dan baik, ini juga kesan Tim Pemantau Independen di beberapa sekolah. Bapak selaku Kasubdis Dikjar tentu punya pandangan yang mungkin berbeda dengan Cerdas, Nah bagaimana apresiasi Bapak melihat sekolah SLTA secara umum se-Kota Sibolga ?

Pak Jambak : (Pertanyaan Cerdas ini mau menjebak ya ?) Sebenarnya pendapat kita sama juga, tidak ada mungkin berbeda. Saya melihat bahwa secara umum pelaksanaan UN Tingkat SLTA itu sudah berjalan dengan baik, Peserta UN mengikuti dengan penuh disiplin, tekun, tertib, dan konsentrasi. Harapan kita siswa akan berhasil lulus (Alhamdulillah…).

Cerdas : Bapak mungkin bisa menjelaskan, bagaimana cara pembagian tugas dalam melakukan Pengawasan UN 2007. Apa yang telah disusun/ dibuat oleh Dinas Pendidikan untuk menyukseskan tugas di lapangan ?

Pak Jambak : Untuk pengawasan UN 2007, Dinas Pendidikan memberdayakan guru-guru SLTA Negeri/ Swasta sesuai kebutuhan. Setiap 1 ruangan, diawasi oleh 2 orang Guru Pengawas. Dan pengawasan sistem silang murni, antar Sub Rayon.

Cerdas : Pada tahun 2007 kali ini, Cerdas melihat langsung ada Tim Pemantau Independen (TPI). Apa tanggapan Bapak kepada Tim Pemantau Independen tersebut ?

Pak Jambak : Saya kira Tim Pemantau Independen itu cukup baik. Sebab mereka dapat mewanti-wanti pelaksanaan UN dari kecurangan dan pelanggaran. Nah, dengan demikian peran TPI itu akan melahirkan kejujuran.

Cerdas : Setelah berlangsungnya kegiatan pelaksanaan UN di sekolah-sekolah, apakah ada laporan-laporan sebagai kesimpulan sementara yang dapat diperoleh dalam pelaksanaan UN Tingkat SLTA tersebut ?

Pak Jambak : Yah, pertama penyelenggaraan UN telah berlangsung dengan baik dan aman, kedua peserta UN cukup disiplin, dan fokus mengerjakan soal-soal. Saya kira begitu.

Cerdas : Apakah ada kejanggalan-kejanggalan teknis yang terjadi di lapangan atau di setiap sekolah penyelenggara UN ?

Pak Jambak : Hasil monitoring dan laporan Posko UN sampai sekarang, tidak ditemukan kejanggalan. Apakah Cerdas telah menemukan ada yang tidak beres ? (Cerdas diwawancarai, kali ini Nara sumber menjadi Wartawan).

Cerdas : Wah, belum Pak. Justuru karena pengelolaan semua beres, maka Cerdas ingin tahu lebih banyak. Misalnya saja, Cerdas melihat Pak Wakil Walikota bersama rombongan Staf Pemko turut serta meninjau kegiatan pelaksanaan UN 2007 seperti tahun-tahun sebelumnya. Apakah ada hal yang istimewa dari kunjungan dari Wakil Walikota Pemko kali ini ?

Pak Jambak : Tidak ada yang istimewa, yang jelas Pemko memperhatikan dan memberi semangat terhadap peserta UN untuk dapat berhasil.

Cerdas : Sekolah-sekolah mana saja yang dipantau oleh Pemko Sibolga pada hari pelaksanaan UN 2007 ini ?

Pak Jambak : Ada beberapa unit sekolah atau tempat yang dapat dipantau selama dua kali kunjungan pada pelaksanaan UN itu. Hari pertama : SMA HKBP, SMA Negeri 3, Sekolah Madrasah Aliah Negeri (MAN), SMK Negeri 1, SMA Negeri 1, lalu hari kedua SMK Negeri (TI) 2 Sibolga, Perguruan Darur Rahmad, SMA Negeri 2 Sibolga, dan Perguruan Muhammadyah jalan Dame Sibolga. Hari ketiga, tidak lagi karena semua sudah berjalan lancar, aman, dan tertib.

Cerdas : Saya tahu belum ada indikasi kecurangan dalam pelaksanaan UN kali ini, apa lagi belum ada kita dengar ada Guru-guru membantu siswa. Seandainya dalam UN itu nanti ada siswa-i yang tidak lulus, karena standar kelulusan minimal 5,00. Nilai itu kan sulit dicapai Pak. Nah, bagaimana solusi atau cara mengatasi hal itu ?

Pak jambak : Memang itu sudah ada aturan, dan kita jelas harus melaksanakan petunjuk sesuai kenyataan. Bahwa apabila ada siswa tidak lulus Ujian Nasioanl (UN), maka siswa di sekolah tersebut dapat mengikuti UN tahun depannya atau wajib mengulang di kelas III selama satu tahun lagi.

Cerdas : Menurut Bapak, apakah persiapan pelaksanaan UN tahun 2007 kali ini lebih baik bila dibandingkan tahun 2006 yang lalu ?

Pak Jambak : Yah, saya kira secara optimal sudah kita lakukan, bahkan sudah berupaya lebih baik.

Cerdas : Apakah sekolah-sekolah sudah betul-betul siap menyukseskan UN 2007 ? Apa harapan Bapak kepada pihak sekolah dalam hal pelaksanaan UN itu ?

Pak Jambak : Seluruh sekolah sudah final persiapannya. Saya harapkan agar UN berjalan dengan ATLAS.

Cerdas : Maksud Bapak, Peta dunia ya ? Atau barangkali UN itu sukses, dan kita meraih Juara I Tingkat Nasional. UN SLTA se-Kota Sibolga, berlangsung baik dengan nilai-nilai istimewa ya, Pak ?

Pak Jambak : Ha….ha…ha…ha… Bukan itu…bukan…! Ini istilah baru. ATLAS yang saya maksud adalah aman, tertib, lancar, dan sukses.

Cerdas : Oh…begitu, sory deh Pak. Terimakasih banyak, semoga semakin sukses dan tugas Bapak selalu ATLAS ! (Cerdas menutup pembicaraan. Rupanya Pak Jambak hebat juga buat akronim istilah baru yah…) * (Ewr/ Cerdas).

READ MORE - Ujian Nasional Tingkat SLTA se-kota Sibolga